Seperti tahun sebelumnya, geliat pasar smartphone global tampaknya akan kembali menurun di tahun ini. Berdasarkan prediksi dari International Data Corporation (IDC), penurunan pasar tersebut akan melanjutkan tren yang sudah terlihat sejak dua tahun berturut-turut.

Walaupun ada harapan pertumbuhan year-on-year (YoY) sebesar 2,3 persen di paruh kedua tahun 2019 nanti, angka tersebut masih belum cukup untuk memulihkan. Sumber yang sama memperkirakan pengapalannya bakal turun 0,8 persen dengan total shipment sekitar 1,39 miliar smartphone.

Isu ‘perang pasar’ antara Amerika Serikat (AS) dan vendor asal China, Huawei disebut-sebut sebagai pengaruh. Kendati demikian, tantangan tersebut bukanlah satu-satunya penyebab penjualan smartphone global turun 4,1 persen menjadi 1,4 miliar unit tahun lalu.

Samsung Sebagai Kiblat

Pasar smartphone global
Foto: New Atlas

Memang banyak faktor lain yang menjadi pertanyaan besar. Penjualan smartphone global menunjukkan tren penurunan sejak 2017 lalu. Setidaknya, yang justru menjadi faktor paling kontribusi adalah loyonya penjualan Samsung dan pasar pabrikan China.

Sepanjang kuartal ketiga 2018, pabrikan asal Korea Selatan tersebut mampu menjual 355,2 juta unit smartphone. Jumlah itu mencatatkan penurunan sekitar 6 persen dari tahun ke tahun.

Sebagai pimpinan pangsa pasar, lesunya Samsung seolah-olah menginisiasikan fenomena ini terjadi. Meski masih bertengger di pucuk, market share mereka kini jatuh ke angka 20,3 persen dari 21,1 persen di tahun 2017.

Pihak Samsung sendiri menyadari bahwa pasar mereka terus-terusan tergerus di segmen kelas menengah ke bawah. Stabilitasnya cuma terlihat di segmen high-end mereka. Pendapatan bersih vendor tersebut pun dikabarkan turun 31 persen secara tahunan.

Masih Belum Cukup

smartphone Xiaomi naik dintengah pasar smartphone global menurun
Foto: Android Central

Tidak cuma Samsung, Apple iPhone yang berhasil kembali merebut posisi kedua market share dari Huawei,  juga memperoleh nasib serupa. Raksasa teknologi asal AS itu mengalami pelemahan penjualan, bahkan hampir kehilangan pasar terutama di China.

Berbeda dengan dua pimpinan teratas, vendor-vendor yang berasal dari Negeri Tirai Bambu justru memperlihatkan peningkatan. Pangsa pasar Smartphone China melesat 78 persen berkat penetrasi pasar global dari empat merk teratas mereka yakni Huawei, Xiaomi, Oppo, dan Vivo.

Penetrasi keempat merk ini terbilang cukup membuah hasil di luar China, khususnya di negara-negara berkembang. Bagi pabrikan asal China, ini mungkin saja merupakan harapan di tengah kemerosotan dua pimpinan pangsa pasar.

Kendati demikian, tren positif tersebut masih belum cukup mengimbangi suramnya pertumbuhan industri smartphone global secara umum. Agresivitas ponsel pabrikan China ke wilayah Eropa juga baru dimulai setelah aktivitas pasar mereka kerap dihalangi AS.

Jauh Lebih Suram

pasar smartphone melemah tahun ini
Foto: androidcentral.com

Vendor dengan penjualan terasa China, Huawei, seperti diketahui tengah bergelut dengan efek ketegangan dagang dengan AS saat ini. Isu ini membuat produk ikonik China yang lain, ikut terkena getahnya, begitu pula sebaliknya.

Di luar konflik dagang tersebut, geliat di luar pasar AS terbilang naik. Di Asia sendiri cengkraman pasar mereka cukup masif hingga mampu menggoyahkan dominasi Samsung dan iPhone. India menjadi salah satu keniscayaan pamor mereka.

Lalu, bagaimana jadinya jika vendor-vendor China juga menghadapi penurunan seperti halnya Samsung dan iPhone? Tentu, situasi pasar ponsel global bakal jauh lebih suram dari kondisi saat ini.

Dinamika pasar yang tengah berlangsung bisa saja sedikit terselamatkan oleh performa penjualan Huawei dkk yang memanfaatkan momentum melemahnya dominasi pemain-pemain lama, seperti Samsung dan Apple iPhone.

Era Serba Nanggung?

