Yusof Bin Ishak adalah presiden pertama Singapura sejak tahun 1965-1970. Sebelumnya, Yusof menduduki posisi sebagai kepala negara Singapura sejak 3 Desember 1959. Ketika Singapura keluar dari Federasi Malaysia di tahun 1965, statusnya berubah menjadi presiden hingga meninggal di tahun 1970. Wajahnya kemudian diabadikan dalam pecahan uang kertas negeri singa ini.

Di balik fakta tersebut, kita patut berbangga lho. Apa pasal? Ternyata Yusof Bin Ishak adalah presiden Singapura yang memiliki darah Indonesia alias Minangkabau.

Sungguh membuat Minang bangga! Ternyata Yusof Bin Ishak adalah keturunan asli bangsawan Minangkabau

Yusof Bin Ishak presiden pertama singapura
Foto : straitstimes.com

Lahir di Padang Gajah, Perak, Malaysia, Sang Presiden merupakan anak pertama dari sembilan bersaudara dari ayah yang berdarah Minangkabau dan ibu yang berdarah Melayu. Leluhurnya adalah seorang bangsawan Minangkabau bernama Datok Jonathan.

Pria yang lahir tanggal 12 Agustus 1910 ini menghabiskan pendidikan dasarnya di kota kelahirannya, kemudian pindah ke Taiping. Pada umurnya yang kesebelas, Yusof melanjutkan pendidikan di salah satu sekolah berbahasa Inggris yang bernama King Edward VII di kota yang sama.

PILIHAN EDITOR

Baru pada tahun 1923, Yusuf bersama keluarga berpindah ke Singapura untuk mengikuti sang ayah. Di sana, Yusof bersekolah di Raflles Institution. Di sekolah ini, ia mulai menggeluti berbagai kegiatan olahraga dan sering mewakili Singapura dalam banyak perhelatan olahraga.

Tak hanya jawara di bidang olahraga, Yusof ternyata juga merupakan siswa yang cerdas. Hal ini dibuktikan dengan keberhasilannya meraih sertifikat dari Chambridge School dengan nilai yang memuaskan. Setelah itu, ia pun diganjar dengan beasiswa sekolah dan melanjutkan studinya hingga lulus tahun 1929.

Mengawali karirnya sebagai seorang jurnalis

Yusof Bin Ishak presiden pertama singapura
Foto : straitstimes.com

Selepas menyelesaikan studinya, Yusof mendalami karir sebagai seorang jurnalis. Bersama dengan dua orang temannya, ia sempat mendirikan majalah khusus olahraga yang bertajuk “Sportsman”. Tahun 1932, Yusof bergabung dengan surat kabar ternama Malaysia saat itu, yaitu Warta Malaysia.

Pada tahun 1939, Yusof kembali mendirikan surat kabar baru bernama Utusan Melayu. Namun, kali ini mereka harus menghentikan peredarannya, karena saat itu Jepang mulai menginvasi Singapura dan merampas mesin cetak milik mereka untuk menerbitkan kabar propaganda bertajuk Berita Malai.

Nasib baik mengantarkannya menjadi Yang Di-Pertuan Negara

Yusof Bin Ishak presiden pertama singapura
Foto : icoyc.org

Sepanjang hidupnya, Yusof Bin Ishak telah mengemban banyak posisi penting di Singapura. Mulai dari bidang perfilman, pelestarian alam, dan berbagai organisasi penting lainnya. Puncaknya adalah ketika ia didapuk sebagai Yang Dipertuan Negara atau Kepala Negara Singapura pada tahun 1959.

Pada saat itu, Yusof diusung oleh partai PAP (People’s Action Party),dan berhasil menjabat posisi ini selama tiga periode berturut-turut. Pada tahun 1960, Yusof menerima penghargaan dari Sultan Brunei bernama Darjah Kerabat Yang Amat Dihormati Kelas Pertama. Selain itu, wajahnya juga diabadikan dalam semua pecahan uang dollar Singapura sejak dulu hingga sekarang. Bayangin Guys, sampai sekarang lho! Wow!!

Deretan penghargaan abadi yang dipersembahkan oleh negeri Singa atas jasa-jasanya

Yusof Bin Ishak presiden pertama singapura
Foto : 2.bp.logspot.com

Negeri singa memberikan beberapa penghargaan atas jasa-jasa yang dilakukan oleh Yusof Ishak diantaranya, mendirikan sebuah masjid di Woodlans yang diberi nama Masjid Yusof Ishak, Mendirikan Institut Kajian Asia Tenggara (ISEAS) di National University of Singapore (NUS), yang kini berganti nama menjadi ISEAS-Yusof Ishak Institute, NUS mencanangkan program pembiayaan dan penganugerahan gelar profesor dalam bidang ilmu sosial dengan nama Yusof Ishak Professorship.

Selain itu, Singapura juga mengabadikan dirinya dalam semua pecahan mata uang dolar Singapura dari sejak dulu dan bahkan hingga sekarang! Mulai dari pecahan, 2, 5, 10, 20, 50, 1.000, hingga 10.000 dolar Singapura.

Pada 23 November 1970, Yusof Bin Ishak wafat karena penyakit gagal jantung di saat masih menjabat sebagai presiden. Jasadnya kemudian dimakamkan di wilayah Kranji. Berkat jasa dan dedikasinya yang demikian tinggi, tak hanya masyarakat Singapura saja yang bangga memiliki pemimpin seperti Yusof. Kita pun patut berbangga, karena Bumi Pertiwi ini pernah melahirkan seorang pemimpin yang menjunjung tinggi nilai-nilai multikultural dan multietnis seperti beliau. Setuju?