Holla, Takaiters!

Lebaran sebentar lagi, nih! Biasanya Hari Raya Idulfitri identik dengan ketupat, rendang, opor, dan beberapa menu pelengkap lain yang selalu menggugah selera.

Pernahkah kamu berpikir, kenapa sih harus ada ketupat, Guys? Ucapan selamat Hari Raya Idulfitri pun selalu dilengkapi dengan gambar ketupat. Yapt! Ketupat benar-benar tak terpisahkan dari Hari Raya umat Islam. Bagi kamu yang belum tahu sejarahnya, kita bahas bersama, yuk!

Identik dengan hidangan lebaran, ternyata ketupat berasal dari pulau Jawa, Guys

Tradisi Lebaran
Foto: traveltodayindonesia.com

Ketupat sangat lekat dengan makanan khas Asia Tenggara. Ketupat merupakan hidangan berbahan dasar beras yang dibungkus dengan anyaman daun kelapa yang masih muda. Setelah diisi, ketupat ini pun direbus dalam air mendidih hingga matang.

Ketupat pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga kepada masyarakat di pulau Jawa. Sunan Kalijaga mengenalkan dua kali Bakda. Ada Bakda Lebaran dan ada Bakda Kupat.

Masyarakat di pulau Jawa akan menganyam daun kelapa muda pada Bakda Kupat, Guys, yakni seminggu setelah lebaran. Kamu akan melihat rumah-rumah mulai mengepulkan asap untuk merebus ketupat. Hidangan yang identik dengan lebaran ini pun akan dilengkapi dengan opor ayam untuk kemudian diantarkan pada kerabat serta tetangga dekat sebagai wujud kebersamaan.

Dalam filosofi Jawa, ketupat mempunyai makna dalam, lho

Foto: 2.bp.blogspot.com

Ketupat bukan hanya sekadar hidangan lebaran, lho. Dalam filosofi Jawa, ketupat memiliki makna khusus yang sarat akan makna kehidupan, Guys.

Ketupat atau kupat merupakan kepanjangan dari Ngaku Lepat dan Laku Papat. Ngaku Lepat dalam bahasa Jawa berarti mengakui kesalahan kita kepada orang lain. Manusia tentu tidak lepas dari kesalahan, Guys. Karena itulah lebaran dalam tradisi Jawa identik dengan sungkeman kepada orangtua. Tradisi ini dilakukan sebagai wujud ikhlas dan rendah hati untuk meminta maaf terutama pada orang tua.

Sedangkan Laku Papat berarti empat jenis tindakan. Di antaranya adalah lebaran yang berarti terbukanya pintu ampunan usai bulan Ramadan, luberan yang artinya bersedekah kepada orang yang membutuhkan, leburan yang lekat dengan meleburnya dosa, serta laburan yang berarti menjaga hubungan baik antar sesama.

Filosofi ketupat mengajarkan banyak hal, terutama tentang keihklasan untuk saling memaafkan

Foto: Satujam.com

Inilah filosofi ketupat yang harus kamu tahu, Guys. Supaya tidak hanya bisa menikmati lezatnya  ketupat di Hari Raya, tetapi juga bisa memahami maknanya.

  • Rumitnya anyaman ketupat mencerminkan beragamnya kesalahan manusia. Coba kamu ingat, kesalahan apa yang telah kamu lakukan selama setahun terakhir dan belum bisa dilupakan sampai sekarang?
  • Ketika kamu membelah ketupat, maka yang tampak adalah isiannya yang berwarna putih bersih. Isian ketupat identik dengan kebersihan hati, Guys. Berharap semoga segala kesalahan yang dilakukan akan diampuni.
  • Bentuk ketupat yang rumit namun sangat sempurna mencerminkan sebuah kemenangan setelah sebulan berpuasa menahan segala hawa nafsu. Karena itulah ketupat sangat identik dengan lebaran di mana semua umat Islam merayakan kemenangan.
  • Karena disajikan bersama lauk bersantan, maka orang Jawa pun membuat pantun berupa Kupa santen, kulo lepat nyuwun ngapunten yang bermakna saling meminta maaf di hari lebaran.

Itulah sejarah serta filosofi ketupat yang ternyata sarat akan makna kehidupan, Guys. Siapa sangka di balik lezatnya hidangan Hari Raya terdapat pesan tersirat di dalamnya. Jangan cuma doyan makan ketupat saja, ketahui dan amalkan maknanya, ya!