Era nanggung teknologi smartphone
foto: The Register

Senada dengan IDC, beberapa lembaga riset pasar lain juga meramalkan tren buruk pasaran smartphone dunia akan berlanjut sepanjang tahun 2019. Terpisah, Counterpoint Research merilis temuan serupa dengan perkiraan penurunan sebesar 7 persen di kuartal keempat dan 4 persen penurunan untuk sepanjang tahun.

Dinamika pasar yang melemah disebabkan oleh perkembangan era smartphone yang cenderung stagnan. Inovasi-inovasi yang dijejalkan kepada konsumen hampir bisa dikatakan tidak terlalu mencengangkan dan memaksa konsumen terdorong untuk merasa ‘butuh’.

Lebih jauh, Counterpoint Research melalui wakil direkturnya, Turan Pathak mengatakan bahwa pertumbuhan dan agresivitas penjualan—khususnya perusahaan teknologi China—di pasar-pasar yang tengah berkembang seperti India, Indonesia, Vietnam, hingga Rusia dan beberapa negara Eropa masih belum cukup kuat untuk mengimbanginya.

Dalam beberapa waktu terakhir, arus pasar smartphone tidak memberikan goncangan nilai jual yang berarti. Kehadiran segmen ponsel gaming, ataupun beberapa tawaran atas spesifikasi dan fitur-fitur hanya sekadar menimbulkan kejutan yang begitu nanggung.

Kemungkinan Tumbuh

10 Mitos Keliru Tentang Smartphone yang Patut Kamu Ketahui
Foto: androidpit.com

Dengan lanskap pasar smartphone saat ini, memang memerlukan sebuah alasan yang nantinya dapat memicu geliat penjualan smartphone global kembali tumbuh. Namun, pertanyaan terbesarnya adalah: seperti apa pemicu yang dimaksud?

Tantangan dinamika pasar gadget memang kian kompleks seiring perkembangannya. Pertumbuhan dan jejeran produk baru yang diluncurkan seolah belum cukup mampu menyeret konsumen supaya menyetop kecenderungannya mengulur waktu untuk meng-upgrade ponsel belakangan ini.

Walaupun memperlihatkan penurunan, seyogyanya geliat pasar smartphone sama sekali belum menghasilkan tanda-tanda keruntuhan. Setidaknya, fenomena ini masih bisa dibilang bersifat sementara meskipun ada kemungkinan untuk berlangsung dalam waktu yang lebih lama.

Pandangan paling dekat ke depan, teknologi jaringan 5G adalah kemungkinan yang dirasa paling signifikan. 5G, selain diproyeksikan sebagai oase akan hausnya kecepatan koneksi, opsi ini juga mendukung kepentingan perusahaan operator seluler dalam hal operasional.

Hal tersebut juga diikuti oleh tren ponsel lipat (foldable smartphone) yang gencar menjadi perbincangan. Tapi kesampingkan dulu soal lipatan ponsel, sebab perjalanannya sendiri masih diragukan pada sisi fungsi.

Harapan Bersama

10 Mitos Keliru Tentang Smartphone yang Patut Kamu Ketahui
Foto: iflsscience.com

Di tengah Lanskap pasaran ponsel global yang suram, pertumbuhan realisasi teknologi jaringan 5G sangatlah potensial sebagai pemicu. Wajar apabila teknologi, termasuk smartphone, yang lekat dengan kecepatan berpangku tangan pada rencana ini.

5G hampir dipastikan diproyeksikan sebagai proyek besar. Sebuah juru selamat untuk memunculkan titik balik pasar ponsel kembali pulih. Ketika semua infrastruktur pendukungnya siap, besar kemungkinan pasar ponsel terdorong untuk kembali tumbuh secara masif.

Kita bisa melihat contoh bagaimana jaringan 4G memaksa semua orang beralih. Perusahaan dan konsumen mengusung adegan latah untuk segera bertransisi dari teknologi koneksi generasi sebelumnya.

Pola transisi dari 3G ke 4G, bisa digarap kembali oleh 5G dimana konsumen dibuat mau tidak mau, suka tidak suka, cepat-cepat berpindah ke smartphone yang mendukung teknologi baru. Perusahaan operator pun ikut bermain-main dengan partisi kuota yang menjengkelkan kala itu.

Namun, lagi-lagi, harapan ini membutuhkan waktu. Apalagi kehadirannya tidak bisa langsung dinikmati berdasarkan asas adil dan merata. Kesiapan sektor antar lini sejatinya terkesan saling mendahului, bukannya kompak beriringan.

Ya, begitulah 5G, sebuah harapan ranah teknologi dalam relasi bisnis dan kompetisi untung-rugi. IDC pun memperkirakan tahun 2023 adalah tahun pasaran smartphone bergeliat masif bersama badai konektivitas 5G.

Dan, 2019 tidak boleh dilupakan sebagai tahun awal gelombang modernisasi terjauh di waktu mendatang.