Hey, Takaiters!

Belakangan ini, istilah Zero Waste Lifestyle makin familier di tengah masyarakat. Bahkan nih, enggak sedikit juga orang yang sudah mulai menjadi penggiatnya, lo!

Well, istilah tersebut sebenarnya merujuk pada suatu gaya hidup yang meminimalisir penggunaan ‘bahan’ yang dapat memperparah kerusakan lingkungan.

Istilah ini mampu bergaung akibat dari semakin banyaknya orang yang aware dengan tingkat krisis lingkungan kita saat ini. Singkatnya, konsep Zero Waste ini merupakan gaya hidup yang minim—kalau bisa —tanpa sampah.

Kerennya lagi, istilah minim sampah ini tuh bisa banget buat diterapkan ke banyak aspek kehidupan kita sehari-sehari. Salah satunya adalah konsep memasak yang biasanya disebut: Zero Waste Cooking.

Terdengar positif, ya, kan? Tetapi, kita perlu tahu juga kalau konsep ‘baik’ yang diusung istilah ini banyak yang nyinyirin, lo! Nah, apa yang salah, sih, sama konsep keren ini sebenarnya?

Konsep Kelewat Utopis

Mengatasi krisis lingkungan itu adalah hal utopis
Utopis. Foto: Pixabay

Sejak bergaung secara serius di sekitar tahun 2009 silam, konsep gaya hidup minim sampah ini masih terus mendulang rasa pesimistis banyak orang. Istilah Zero Waste ini dianggap konsep yang kelewat utopis, alias sulit buat direalisasikan.

Hal itu masih terbilang wajar, memangnya bagaimana, sih, supaya hidup tanpa menghasikan sampah? Apa-apa dan di mana-mana ada sampah. Ditambah lagi denga fakta kalau kita masih sangat bergantung dengan hal-hal yang enggak ada sampahnya hari ini.

Nyatanya, sikap pesimistis itu enggak sepenuhnya salah juga. Selain fakta kalau kita ‘kecanduan’ buat nyampah tadi, konsep ini sebenarnya menyeret sebuah pertanyaan besar di baliknya. Apakah dengan Zero Waste Lifestyle saja sudah cukup?

Alasan Pesimistis yang Realistis

Gelombang pesimisme di tengah tren Zero Waste
Pesimisme. Foto: Pixabay

Kendati pemerintah dan beberapa pihak swasta ikut mendukung gerakan yang searah dengan Zero Waste, pertanyaan besar tadi masih tetap ada. Bagi sebagian orang yang benar-benar concern sama kelestarian lingkungan, reaksi yang pesimistis itu nyatanya juga cukup realistis, lo!

Adalah realita kalau temperatur global naik 1,5 persen tiap tahunnya. Kenaikan itu terjadi dalam satu dekade terakhir. Laporan Emmission Gap Report yang dirilis United Nations Environment Programme (UNEP) November 2019 lalu bilang kalau hal tersebut disebabkan oleh emisi gas efek rumah kaca

Pada tahun tersebut emisi gas efek rumah kaca mecapai angka 55,3 miliar ton karbon dioksida (CO2). Kalau kenaikan ini terus-terus terjadi, tren suhu global diprediksi bakal melesat naik 3,2 derajat celcius di tahun 2100 mendatang.

Terus-terusan Meleset

Gaya hidup minim sampah salah sasaran?
Salah sasaran. Foto: Ricardo Arce/Unsplash

Tren kenaikan rata-rata temperature tersebut masih amat jauh dari Kesepakatan Paris (Paris Agreement) di tahun 2015. Sejumlah negara, termasuk Indonesia, yang ikut dalam perjanjian itu sepakat buat ngurangi kenaikan rata-rata suhu global itu sebanyak 1,5-2 derajat celcius.

Dengan temperatur rata-rata bumi saat ini, yang justru terlihat adalah target pengurangan yang melewati batas yang seharusnya. Langkah pengurangan suhu itu sebenarnya ditargetkan terus terjadi hingga 2030 nanti.

Sayangnya, dampak yang nampak malah sebaliknya. Target Paris Agreement itu bukanlah angka yang kecil, Takaiters. Bisa dibilang, kesepakatan internasional itu terus meleset sejak awal.

Besar, tetapi Mungil

Gaya hidup Zero Waste masih belum cukup mengatasi krisis lingkungan
Hal kecil yang berdampak besar. Foto: Magda Ehlers/Pexels

Kita mungkin percaya bahwa gaya hidup ini adalah hal besar. Namun, keyakinan itu sebenarnya adalah hal yang skalanya itu kecil. Kecil banget. Gaung Zero Waste itu tidaklah cukup. Masih belum cukup. Masih jauh dari cukup.

Sedotan plastic yang menjadi salah satu bagian dalam raungan Zero Waste Lifestyle saat ini cuma menyumbang kurang 1 persen dari total sampah yang terbuang di laut. Tiap tahunnya, setidaknya ada 8 miliar ton sampah plastik mengambang di lautan.

