Loha, Takaiters!

Lebaran adalah momen yang paling ditunggu-tunggu oleh seluruh umat muslim di seluruh belahan dunia, tak terkecuali Indonesia. Hari Raya Idulfitri merupakan penutup rangkaian ibadah puasa sebulan penuh. Jadi, jangan heran jika hari kemenangan di sambut dengan meriah termasuk 5 daerah berikut.

Di daerah-daerah ini, perayaan Lebaran dilakukan dengan cara unik yang merupakan bagian dari tradisi masyarakat setempat. Tradisi ini dilakukan dengan turun-menurun sebagai bentuk menyambut hari bahagia.

1. Yogyakarta: Grebek Syawal

Foto: Tribunnews.com

Sudah bukan rahasia lagi jika Yogyakarta terkenal dengan kota yang kaya akan budaya. Aneka ragam tradisi begitu melekat dengan masyarakat. Tidak terkecuali dalam kegiatan menyambut hari raya umat Islam atau Hari Raya Idulfitri. Dalam hal ini, Yogyakarta mempunyai cara unik untuk merayakannya melalui Grebek Syawal.

Grebek syawal sudah dilakukan sejak abad ke-15 dan terus dilaukan turun temurun hingga saat ini. Tujuannya adalah sebagai bentuk rasa syukur Sultan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan cara membagi-bagikan hasil bumi kepada rakyat. Ada 7 gunungan besar merupakan hasil panen masyarakat yang nanti akan ditempatkan di tiga tempat berbeda. Menariknya, ketika gunungan-gunungan tersebut diarak mengikuti rute yang sudah ditentukan, saat sampai ke acara utama gunugan tersebut menjadi bahan rebutan bagi masyarakat.

2. Gorontalo: Tumbilotohe

Foto: regional.kompas.com

Sebagai provinsi mayoritas muslim terbanyak, Gorontalo ternyata memiliki tradisi tersendiri untuk merayakan lebaran. Tumbilotohe adalah salah satu tradisi asal kota Serambi Madinah dan merupakan salah satu festival unggulan yang ada di Gorontalo. Festival ini hanya akan kalian temui pada saat menjelang lebaran tepatnya empat hari sebelum lebaran.

Saat festival berlangsung, kalian akan disuguhi dengan pemandangan yang indah dan unik. Kalian bisa menyaksikan banyak sekali lampu minyak yang diletakkan masyarakat disetiap penjuru. Mulai dari halaman rumah, atas genteng, sawah-sawah milik penduduk, dan masih banyak lagi. Konon katanya, ada kepercayaan masyarakat Gorontalo bahwa Lailatul Qadar bisa masuk ke dalam rumah apabila pemilik rumah memasang lampu dan menurunkan semua foto yang ada di dalam rumah. Tradisi ini dilaksanakan sepuluh hari terakhir bulan Ramadan.

3. Bengkulu: Ronjok Sayak

Foto: liburmulu.com

Tidak kalah indah dengan tradisi tumbilotohe, masyarakat suku Serawai di Bengkulu juga punya tradisi menyambut lebaran. Ronjok sayak atau bakar gunung merupakan tradisi rutin digelar setiap menjelang lebaran, di mana warga setempat akan menyusun gunung di pekarangan rumah. Gunung yang dimaksud merupakan tumpukan batok kepala yang disusun tinggi ke atas kira-kira tingginya satu meter.

Ketika malam takbir, tumpukan batok kelapa tadi dibakar hingga menjadikan nya sumber cahaya yang menerangi setiap rumah. Hal ini menjadikan pemandangan unik tersendiri dan terkesan spesial untuk menyambut hari Raya Idul Fitri keesokan harinya. Biasanya setelah bakar-bakar, warga melanjutkan acara arak-arakan ke rumah warga untuk meminta kue lebaran. Tradisi ini bertujuan untuk mengkokohkan tali silaturahmi antara warga dan sebagai tanda syukur kepada Sang Ilahi.

4. Kotamobagu: Binarundak

Foto: viva.co.id

Kotamobagu atau di Sulawesi Utara terdapat sebuah tradisi unik yang selalu dilakukan warga untuk merayakan lebaran. Tradisi ini disebut Binarundak biasanya masyarakat melaksanakan pada hari ketiga setelah lebaran dengan membakar lemang.

Sebelum acara utama dimulai, pada pagi hari biasanya para wanita terlebih dahulu menyiapkan lemang-lemang yang akan dibakar. Mulai dari beras ketan sampai rempah-rempah dimasukkan ke dalam bambu yang sudah dilapisi daun pisang. Saat semua sudah siap maka lemang langsung dibakar selama tiga jam dengan cara diputar sesering mungkin agar matangnya merata. Selain mengincar lemang yang gurih dan enak, melalui tradisi ini masyarakat bisa saling berbaur dan menjalin silaturahmi.

5. Pontianak: Festival Meriam Karbit

Foto: pontianakpost.co.id

Kembang api selalu identik dengan kemeriahan malam lebaran. Hal ini menunjukkan sukacita atas datangnya hari kemenangan. Nah, tradisi unik di Pontianak ini selalu menjadi perhatian para wisatawan di kala jelang lebaran namanya festival meriam karbit.

Meriam karbit adalah salah satu permainan tradisional masyarakat Pontianak yang ada dari dulu. Awalnya permainan ini dijadikan sebagai penanda waktu magrib di bulan Ramadan. Namun, seiring berjalannya waktu permainan ini berkembang menjadi salah satu festival yang digandrungi oleh masyarakat ketika menyambut lebaran.

Di malam takbiran bertempat di tepi sungai Kapuas, meriam-meriam yang terbuat dari balok kayu berukuran 1,5 meter itu ditembakkan. Dari tembakan meriam karbit itulah dihasilkan suara menggelegar yang bisa didengar dari penjuru kota Pontianak. Suasana malam lebaran menjadi meriah karena berkolaborasi antara takbiran dengan bunyi khas meriam karbit.

Nah, Guys, keren banget kan? Kalau di kotamu ada tradisi apa? Semoga bermanfaat.