Heiyo, Takaiters!

Setelah resmi dipensiunkan Microsoft, tidak terlalu berlebihan juga kalau Windows 7 dianggap sebagai OS yang mandiri. Perusahaan yang membesarkan namanya, telah benar-benar menginstruksikannya untuk keluar dari rumah.

Windows 7 sendiri bukanlah karya yang pantas dipandang sebelah mata. Sepak terjangnya di seluruh komputer penggunanya bukan pula waktu yang singkat. Paling tidak, Microsoft perlu waktu satu dekade lebih untuk ‘serius’ menyingkirkannya.

Namun, sebelum kita melanjutkannya ke torehan apa saja yang membuat nama Windows 7 melambung tinggi, ada baiknya kita perlu juga untuk memahami satu hal. Ya, langkah yang diambil oleh Microsoft ini bukan tanpa alasan.

Jadi ‘Mandiri’ di Umur 10 Tahun Lewat

Microsoft berhentikan dukungan sistem untuk Windows 7
Windows 7. Foto: Computer World

Bagi seorang manusia, anak umur 10 tahun jelas akan sangat membutuhkan orang tuanya untuk melengkapi kebutuhan hidupnya. Setidaknya sebelum menyentuh usia yang bisa dikatakan dewasa dan siap.

Menurut data yang ada, Windows 7 diperkenalkan pertama kali pada 22 Juli 2009 silam. Bila dihitung sampai sejauh tulisan ini diterbitkan, usianya kini sudah menyentuh angka 10 tahun lebih. Hampir 11 tahun bahkan.

Dan, di usia yang—bagi kita, manusia—masih belia itu, Microsoft secara tegas mengambil langkah untuk tidak lagi ‘mengurus’ setiap kebutuhan yang akan diharapkan Windows 7 di masa-masa mendatang.

Bukan Satu-Satunya, Kompetitornya Juga Ada

Para pesaing OS Windows
Linux, si pesaing Windows. Foto: Vivaldi

Sebagai sebuah produk, eksis dalam jangka waktu satu dekade tentu bukan perkara mudah. Perjalanannya menjadi OS yang paling dicintai tetap punya jalan terjal dan sepak jegal dari para kompetitornya di ruang yang sama.

Para pesaing Windows 7 sendiri banyak datang dari OS yang berkerumpun di bawah basis bangunan Linux. Selain itu, MacOS besutan Apple juga menjadi polisi tidur besar bagi alur perjalanannya.

Namun, yang menarik adalah: fakta bahwa Windows 7 pergi bukan karena isu celah keamanan sebagaimana masalah klise bagis kebanyakan OS. Apa yang membuat “anak 10 tahun” itu tergusur? Ya, karya alias anak baru yang dilahirkan Microsoft, orang tuanya sendiri.

Menyelamatkan Muka Gagalnya Vista

Windows Vista
Windows Vista. Foto: Vietnam Plus

Naif kalau kita melenyapkan data yang memperlihatkan kesuksesan yang diukir oleh salah satu karya milik Microsoft ini. OS langsung memberikan sumbangsih positif sejak awal ia diluncurkan.

OS yang termasuk dalam kernel Hybrida yang dibarengi dengan enam edisi berbeda ini, sebenarnya juga terbilang sebagai produk yang berhasil menyelamatkan muka. Ya, siapa lagi kalau bukan pabrikan yang melahirkannya sendiri.

Windows 7 lahir setelah Windows Vista tidak menemukan taringnya sebagai penerus Windows XP yang sukses di masanya. Vista yang tampil gagal membuat muka Microsoft tak mulus.

Penyelamat yang Ogah Mengalah

Tampilan Windows 10 yang mirip Windows 7
Tampilan Windows 10. Foto: PCMag

Ya, si “Jendela Nomor Tujuh” itu pun semacam juru selamat sejak di beri panggung dan lampu sorot. Keberhasilan Windows 7 mengais 90 juta penjualan hanya dalam 6 bulan adalah tanda awal bahwa OS ini lebih pantas disebut sebagai penerus Windows XP[1].

Di bulan kesepuluh pertamanya, Windows 7 berhasil menyalip torehan penjualan yang diukir sang kakak. Selain itu, Vista dibuat semakin tenggelam dan terlupakan. Plus, berumur pendek[2] oleh nama besar OS yang notabene adalah adiknya juga.

Sebagai anak baru yang meneruskan tugas kakak-kakaknya, OS yang satu ini terus menguatkan cengkramannya. Bahkan nih, kalau kita mau ngelihat satu contoh adegan seorang kakak yang ogah ngalah sama adiknya, Windows 7 agaknya cocok jadi jawabannya.

Berhasil Bikin Basis yang Ngeyel

Microsoft hadapi ngeyelnya pengguna Windows 7.
Windows 7. Foto: Kompas Tekno

Banyak yang menyukai Windows 7 karena dinilai efisien dan dibalut dengan antarmuka yang ringkas. Dengan kekuatannya yang cukup menonjol itulah, OS ini mampu membuat para penggunanya setia kepadanya.

