Hola, Takaiters!

Apa yang terpikir dalam benak kamu saat mencoba menggali destinasi wisata di Kota Surabaya? Mungkin yang terbayang dalam pikiran adalah Kebun Binatang Surabaya, Pantai Kenjeran, Monumen Kapal Selam, maupun Pasar Turi. Bagi kamu yang doyan dan kecanduan membaca, sudah saatnya mencoba sensasi baru dengan berkunjung ke Perpustakaan Medayu Agung.

Perpustakaan Medayu Agung bisa menjadi alternatif wisata literasi, karena ada beberapa keistimewaan yang dapat kamu jumpai di sana. Inilah 5 keunikan yang ada di perpustakaan tersebut. Yuk, kita simak!

Didirikan oleh mantan jurnalis

Oei Hiem Hwie wartawan utama harian Terompet Masjarakat, terbit di Jawa Timur, 1947. (Foto: benarnews.org)

Oei Hiem Hwie mendirikan perpustakaan Medayu Agung tahun 2001 ini adalah seorang keturunan Tionghoa yang menjadi jurnalis di era kemerdekaan. Beliau menjadi wartawa utama harian Terompet Masjarakat yang terbit di Jawa Timur tahun 1947.

Oei Hiem Hwie bahkan pernah mewawancarai presiden pertama RI, Ir. Soekarno dan diperkenankan mengambil gambar diri Sang Presiden. Beliau memiliki kedekatan dengan Bapak Proklamator tersebut, sehingga tidak mengherankan sebagian besar koleksi buku di perpustakaan Medayu Agung berisi tentang Soekarno.

Pilihan Editor

Pernah ditawar Rp 1 milyar untuk koleksinya

Sebagian koleksi buku yang ada di perpustakaan Medayu Agung (Foto: mahasiswa.actual.co.id)

Tahun 1999 lalu, Charles Coppel  dari University of Melbourne Australia pernah mendatangi Oie Him Hwie dan menawar seluruh koleksinya seharga Rp 1 miliar. Semua koleksi Oie akan dijadikan pusat studi Indonesia di Australia kala itu. Namun, Oie menolak. ”Saya khawatir bukti-bukti sejarah yang kita punya ini dipelintir, makanya saya menolak,” tegasnya.

Mengapa harga penawarannya begitu fantastis?  Maklum, isi perpustakaan ini sangat lengkap, Koran berbahasa Jerman terbitan 1928 pun ada.

Pramoedya Ananta Toer mempercayakan naskah aslinya kepada Oei Hiem Hwie

Naskah Pramoedya masih disimpan rapi oleh Oei Hiem Hwie di Perpustakaan Medayu Agung, (Foto:htanzil.wordpress.com)

Tahun 1965 menjadi tahun suram  bagi Oei Hiem Hwie. Beliau menjadi tahanan politik yang menjalani pengasingan di  Pulau Buru. Di tempat itulah, ia bertemu dengan Pramoedya Ananta Toer. Mereka menjadi kawan akrab.

Kemudian pada tahun 1978, Pramodeya menitipkan sejumlah naskah aslinya, di antaranya Bumi Manusia dan Ensiklopedi Citrawi Indonesia untuk diselamatkan. Naskah asli ini sempat hendak dikembalikan, namun Pram hanya meminta fotokopiannya saja, dan hingga saat ini naskah luar biasa tersebut dapat dinikmati segenap pembaca Medayu Agung.

Kliping koran masih ada, lho!

Kliping koran masih ada dan tersusun rapi (Foto:htanzil.wordpress.com)

Ada banyak sekali kliping koran di Perpustakaan ini (perlu 2 lantai penuh untuk menyimpannya). Bahkan cenderung sangat mendominasi. Kompas, Jawa Pos, Surya hingga Surabaya Post dan majalah Liberty, dikliping rutin  oleh pengurus Perpustakaan. Penyimpanan sudah menggunakan Silica dan cengkeh untuk membuat serangga dan jamur menjauh.

Ahok tertarik melancong ke perpustakaan ini

Ahok tertarik pada aneka buku sejarah yang disimpan perpustakaan Medayu Agung (Foto: ayorek.org)

Tanggal 5 April 2017, Ahok menyempatkan diri untuk berkunjung ke Medayu Agung. Beliau  sangat tertarik pada aneka buku sejarah yang disimpan perpustakaan dengan rapi. Bahkan Ahok juga meminta untuk difotokopikan buku terlarang pada masa Orde Baru, yaitu Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara.

Ayo, berkunjung ke perpustakaan yang sarat dengan nilai edukasi dan sejarah ini!