Hai, Takaiters!

Wisata Permakultur saat ini sedang digandrungi banyak orang, loh. Wisata ini semakin ngehits karena selain memperhatikan isu lingkungan, wisata permakultur juga memperhatikan tradisi dan norma-norma hidup masyarakat sekitarnya. Biasanya, wisata ini didesign dengan prinsip berkelanjutan (sustainable) dan ramah lingkungan. Tertarik untuk melihat salah satu usaha wisata permakultur? Yuk intip salah satu usaha wisata permakultur yang lagi digandrungi wisatawan.

Di bagian utara Malawi , tepatnya di hutan Lukwe di antara desa Chitimba dan desa Livingstonia, Karonga, terdapat lahan seluas 5 ha yang dijadikan daerah tujuan wisata Permakultur. Namanya Lukwe EcoCamp. Lukwe EcoCamp dibangun sejak 1996 oleh beberapa activis lingkungan. Disana kamu bisa menginap di cottage kayu yang sudah dilengkapi dengan dipan sederhana. Bagi yang lebih menyukai petualangan, kamu juga bisa berkemah loh. Selain murah, juga lebih dekat dengan alam. Tahu kah kamu, sampai saat ini Lukwe EcoCamp masih menjadi destinasi favorit trip advisor untuk daerah utara Malawi loh.

Yuk kita ikuti, apa saja yang menjadikan wisata permakultur di Lukwe EcoCamp menarik hati pengunjungnya.

Makanan yang Disajikan Berasal dari Kebun Sendiri

Foto: pixabay.com

Seru, ya, kalau kita tahu sumber makanan kita dari mana. Di tempat ini, semua menu di masak dengan bahan-bahan yang di petik sendiri dari kebun. Bahkan kopi dan teh yang disajikan pun berasal dari kebun sendiri dan diproses secara traditional. Takaiters mau menu yang terbuat dari ayam? Tenang saja, mereka juga memelihara ayam kampung untuk mengantisipasi pengunjung yang bukan vegetarian. Kamu juga bisa melihat-lihat kebun mereka dan memetik sendiri sayuran yang ingin kamu makan loh. Seru ya Takaiters!

Suplai Listrik Berasal dari Matahari

Foto: suedkurier.de

Benua Afrika memang terkenal dengan terik mataharinya. Hal ini dimanfaatkan oleh pemilik Lukwe EcoCamp untuk memanen matahari sebagai sumber listrik. Energy yang diserap melalui solar panel disimpan di beberapa baterai besar dan kemudian dipakai untuk penerangan dan kebutuhan listrik lainnya. Tidak heran Takaiters, lampu-lampu di penginapan ini hanya menyala pada saat sore hari sampai tengah malam. Selanjutnya, penerangan hanya mengandalkan senter pribadi, lampu teplok, atau bahkan cahaya bulan. Romantis ya!

Toilet Kompos sebagai Sumber Humus yang Bernutrisi Tinggi

Foto: tracks4africa.co.za

Yang paling menarik toiletnya, nih, Takaiters. Kamu tidak akan menemukan air di toilet. Disana hanya disediakan tissue, satu gentong tanah kuning, dan satu gentong abu. Kotoran akan diuraikan oleh bakteri aerobik menjadi pupuk kompos yang berkualitas tinggi bagi tumbuhan. Mereka bisa memanen kompos sekali dalam setahun loh Takaiters. Jangan khawatir, toiletnya sama sekali tidak berbau kok.

Air Minum Langsung dari Air Pegunungan

Foto: doctor.ndtv.com

Takaiters tidak akan menemukan supplai air dari perusahaan air. Sumber air di Lukwe mengandalkan air sungai. Air sungai dari pegunungan disaring dan disimpan dalam wadah keramik. Segar sekali!

Dapur danArea Makan untuk Umum

Foto: nights-away.com

Takaiters juga bisa membawa bekal makanan untuk dimasak sendiri. Tungku dan beberapa alat memasak telah tersedia. Kamu hanya perlu mencari kayu yang ada di sekitar perkemahan. Hal ini menjadi kegiatan favorit pengunjung Lukwe EcoCamp. Karena selain murah, kamu bisa menikmati kegiatan memasak sambil bercengkrama dengan keluarga atau teman. Menyenangkan sekali bukan?

Bagaimana Takaiters, Tertarik untuk berwisata permakultur? Yuk, tulis wisata permakultur yang ada di Indonesia. Pasti akan menjadi tujuan favorit wisatawan dalam dan luar negeri.