Hai, Takaiters!

Dieng Culture Festival (DCF) sudah biasa diselenggarakan setiap tahunnya. Pada tahun ini, acara Dieng Culture Festival ke 10. Perhelatan acara akan diselenggarakan bulan Suro menurut penanggalan Jawa. Tepatnya pada tanggal 2-4 Agustus 2019 dengan tema The Inspiration Of Culture.  Acara Dieng Culture Festival akan diadakan di Dataran Tinggi Dieng, Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.

Foto: dienbackgpacker.com

Bocah gembel atau anak berambut gimbal, dipercaya oleh masyarakat setempat sebagai titisan para tetua Dieng pada masa silam. Mereka dianggap anak-anak istimewa dan terpilih. Budaya lokal memperlakukan bocah gembel dengan perlakuan special, sehingga mereka cenderung lebih agresif, ekspresif, dan manja.

Masyarakat mempercayai bahwa bocah gembel adalah titisan Kiai Kolodete dan tokoh mitologi lainya yaitu Nyai Roro Ronce. Rambut gimbal mereka tumbuh serta merta atau tidak sejak lahir, dan juga bukan karena faktor keturunan.

Foto: jateng.garudacitizen.com

Pada acara Dieng Culture Festival, anak-anak berambut gimbal ini menjalani ruwatan pemotongan rambut. Rambut mereka dipotong oleh sesepuh Dieng atau pemangku adat setempat.

Sebelumnya, mereka mengikuti prosesi arak-arakan yang disaksikan oleh ribuan wisatawan yang memadati daerah yang dijuluki “Negeri di Atas Awan” itu. Menjelang ruwatan, biasanya bocah gembel memiliki permintaan yang istimewa. Permintaan mereka cukup unik, dari yang simple dan mudah didapatkan, sampai yang bernilai tinggi.

Foto: gayahidup.republika.co.id

Menurut koordinator lapangan Dieng Culture Festival 2019 Khoerul Anam, tahun ini ada sekitar 9 anak gembel yang akan mengikuti ruwatan. Namun demikian, jumlah ini masih bisa berubah seiring makin dekatnya pagelaran acara. Panitia belum bisa memastikan apa permintaan istimewa mereka, karena biasanya keinginan tersebut akan berubah-ubah. Oleh karena itu, panitia baru akan menanyakan jika sudah mendekati acara.

Keunikan permintaan bocah gimbal ini terlihat dari acara Dieng Culture Festival tahun lalu, yang diikuti oleh 12 anak berambut gimbal

  • Anindita Purbaningrum, bocah berusia 6 tahun putri dari Pak Ngahatno dari Desa Tlogowero, Tlogojati, sebelum diruwat, ia meminta sate telur puyuh sebanyak tiga tusuk dan sate ayam dua tusuk, tetapi harus dibeli di depan rumah sakit.
  • Es krim rasa cokelat, permintaan ini diajukan oleh anak bernama Zalia Kiranya Zalia Widardo, yang berusia 4 tahun.
Foto: luthfan.com
  • Ikan lele satu ekor. Bocah gimbal yang meminta ikan lele adalah Nadhira Thafana Pramarseto, 4 tahun.
  • Ponsel, sepeda, boneka, boneka Hello Kitty, dan baju muslim. Permohonan ini diajukan oleh anak perempuan berusia tujuh tahun bernama Aulia Malihatunisa.
  • Anak lima yaitu Fitria Nur Rahmadzani yang meminta sepeda, bakso, wortel, burung kenari, ayam, dan tempe gembus.
Burung Kenari, Foto: sentrabudidaya.com
  • Lain lagi, dengan permintaan Laela Handayani yang berusia 6 tahun yang berasal dari Cikampek Jawa Barat. Ia meminta tablet untuk mainan yang bergambar apel. Setelah ditelusuri, manian yang dimaksud adalah iPhone yang tentu harganya cukup mahal.
Foto: imore.com
  • Anak ketujuh yaitu Mysha Kirana Saputra, 5 tahun yang meminta tiga ekor entok dan sepasang sepatu roda.
  • Salwa Khoirun Nisa, 7 tahun, meminta kerupuk rambak dan permen yupi masing-masing 2 bungkus.
  • Anak gimbal selanjutnya adalah Nibaul Khasanah, berusia enam tahun yang meminta sepeda warna merah jambu dan sepatu sekolah lengkap dengan kaos kakinya.
Biskuit Regal Marie, Foto: bukalapak.com
  • Elsa Fitria, bocah berusia 9 tahun ini meminta roti regal merk Marie sebanyak dua bungkus besar dan kambing jantan. Putri pasangan Nuryanto dan Tutur, asal Desa Sidengkok, Pejawaran, banjarnegara ini terbilang biasa-biasa saja namun cukup unik.
  • Permintaan unik yang mudah dituruti lainnya, misalnya datang dari Nurlela Herawati, meminta kue bolu rasa black forest. Anak perempuan dari Herman dan Aan Daryati adalah anak keturunan Dieng yang orang tuanya tinggal di Tasikmalaya, Jawa Barat.
  • Terakhir adalah Puput Cahyaningsih, anak perempuan yang berusia 7 tahun, yang meminta ponsel dan mercon.

Permintaan unik anak-anak berambut gimbal ini, akan diberikan setelah selesai prosesi pemotongan rambut selesai. Permohonan unik anak-anak tersebut kadang sulit dipahami oleh nalar orang dewasa. Meskipun demikian, ini adalah bentuk budaya yang perlu dihargai.