Halo, Takaiters!

Salah satu keunikan di Pulau Lombok adalah masih adanya pernikahan culik. Pernikahan culik ini dilakukan  ketika seorang pemuda sasak (terune) menyukai wanita (dedare) untuk dijadikan istrinya. Pemuda itu lalu menculik si wanita dan membawanya ke rumah mempelai pria.

Berniat menculik berarti siap memberikan nafkah lahir batin

Setelah calon mempelai wanita sampai di rumah mempelai pria. Pihak mempelai pria akan menghubungi keluarga calon mempelai wanita. Tujuannya untuk mengabarkan bahwa mereka akan segera meminang si wanita.  Pria sasak yang berniat menculik wanita untuk dijadikan istrinya, berarti dirinya sudah siap memberikan nafkah lahir batin kepada sang istri kelak.

Dalam budaya sasak, pernikahan culik ini tetap menerapkan penghormatan kepada kaum perempuan di Lombok. Setelah keluarga pria memberi kabar bahwa mereka menculik calon pengantin wanita, maka pihak perempuan diperbolehkan mengajukan permintaan untuk dipenuhi oleh calon pengantin pria. Misalnya, masalah mahar dan lainnya.

Membasuh kaki pria jika kedua belah pihak keluarga mempelai sepakat

Apabila antara kedua belah pihak keluarga mempelai sepakat, kaki pengantin pria akan dibasuh dengan air kelapa. Jika tidak sepakat, air tajinlah yang digunakan untuk membasuh kaki si pria. Tradisi unik ini dilakukan oleh masyarakat sasak secara turun temurun. Selanjutnya calon pengantin pria dan wanita akan melewati prosesi sejati, selabar, dan mbait wali.

Pilihan Editor



Setelah sepakat pengantin pria dan wanita akan melewati prosesi sejati, selabar, dan mbait wali.

Arti dari sejati adalah proses pemberian informasi kepada pemerintah desa setempat bahwa calon pengantin wanita telah meninggalkan desa selama 3 hari dengan tujuan untuk menikah. Setelah prosesi sejati, ada selabar atau  sebar kabar. Dalam acara selabar, pemerintah dan warga desa akan mengetahui berita pernikahan calon mempelai.

Sedangkan mbait wali adalah menjemput wali untuk menikahkan calon mempelai  sekaligus mengambil hasil musyawarah pihak pengantin wanita tentang mahar serta menentukan tanggal pernikahan. Wali di sini, misalnya, pemuka agama, kyai, ustad, atau tuan guru.

Tradisi ini diperbolehkan oleh adat setempat. Dengan catatan para pemuda wajib mematuhi aturan yang berlaku. Apabila terjadi di luar ketentuan adat akibat penculikan anak gadis orang, maka pihak keluarga pria yang harus bertanggung jawab dengan membayar beberapa denda kepada pemerintah desa setempat.

Cerita awal mula mengapa di Lombok bisa terjadi kawin lari atau menikah culik

Konon dahulu ada seorang raja yang memiliki putri sangat cantik. Kecantikan sang putri telah memikat begitu banyak pemuda di seantero negeri. Tak sedikit pula yang berniat melamarnya. Oleh karena itu raja menyembunyikan putrinya di sebuah kamar rahasia dengan penjagaan ketat. Lalu dia mengumumkan sayembara. Barangsiapa berhasil menculik putrinya, pemuda itulah yang menjadi pasangan putri.

Demikian awal mula cerita nikah culik yang terjadi di Lombok. Para pemuda sasak merasa bangga bisa menculik wanita yang dicintainya, sebab itulah bentuk kegigihan mereka. Pihak keluarga wanita pun harus rela anak gadisnya menikah dengan pemuda pilihan hati yang telah berhasil menculiknya.