PSSI juga butuh jalankan taktik false nine

Taktik False Nine Untuk Federasi Sepakbola Kita

Heiyo, Takaiters!

Jabatan ketua umum PSSI, resmi kosong sudah—enggak kosong-kosong amat sih sebenarnya. Kursi itu perlahan jadi dingin sepeninggal Edy Rahmayadi yang memutuskan mundur. Ya, mundur dengan segelintir catatan kontroversional.

Sepeninggal beliau, PSSI kembali menjadi sorotan. Cekcok soal siapa yang pantas untuk menggantikan Lord Edy; mengambang ke permukaan. Sepak bola yang merupakan kebutuhan masyarakat kita, jelas sangat wajar untuk jadi perbincangan penting—buat kembali menyatukan polaritas “Cebong vs Kampr*t”.

Ada beberapa nama yang mencuat untuk mengganti kekuasaan PSSI. Ada nama yang diajukan. Ada juga nama yang mengajukan diri. Erick Thohir yang punya pengalaman dalam industri sepakbola disebut-sebut pantas untuk kembali menghangatkan kursi itu.

Berbeda dengan Thohir, Muhaimin Iskandar alis Cak Imin justru memilih memasukkan namanya sendiri ke dalam bursa pengganti ketum PSSI sebelumnya. Beliau bilang siap untuk memimpin federasi sepakbola kita dengan segala peninggalan marwah oragnisasi, ya… yang segitu-segitu aja itu.

Tidak berhenti di situ saja, Basuki Tjahya Purnama (BTP) alias Pak Ahok pun mendadak disebut-sebut sebagai sosok yang tepat untuk menerima jabatan tersebut. Pak Ahok yang baru saja menghirup udara bebas langsung memperoleh dukungan untuk mengemban tugas berat ini.

Tapi, kita juga perlu berpikir bahwa organisasi sekelas PSSI adalah tugas berat. Mengingat PSSI ibarat sebuah partai yang bukan hanya membawa harapan segelintir golongan. Organisasi ini turut membawa harapan dan kepentingan masyarakat kita yang haus akan torehan prestasi lewat sepak bola.

Belum lagi jika melihat jejeran nama ketua umum sebelumnya, meninggalkan PSSI dalam kondisi yang tidak stabil. Kursi kosong biasanya direspon dengan banyak kegaduhan soal ketidakbecusan pengurus terdahulu yang dibarengi oleh “siapa sosok yang pantas mengambil alih” tampuk kekuasaan.

Stabilitas yang ditinggalkan PSSI kali ini lagi-lagi menimbulkan topik yang begitu klise. Suda dianggap ragu-ragu, lambat mengambil keputusan, sampai terkesan bimbang pada apa yang seharusnya diusut. Fixed, wajar kalau harapan-harapan yang menempel berubah jadi celaan.

Seolah menjadi ciri khas alamiah, PSSI selalu bertransisi dengan iring-iringan kekecewaan yang sungguh ‘menghibur’ umat. Jejak-jejak peninggalan deretan rezim PSSI selalu berbuah negatif.

Federasi sepak bola kita tampak betah dengan ancaman publik. Bisa saja masyarakat bersikap ‘apolitis’ karena suguhan sepak bola dalam negeri tidak kunjung becus. Tapi, untung pemilihan ketum PSSI tidak memakai sistem seperti halnya pilpres. Untung buat PSSI.

Melihat dengung pesimistis pada tubuh PSSI—hingga—saat ini, seharusnya bukan barang tentu ideal buat direbutin. Tiga nama di atas belum tentu powerfull juga mengentaskan arah buruk tersebut.

Bahkan, bisa saja tiga nama yang digadang-gadang itu, justru hanya melanjutkan apa yang diperoleh Lord Edy—atau rezim-rezim PSSI sebelumnya—selama dan selepas ia menjabat nanti. Namun, adakah orang yang benar-benar berani mengubah ‘tabiat’ lama PSSI itu?

Nah, kalaupun ada… sosok calon ketum ini tidak hanya menyangkut soal kapabilitas dan indentitas personal, Rosalina. Mereka harus dilihat dari seberapa siap mereka menerima hujatan, dipersalahkan atas alasan prestasi, dan ciri-ciri khas lain dari organisasi yang akan ia pimpin. Ini demi kebaikan sang calon juga kedepannya.

