Halo, Takaiters!

Beberapa waktu yang lalu, kisah Bunga Cinta Lestari (BCL) yang ditinggalkan suami tercintanya, Ashraf Sinclair, secara mendadak menjadi viral di jagad maya. Banyak netizen yang ikut sedih. Apalagi, ketika melihat BCL dan putra semata wayangnya menangis di pusara Ashraf Sinclair di pemakaman San Diego Hills, Karawang, Jawa Barat.

Ya, cinta yang dirajut BCL dan Ashraf sekian tahun lamanya mengarungi biduk rumah tangga harus terpisah oleh maut. Kisah cinta mereka nyaris tanpa gosip miring. Adem ayem saja. Mereka pun disebut pasangan yang layak jadi contoh.

Pasangan yang saling cinta, sampai akhirnya maut memisahkan. Nah, masih soal kisah pasangan yang dipisahkan maut, ada juga cerita dari bumi Serambi Makkah yang tak kalah mengharukan. Tidak kalah dramatis. Keduanya saling cinta, saling dukung, sampai akhirnya maut memisahkan.

Kisah Cut Nyak Dhien yang Tak Kalah Mengharukan

Kamu pasti tahu siapa itu Cut Nyak Dhien, wanita hebat asal Aceh. Wanita yang dinobatkan pemerintah sebagai pahlawan Nasional karena keberaniannya melawan penjajah Belanda. Jika kamu tak hapal siapa Cut Nyak Dhien, rasanya kebangetan, tidak hapal siapa pahlawan nasionalnya sendiri. Takaiters pastinya hapal karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya.

Dikutip dari buku, ” Tokoh Indonesia Teladan,” yang disusun Direktorat Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum Kementerian Dalam Negeri (2017), dikisahkan saat perang Aceh pecah.

Pada tahun 1873,  perang Aceh pecah. Perang antara para pejuang bumi Serambi Mekkah melawan penjajah Belanda. Nah, salah satu yang tampil garang melawan Belanda adalah Teuku Cik Ibrahim. Ia suami pertama Cut Nyak Dhien. Sebagai istri, Cut Nyak Dhien mendukung penuh perjuangan suami tercintanya.

Perpisahan dengan Suami yang Berperang Melawan Belanda

Awalnya, Cut Nyak Dhien tak ikut berperang. Pada 28 Desember 1875, Teuku Cik Ibrahim, meminta istrinya mengungsi dari Lampadang, kampung halamannya. Ia pun berpisah dengan suaminya yang meneruskan perjuangannya berperang lawan Belanda.

Suaminya menyiapkan 70 orang untuk mengawal istri dan anaknya. Perlawanan para pejuang Aceh yang habis-habisan, membuat pasukan Belanda sempat keteteran. Pihak Belanda pun sampai harus mendatangkan bala bantuan pasukan dari Jawa. Banyak cerita kekejaman serdadu penjajah saat memburu para pejuang Aceh yang melawan habis-habisan.

Satu waktu, di daerah Sea Glee, pasukan Belanda mendapat perlawanan sengit dari pejuang Aceh yang dipimpin oleh Teuku Cik Ibrahim. Namun, malang dalam pertempuran itu, Teuku Ajat, adik dari Teuku Ibrahim tertembak tepat di kepalanya. Teuku Ibrahim pun segera memangku tubuh adiknya. Teuku Nyak Man, sahabatnya, sempat berteriak meminta agar Teuku Ibrahim menghindar sebab desingan peluru serdadu Belanda terus menghujani.

Namun dengan heroik, Teuku Cik Ibrahim menyelamatkan nyawa Teuku Nyak Man,  ketika sahabatnya itu dibidik tentara Belanda. Tragedi pun terjadi. Satu peluru berdesing lalu menghajar kepala Teuku Cik Ibrahim. Teuku Nyak Man yang diselamatkan berusaha membawa tubuh Teuku Cik Ibrahim yang tertembak dan bersimbah darah.

Bertemu untuk Berpisah

Sayang nyawa Teuku Cik Ibrahim tak bisa diselamatkan. Ia gugur membela agama dan kedaulatan tanah airnya.  Selanjutnya jenazah Teuku Cik Ibrahim itu dibawa ke tempat Cut Nyak Dhien mengungsi. Betapa hancurnya perasaan Cut Nyak Dhien melihat jenazah suami tercintanya. Sekian lama berpisah, saat bertemu, justru suaminya telah terbujur kaku.

Tangisnya meledak. Dengan bersimpuh di samping jenazah suami, Cut Nyak Dhien meratap sedih. Lalu, ucapan duka yang mendalam pun keluar dari mulutnya.

“Kenapakah kau tinggalkan kami, siapakah penggantimu untuk meneruskan perjuangan yang panjang ini?”

Ayah Cut Nyak Dien, Teuku Nanta coba memenangkan anaknya. Ia minta putrinya untuk tabah dan ikhlas melepas kepergian suaminya tercinta. Kata Teuku Nanta, Teuku Ibrahim mati syahid. Membela agama dan tanah airnya. Sejarah pun mencatat, Cut Nyak Dhien kemudian menikah lagi dengan Teuku Umar, seorang pejuang Aceh yang tak kalah garang melawan Belanda.

Cut Nyak  Dhien Tak Pernah Surut Langkah

Bersama sang suami, Cut Nyak Dhien bahu membahu memimpin perlawanan  melawan penjajah Belanda. Sampai akhirnya, Cut Nyak Dhien kembali harus kehilangan suami tercintanya yang gugur di medan peperangan. Namun, bukannya surut langkah, Cut Nyak Dhien melanjutkan perlawanan hingga ia ditangkap serdadu Belanda. Oleh pemerintah kolonial Belanda, wanita Aceh yang gagah berani itu kemudian diasingkan ke Sumedang, Jawa Barat. Tujuannya untuk memutuskan pengaruh Cut Nyak Dhien terhadap pendukungnya. Di Sumedang, Cut Nyak Dhien wafat. Di tanah Parahiyangan itu pula ia dimakamkan.

Demikian sepenggal kisah tentang Cut Nyak Dhien. Semoga jadi inspirasi.