Ramainya perbincangan politik yang ditayangkan di media tanah air, seolah telah menjadi santapan harian masyarakat Indonesia. Bahkan hampir semua siaran televisi tanah air menyajikan perdebatan politik. Mendadak lahirnya politikus yang tiba-tiba saja cerdas mengadu domba. Fakta ini sungguh sangat menyedihkan, media tidak lagi melirik kebudayaan nusantara kita sebagai topik menarik untuk menjadi santapan informasi masyarakat Indonesia.

Indonesia sangat kaya dengan tradisi kebudayaan daerah, mulai dari sabang sampai merauke. Taman Mini Indonesia Indah (TMII) telah menjadi miniatur Indonesia dengan penyajikan keragaman suku, agama lengkap dengan informasi tradisi kebudayaan masing-masing daerah yang sangat bhineka.

Konon, cerita pemerintah Orde Baru membangun TMII sebagai salah satu pusat informasi kebudayaan Indonesia yang sangat beragam. Jadi, meskipun tidak lagi sampai ke Papua, tetapi kita dapat mengunjungi ibukota dan datang ke TMII sekedar mengenal kebudayaan Papua.

Elsi Reno Putri, salah seorang pengunjung TMII yang sempat ditemui Tim Takaitu.com mengaku menyimpan kenangan masa kecil saat berada di TMII. Menurutnya, ketika dulu Ia tinggal di Sumatera Barat perbincangan tentang TMII sangat ramai diperbincangkan sebagai salah satu tempat wisata budaya Indonesia di Ibukota.

“ Dulu waktu masih tinggal di Padang sangat besar keinginan untuk datang ke TMII untuk menyaksikan keragaman budaya Indonesia, tetapi setelah sekarang saya tinggal di Jakarta sepertinya TMII sudah tidak lagi ramai pengunjung, dan beberapa miniatur rumah adat yang dulu pernah saya kunjungi saat ini nampak tidak lagi terawat,” ungkap wanita asal Padang itu.

PILIHAN EDITOR

Hingga kini TMII memang masih berdiri tegak, meskipun sudah kalah menarik dari banyaknya arena wisata yang sudah sangat beragam di Ibukota. TMII  tidak lagi menjadi rekomendasi utama keluarga untuk berwisata, meskipun dengan harga tiket masuk yang sangat murah.

Dengan harga tiket masuk Rp 10.000 rupiah saja, pengunjung dapat mengunjungi  berbagai museum kebudayaan lengkap dengan miniatur rumah adat Indonesia yang tersebar di lahan seluas 150 hektar tersebut. Masih banyak lagi tentunya yang dapat dilihat dilokasi wisata budaya kebanggaan Indonesia ini, yang dibangun atas gagasan dari Ibu Tien Soeharto pada tahun 1972 silam.

Banyaknya media siaran di tanah air sepertinya belum lagi menjadi alasan kuat untuk menciptakan satu program siaran kebudayaan sebagai sebuah siaran yang informatif dan menarik sebagai tontonan.

Sebut saja Hasan salah seorang petugas TMII yang juga ditemui Tim Takaitu.com menjelaskan, pihak TMII hingga saat ini memiliki berbagai kegiatan kebudayaan dari seluruh tanah air, meskipun pihak TMII sudah mengundang awak media sebagai media pathner, namun berita tentang TMII tidak seheboh pemberitaan politik.

“ TMII tidak pernah berhenti melakukan upaya publikasi melalui website dan media sosial, dan TMII juga tentunya terus menggandeng media pathner. Namun memang kenyataannya pengunjung TMII tidak seramai ketika masa Orde Baru, minat media sekarang sepertinya lebih kepada debat politik,” ungkap Hasan lebih lanjut.

Kalau bukan kita siapa lagi yang menjaga kelestarian kebudayaan Indonesia ini..