Posisi Ketua Umum adalah posisi yang amat sangat strategis. Ya, jadi pemimpin udah dari sononya emang susah, sih. Untuk memimpin PSSI dengan peninggalan artefak yang terbengkalai dan prasasti usang, tentu lebih sulit lagi.

Kita bayangkan saja kemungkinan terburuknya. Kepada ketum baru PSSI yang nantinya jadi, siap enggak kira-kira diserang dan jadi objek bullying publik? Kualitas tidurmu mungkin tidak akan senyenyak sebelumnya.

Seperti halnya Edy Rahmayadi, sang mantan ketua umum, nama-nama seperti Erick Thohir, Basuki Tjahja Purnama, dan Cak Imin sekalipun punya tantangan yang sama. Membawa PSSI ke arah yang lebih baik? Iya jelas, walaupun itu sifatnya klise banget.

Yang lebih urgent adalah menempatkan posisi para calon ketua umum, secara personal; aman dari posisi rawan bullying itu selama ini. Komite Perubahan Sepak Bola Nasioanl (KPSN) mendandak muncul semasa Edy Rahmayadi menjabat. Entah komisi tandingan apa lagi selanjutnya.

Bisa saja kan, dalam perjalanan calon ketum baru akan didesak mundur? Dari tubuh KPSN sendiri juga dikabarkan menyiapkan ancang-ancang mengambil alih kekosongan di tubuh PSSI kali ini. Kenapa PSSI selalu berhadapan dengan praktik-praktik oposisi dan dualisme begini?

Urusan PSSI sudah sering banget dicampuri. Itu karena saking hambarnya kepengurusan federasi tersebut. Kalau saya boleh usul, sudah saatnya PSSI berganti taktik lawasnya. Seperti halnya sepak bola, harus ada skema baru seperti false nine, misalnya.

Sudah disinggung sebelumnya, ketum adalah posisi strategis. Posisi yang punya dua sisi sekaligus, baik dan jahat. Sayangnya posisi itu lebih sering ditinggal dengan kesan buruk. Siapa lagi yang paling disalahkan kalau bukan sang ketua?

Karena itulah, PSSI mungkin perlu sosok yang mampu memerankan false nine atau si nomor 9 palsu. Ini lebih digunakan untuk meminimalisir ketua umum yang selalu jadi bulan-bulanan apabila dinilai gagal.

Ketua umum yang kerap kali dihadapkan pada posisi striker yang mesti mencetak gol. PSSI kita seakan mirip striker yang mandul, gelandang yang minim kreasi, bek yang jarang intersep, winger yang malas lari, atau kiper yang enggak pernah clean sheet sama sekali. Bahkan sampai seperti nasib pelatih yang belum dapat gaji. Kes(ek)ian kali…

Posisi ketua umum itu memanglah merupakan ‘pemain’ andalan yang dinilai mampu membawa timnya menang. Tapi pas gagal, wajar kalau fans jadi ngambek dan kecewa. Apalagi gagalnya itu karena kebanyakan blunder.

Peran false nine kan bukan melulu soal cetak gol, melainkan membuka ruang dan mengatur pertandingan. Lagi-lagi, taktik ini jatuh juga ke langkah taktis yang butuh sosok-sosok dengan kapabilitas yang jelas.

Menerapkan taktik ini tentu perlu kejeniusan. Perhatikan baik-baik, untuk memainkan strategi ini butuh sosok seperti Nandor Hidegkuti atau sekaliber pangeran Roma, Francesco Totti. PSSI juga harus paham sama ginian. Titik!

Saya kira, ketua umum bukan sekedar posisi aja, tapi lebih ke peran yang benar-benar bisa membawa pengaruh signifikan. Dalam hal false nine, kita tidak membicarakan kekosongan yang diisi kekosongan. Tapi, kita bicara soal peran. Enggak cuma soal berdiri paling depan apalagi sampai rangkap posisi jabatan.

Jadi, bisa enggak rezim PSSI selanjutnya nanti mampu memainkan bola lebih lama? Karena false nine tidak sekedar mengisi posisi penyerang yang didekap cedera berkepanjangan. Kalaupun nanti gagal lagi, bilang saja: “peran saya bukan cuma nyetak angka,” buat jadi alasan.

Sudah saatnya juga nih, ketua umum PSSI periode selanjutnya itu datang dari kalangan fans Tsubasa Ozoura. Minimal ya, mirip-mirip Hanamichi Sakuragi gitu lah…

Kalau enggak false nine, paling enggak ya keringetanlah sedikit. Biar enggak gitu-gitu aja bawaannya.