Peningkatan suhu rata-rata bumi saat ini sejatinya bukan cuma meminta kita semata-mata tidak mengahsilkan sampah saja. Lebih dari itu, yang mesti dilakukan adalah hal yang jauh lebih besar lagi, yaitu dekarbonisasi.

Yang Luput dari Perhatian

Korporasi besar yang luput dari perhatian persoalan lingkungan
Luput. Foto: Pexels

Gaung gaya hidup minim sampah seperti sekarang ini tidak serta merta: tidak berkontribusi sama sekali. Namun, perlu diakui kalau itu masih belum signifikan. Kita mesti memahami bahwa gas emisi efek rumah kaca itu tidak muncul dari timbunan sampah saja.

Nah, yang kerap luput dari perhatian kita adalah: siapa, sih, penyumbang terbesar yang buat bumi jadi makin panas? Alhasil, konsep dekarbonisasi jauh lebih dari sekadar tidak buang sampah saja.

Dan, tren Zero Waste yang dinarasikan saat ini, sayangnya hanya berkutat di hal yang relatif kecil. Masih jauh ketimbang persoalan besar yang sedang kita semua hadapi. Dalam konteks ini: ya, krisis lingkungan berskala global.

Tidak Sentuh Faktor Besar

Narasi gaya hidup minim sampah tidak menyentuh penyebab utama krisis lingkungan
Faktor Besar. Foto: Pixabay

Carbon Disclosure Project (CDP), melalui laporan The Carbon Majors yang dirilis tahun 2017 menyebutkan bahwa 71 persen penyumbang gas emisi efek rumah kaca sejak tahun 1988-2015 berasal dari 100 korporasi besar di dunia.

Korporasi yang disebut itu merupakan korporasi yang bergerak dalam industri bahan bakar fosil. Bahkan, setengah dari data tersebut disumbang oleh 25 perusahaan saja. Ngomong-ngomon soal itu, Pertamina Indonesia berada di peringkat ke-35 dalam daftar tersebut.

Ketika kita sibuk dengan kesadaran ‘kecil’, terdapat ‘penghasil karbon’ utama yang masih sibuk dengan kepentingan industrialnya. Di tengah gaung Zero Waste Lifestyle berada di tingkat bawah, faktor terbesarnya selama ini jadi tidak tersentuh.

Deadline yang Semakin Sempit

Krisis lingkungan sudah semakin parah
Deadline. Foto: Pixabay

Meskipun masih merupakan langkah besar yang kecil, Zero Waste Lifestyle tidaklah salah. Persoalannya justru terletak pada penerapannya yang masih berada di tingkat yang jauh dari faktor besarnya saat ini.

Kondisi itulah yang bikin gerakan positif ini terkesan begitu utopis. Di tambah lagi dengan gelombang pesimisme yang menantang. Udah signifikansinya kecil, eh, dinyinyirin pula. Gimana, dong?

Anggap saja, Bumi adalah sekolah. Kita semua adalah penduduk laiknya para murid. Planet ini, dengan kondisinya yang memprihatinkan saat ini, seperti memberi kita PR besar yang deadline-nya itu mepet banget.

Zero Waste yang Wasting Time Doang

Gaya hidup zero waste cuma buang-buang waktu?
Wasting Time. Foto: Annelies Brouw/Pexels

Merujuk pada target Paris Agreement tadi, PR itu harus bisa dipenuhi dalam waktu kurang lebih 10 tahun. Paling enggak, para murid harus bekerja sama mendorong penurunan emisi gas sebanyak 7,6 persen sampai tahun 2030.

Gaya hidup Zero Waste mungkin bakal lebih impactfull kalau penerapannya berada di berbagai lapisan dan lini. Tanpa ambisi dan kerja sama, konsep gaya hidup tersebut bakalan tetap jadi utopia, alias wasting time doang.

Kalau konsep ini masih terus mengambang sebagai sekadar lifestyle saja, gelombang pesimistis itu juga wajar adanya. Selaku penantang berat, jangan heran kalau tajuknya itu dianggap terlalu eksklusif dan nggak urgent sama sekali.

Kerja Sendiri Itu Berat

Pecinta lingkungan yang bekerja sendirian.
Kerja sendiri. Foto: Artem Beliaikin/Pexels

Konsep hidup minim sampah itu jadi sekupulan individu yang negrjain PR sendirian. Sungguh, rindu sendirian itu berat, bukan? Kerja sama itu berpotensi ikut-ikutan utopia kalau awareness kayak Zero Waste Lifestyle ini enggak juga diikuti sama ‘faktor besar tadi’.

Memang wajar kalau ada yang pesimis sama konsep ini, tetapi, itu jauh lebih baik ketimbang skeptis. Paham, tetapi cuek abis. Padahal nih, gaya hidup ini  enggak sehalu kerajaan Sunda Empire yang viral di awal tahun 2020 ini lo, Takaiters!

Misalnya nih, kalau temperature bumi rata-rata naik 2 derajat celcius saja, bisa bikin efek domino besar yang bahaya. Salah satunya adalaha 99 persen terumbu karang di seluruh lautan bisa punah. Duh, kesian kan, buat yang doyan banget diving?