Di tahun 2012, adiknya, Windows 8 lahir ke dunia komputasi kita. Namun, di sinilah saat-saat di mana Windows 7 yang resmi menjadi kakak, ogah mengalah. Windows 8 hampir sama sekali tidak diberi ruang untuk berkreasi, ataupun sampai menjaring basis pengguna seperti sang kakak.

Lahirnya sang adik tidak membuat Windows 7 mengalah. Hal itu juga diikuti oleh sebagian besar pengikutnya yang ngeyel dan tetap bertahan di sisi yang sama. Microsoft pun memilih untuk memasang dandanan baru bertajuk Windows 8.1 buat sang adik dua tahun setelahnya.

Windows 10: Lahirnya Adik Kedua

Kapan Micrososft merilis Windows 10
Windows 10. Foto: MSPoweruser

Kemunculan adik dengan dua wajah itu tidak membuat kursi kekuasaan yang dipegang Windows 7 berguncang kencang. Dua adik kembarnya itu boleh dibilang tidak berhasil mengkudeta posisi sang kakak.

Bahkan, lahirnya sepasang anak kembar Microsoft itu sempat mendapatkan sorotan tajam (baca: kritik) dari pengguna OS berbasis Windows. Hal ini mendorong perusahaan akhirnya membuat adik baru. Adik kedua buat Windows 7 yang bernama: Windows 10.

Demi memuluskan jalan sang adik keduanya ini, Microsoft melakukan pendekatan yang sedikit lebih agresif dari sebelumnya. Sejak itu, pelan-pelan, Windows 7 mulai dibiasakan ‘mandiri’ secara bertahap oleh orang tuanya.

Celah Lebar untuk Sang Penerus

Perangkat apa saja yang didukung Windows 10?
Windows 10 dukung banyak perangkat. Foto: Intel

Sebelum benar-benar melepas Windows 7, Microsoft sebenarnya sudah memperlihatkan sinyalemen untuk tidak lagi serius mengurus anaknya yang sudah berpengalaman (baca: tua) itu.

Rabu, 20 Maret 2009 adalah hari terakhirnya diberi makan berupa system update dan security patch oleh Microsoft. Waktu itu, sekaligus menjadi peringatan terakhir bagi pengguna setia Windows 7—dianjurkan—untuk segera berpindah ke versi OS Windows yang lebih baru.

Melalui paksaan lembut itu, Windows 10 mulai menerima celah lebar sebagi penerus sang kakak. OS kelahiran tahun 2015 itu butuh waktu sekitar 5 tahun untuk mendapatkan semua keistimewaan itu, lho!

Penghantar Sang Kakak Jadi Pajangan Museum

Benarkah Windows 7 dibuang Microsoft?
Wafatnya Windows 7. Foto: The Verge

Di samping klaim memiliki tampilan segar, kelengkapan fitur serta celah keamanan yang lebih rapat, Windows 10 pada akhirnya punya ‘rengekan’ yang lebih ampuh untuk betul-betul mengantarkan Windows 7 ke etalase museum.

Namun, sebelum Windows 7 berhenti mendapatkan sokongan dari Microsoft itu, sebagian pengguna sejatinya pelan-pelan mulai mengikuti arahan. Fenomena ini besar kemungkinan bakal berlanjut di tahun 2020 ini.

Ngomong-ngomong soal itu, sejak dirilis, Windows 10 butuh waktu tiga tahun untuk meyakinkan penulis (secara pribadi) meninggalkan kakaknya. Migrasi itu saya lakukan bukan karena rasa suka yang pudar, tetapi lebih kepada performa sang kakak yang, let’s say … melambat.

Tiga Saudara yang Sekilas Mirip, Bukan?

Kemiripan Windows 7 dan Windows 10
Windows 7 dan Windows 10. Foto: Microsoft

Ya, Windows 10 sejatinya punya kemiripan dengan dua pendahulunya. OS anyar buatan Microsoft ini sepertinya memang membenamkan campuran dua karakter sekaligus yakni, Windows 7 dan Windows 8 & 8.1.

Apabila tebakan ini benar, Windows 10 lahir dengan paras khas Windows 8. Namun, ketika menggunakannya Windows 7 itu masih tetap bisa terasa. Apalagi soal tampilan tombol start yang kembali ditampilkan setelah sempat berubah layaknya alien[3].

Windows 7 mungkin adalah adik sekaligus kakak yang keras kepala. Namun, kedua adiknya juga dinilai berhak mendapatkan tempat di momentum yang dirasa sudah tepat[4]. Microsoft nampaknya ingin berbuat adil ke semua anak-anaknya, jika itu memang memungkinkan.

Selamat jalan dan selamat meneruskan perjuangan, Windows.


[1] Windows XP dirilis tahun 2001 sebelum dilepas Microsoft pada April 2008.

[2] Windows Vista bertahan kurang dari tiga tahun sejak pertama diperkenalkan di pertengahan tahun 2006.

[3] Salah satu bagian yang paling banyak menuai kritik pada Windows 8.

[4] Perkembangan teknologi dengan banyak perangkat yang cocok dengan versi OS Windows di atas Windows 7.