Hai, Takaiters!

Indonesia memang negara yang dianugerahi kekayaan yang sangat luar biasa. Mulai sumber daya alam, bahasa, suku, kebudayaan, kain tradisional, sampai makanan khas semua bisa dijumpai di Indonesia. Nah, bagi Takaiters penggemar traveling sudah menjelajah sampai ke mana, nih?

Di Kalimantan Timur, kamu bisa menemui keanekaragaman budaya suku Dayak yang masih asli dan belum terjamah teknologi modern. Salah satunya adalah budaya suku Dayak Benuaq yang ada di Desa Tanjung Isuy Kutai Barat. Kali ini Sobat bisa belajar membuat kain Ulap Doyo.

Apa itu Ulap Doyo? Yup, Ulap Doyo adalah kain yang terbuat dari tanaman doyo. Tanaman yang bernama latin Curculigo latifolia ini banyak tumbuh di Kalimantan Timur. Tanaman menyerupai pandan dengan bentuk daun memanjang dan serat sejajar. Ada beberapa varietas tanaman doyo, namun yang terbaik jenisnya adalah doyo Temayo.

Agar daun dapat dijadikan kain tradisional yang indah, maka daun ini harus dikeringkan dan disayat mengikuti arah serat daun hingga menjadi serat yang halus, ya, Takaiters. Serat-serat ini lah yang nantinya akan dijalin dan dilinting hingga membentuk benang kasar lalu menyambungkannya hingga panjang 100-200 meter.

Setelah menjadi benang kemudian diberi pewarna yang bahan-bahannya juga berasal dari alam. Merah, hitam, coklat, hijau, dan kuning adalah warna yang biasa digunakan suku Dayak pada kain Ulap Doyo.

Pilihan Editor


Setelah proses pewarnaan, barulah benang ditenun menjadi kain. Penenunan biasa dilakukan oleh kaum perempuan suku Dayak Benuaq. Hal tersebut wajar dilakukan karena perempuan identik dengan ketekunan dan ketelitian.

Secara umum, motif kain Ulap Doyo yang dapat Sobat jumpai bertema fauna dan flora yang terinspirasi dari flora fauna Sungai Mahakam atau tema peperangan antara manusia dengan naga.

Ulap Doyo adalah salah satu kekayaan alam Indonesia yang harus dilestarikan. Semua harus ikut menjaga keberadaannya terutama bahan baku daun doyo yang kabarnya sudah mulai sukar didapat karena pengalihan fungsi hutan menjadi kebun tanaman sawit.

Takaiters pasti mau ‘kan menjaga warisan budaya Indonesia? Kalau bukan takaiters, siapa lagi lagi yang menjaga alam Indonesia?