Halo, Takaiters!

Adu kaki adalah salah satu tradisi orang Toraja yang cukup unik dan mungkin satu-satunya di Indonesia, bahkan dunia. Supaya tidak salah paham, yuk, kita kenali fakta tentang Sisemba atau tradisi dimana orang saling tendang atau menendang secara bebas bahkan dilakukan secara massal.

1. Diadakan Setiap Panen Raya

Tradisi Sisemba dari Toraja
Foto: idntimes.com

Tradisi Sisemba biasa diadakan pada saat pesta perayaan panen raya. Lokasi yang digunakan biasanya diarea persawahan yang baru saja selesai dipanen atau dilapangan yang luas dan berlumpur.

Tradisi ini dilakukan dalam perayaan pesta panen, bukan hanya sekedar permainan adu kaki atau hiburan semata. Namun, juga diyakini dapat mengantisipasi gagal panen serta bisa meningkatkan hasil pertanian ditahun berikutnya.

2. Dilakukan Secara Massal

tradisi sisemba dari toraja
Foto: idntimes.com

Tradisi adu kaki biasanya dimulai dari pertarungan antar kelompok yang terdiri dari anak-anak yang berusia 10 sampai 15 tahun. Setelah selesai, mereka menyingkirkan dan dilanjutkan para petarung remaja dan dewasa mulai berkumpul, lalu mengambil alih arena permainan.

Peserta adu kaki hanya dilakukan oleh kaum pria, pesertanya pun selalu membludak karena memang dilakukan secara massal. Permainan yang lumayan keras dan terlihat brutal sehingga risiko mengalami cedera sangat tinggi. Meski begitu, kecelakaan serius sangat jarang terjadi dalam permainan ini.

3. Peserta Diwajibkan Berpasangan dan Tidak Dibolehkan Menggunakan Tangan

Fakta tradisi sisemba dari toraja
Foto: foto.tempo.co

Sisemba atau permainan adu kaki dimainkan oleh dua kubu yang berbeda. Bisanya antara warga kampung yang menjadi tuan rumah penyelenggara pesta panen melawan warga kampung tetangga.

Uniknya, permainan ini hanya melibatkan kaki karena itu para petarung dari setiap kubu wajib berpasangan dengan cara bergandengan tangan, baik ketika menyerang lawan atau dalam posisi bertahan. Tidak boleh menyerang lawan menggunakan tangan, seperti memukul atau melempar.

4. Dilarang Menyerang Lawan yang Terjatuh

Foto: antarafoto.com

Peserta yang terjatuh atau terlepas dari genggaman pasangannya tidak boleh diserang lagi, asal segera mengangkat kedua tangannya sebagai tanda tidak siap menerima serangan. Para tokoh adat atau warga yang dituakan akan berjaga-jaga di sekitar pertarungan, mereka bertindak sebagai wasit yang mengawasi dan memisahkan peserta yang dianggap terlalu kasar dan berlebihan agar pertarungan berlangsung secara aman dan sportif.

5. Tidak Boleh Ada Dendam Setelah Permainan Berakhir

Foto: twitter.com/letsgonesia

Dalam permainan ini, tradisi sisemba tidak hanya mengandalkan kelincahan kaki dan kekuatan fisik para petarung, tetapi juga keberanian mental dan melibatkan emosi antar pemain di sepanjang jalannya pertarungan. Dan menariknya, emosi para petarung hanya ada dalam arena dan sepanjang pertarungan berlangsung.

Setelah berakhir, mereka kembali berdamai dan tidak ada yang membawa dendam, karena selain sebagai tradisi, pertarungan ini hanya dianggap sebagai ajang hiburan semata.

6. Ketika Cedera atau Kematian Tidak Akan Dimintai Pertanggungjawaban

Foto: viva.co.id

Namanya saja adu kaki, tentu setiap orang yang ikut permainan ini bisa saja mengalami cedera. Mulai dari sekedar terluka, patah tulang, sampai meninggal dunia. Jika hal tersebut menimpa seorang petarung, tidak ada seorangpun yang akan dimintai pertanggungjawaban.

Bahkan jika seorang petarung sampai meninggal dunia, maka kematiannya akan dianggap sia-sia dan diistilahkan sebagai ‘mati karena diinjak kerbau’. Hal ini yang membuat disetiap permainan sisemba akan selalu ada orang yang bertindak sebagai pelerai guna menghindari segala risiko yang tidak diinginkan.

7. Beberapa Petarung Menggunakan Mantra agar Menghindari Rasa Sakit

Foto : ruang kata

Setiap petarung tangguh selalu mengandalkan kekuatan kaki dan kelincahan gerak tubuh ketika menendang, juga kekuatan fisik sewaktu menerima serangan dari pihak lawan. Namun ada sebagian petarung, mengandalkan kekuatan fisik belumlah cukup tanpa menggunakan panimbolo’ sebagai pelindung. Panimbolo’ adalah mantra-mantra yang bermacam-macam bentuknya dan caranya, seperti benda atau baca-bacan.

Takaiters, gimana faktanya tradisi sisemba, menarik sekali, bukan? Jika kalian tertarik, yuk, datang ke tanah Toraja.