Heiyo, Takaiters!

Udah enggak kerasa kita semua bakal meninggalkan tahun ini untuk tahun yang baru. Tentu udah banyak banget kenangan yang diukir selama setahun penuh. Kamu yang super sibuk dengan banyak kegiatan sepertinya butuh waktu untuk bernapas dan beristirahat dari hiruk-pikuk.

Namun, dari banyaknya segala hal yang kita tempuh, khususnya waktu yang terjerat oleh aktivitas kerja atau kewajiban studi, jelas bukan cuma soal kebahagiaan saja. Ada banyak sedihnya juga, kan? Rasa lelah sampai bosan akibat itu semua adalah sejumlah kepelikan yang datang karena semua rutinitas.

Nah, tiba waktunya kita tidak ragu-ragu buat manfaatin jatah liburan akhir tahun kali ini. Hal ini penting buat me-refresh kepala kita yang keruwetannya itu udah kayak jalanan ibu kota. Karena, ritme kesibukan itu sejatinya butuh jeda juga, bukan?

Apakah Libur Adalah Sepenuhnya Solusi? Kayaknya Enggak, deh.

Foto: pexels.com

Lantas, tahun depan nanti bagaimana? Apakah bakal masih sibuk atau bakalan tambah sibuk lagi? Apakah jeda lewat liburan dan sistem cuti sepenuhnya bikin kita dan orang-orang sibuk lainnya bisa recovery?

Melihat situasi yang sekarang, hampir semua orang rentan stres sama urusan pekerjaannya. Ya, minimal punya keluhan lah. Entah sama rekan kerja, bos, klien atau bahkan sama diri sendiri.

Kalau cuma sekadar libur atau cuti, sih, agaknya kita enggak perlu berharap banyak. Dan, pada akhirnya, kita perlu mencari opsi alternatif lain untuk bisa lebih berpeluang untuk berkelit dari kesibukan yang selama ini menjerat konsentrasi.

Enggak mau kan, kehidupan kita melulu urusan kerjaan aja? Karena itu, work life balance mulai ramai dibicarakan belakangan ini. Konsep ini tuh, diklaim bisa bikin kita lebih punya ruang untuk terhindar dari stres.

Stres Bikin Produktivitas Terganggu

Foto: pexels.com

Sudah bukan rahasia lagi kalau stres itu jadi makanan manusia setiap hari. Terlebih kalau kita bicara soal para pekerja. Dunia pekerjaan memang sangat akrab sama persoalan ini. Tekanan kerja biasanya jadi sumber utama perasaan itu muncul. Kemudian, bikin produtivitas kita menurun.

Gangguan produktivitas ini biasanya terlihat dari konsentrasi kita lebih cepat buyar. Selain itu, pelupa dan kurang proaktif juga termasuk dalam potensi dari gejala tersebut. Mengandalkan air mineral segalon juga belum tentu bisa signifikan membantu.

Bukan cuma tekanan kerja saja yang bisa memicu stres. Lingkungan dan budaya kerja juga ikut mempengaruhi. Belum lagi, perjalanan ke tempat kerja yang penuh macet pun ikut andil, lo! Pejuan kemacetan lalu lintas mana suaranya? Hehe ….

Work Life Balance Muncul Jadi Opsi

Foto: hrmagazine.com

Terus, kenapa konsep work life balance ini mengaum serta mengklaim diri sebagai salah satu opsi? Sesuai dengan istilahnya, konsep ini merupakan cara untuk menyeimbangkan antara kehidupan sosial dan kerja.

Dengan kepercayaan serta beberapa cara, konsep ini sebenarnya bisa dicapai oleh setiap pekerja. Namun, ada banyak indikator yang memperlihatkan bahwa banyak dari kita juga belum mencapai dan menerapkan konsep tersebut.

Yang perlu diketahui, nih, pencapaian keseimbangan yang dimaksud di sini tuh, relatif dan berbeda buat masing-masing orang. Perbedaan ini muncul lantaran setiap orang itu unik! Iya, sama kayak Takaitu yang beda dari yang lain. Asik …

Di samping urusan kerja, kita sejatinya perlu ingat bahwa rotasi kehidupan tidak melulu soal itu. Hal itu juga berlaku bagi seorang workaholic sekali pun. Meskipun kinerja kita amat bagus dalam urusan pekerjaan, kalau kehidupan sosial kita berantakan, ya, jatuhnya sama saja, kan?

Lantas nih, apa aja sih yang membuat konsep ini begitu penting buat diterapin?

1. Menawarkan Variasi Penghalau Stres

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, stres cenderung muncul akibat kita yang kelewat sibuk. Keterlaluan sibuk sama kerjaan bikin kita rentan kelelahan, baik kelelahan fisik maupun secara mental.

Konsep work life balance ini muncul nawarin diri sebagai tameng supaya kita nggak rentan sama masalah klise dunia kerja itu. Kita jadi terdorong buat memposisikan waktu; mana yang untuk jam sibuk dan mana untuk bersosialisasi.

2. Bikin Lebih Produktif, Bukan Melulu Sibuk

Menyeimbangkan waktu antara kerja dan kehidupan pribadi ngasih kita semacam space buat jeda dari keruwetan kita di jam-jam kerja. Melulu sibuk bikin kita rentan lelah dan stres. Lalu, situasi itu bikin kinerja kita bisa meleset jauh dari kata produktif.

Hal ini juga bikin kita bisa ‘libur’ dalam durasi pendek. Jeda itu memungkinkan kita dapat kesempatan recovery. Seperti, istirahat yang cukup, ngelakuin me time atau hobi yang menyenangkan. Jadi, kita enggak perlu terus berharap: kapan libur panjang atau jatah cuti datang menghampiri.

3. Tidak Menelantarkan Urisan Lain Kehidupan

Selain kehidupan kerja, apa urusan kita lainnya? Jawabannya bisa keluarga, teman, dan juntrungan sosial lainnya. Dengan penerapan work life balance ini, kita jadi tidak serta-merta menelantarkan bahwa kita juga punya kehidupan lain selain urusan kerja.

Waktu dalam sehari yang kita bagi, akhirnya bakal memicu kita mengendalikan serta menjaga kualitas hidup sebagaimananya seorang manusia biasa yang tidak luput dari dosa dan putus cinta. Ehem ….

4. Waktu Harian Tidak Habis Buat Kerja Terus

Di luar dari akhir pekan, dalam 24 jam yang berjumlah lima hari itu rata-rata lebih banyak habis oleh kesibukan kerja. Lewat pola itu, kita biasanya akan mengharapkan libur berdurasi per hari, per minggu, per bulan, bahkan setahun penuh. Setelah libur pun sibuk lagi.

Nah, dengan gaya work life balance yang presisi itu lah yang bikin kita yakin buat ngambil libur di sela-sela harian. Satu menit dua menit, atau sejam dua jam, itu juga bisa jadi jatah libur kita. Contohnya kurang-lebih begini:

“Nggak kerja?”

“Lagi libur, nih.”

“Libur? Sampai kapan?”

“Sekitar empat jam ke depan.”

5. Punya Ruang Bahagia yang Lain

Kalau waktu hidup kita melulu habis dengan urusan kerja, kita secara otomatis lebih cenderung bakal menuntut kebahagian lewat tekanan dan prestasi kerja. Dan, pencapaian itu mungkin akal jauh lebih sulit terjadi, karena banyaknya kepentingan di dalamnya.

Balancing yang didapat dari konsep ini mampu menstimulasi orang untuk tahu bahwa ruang bahagianya tidak melulu berpatok pada gaji. Sebuah studi dari Accenture, menyebutkan bahwa taraf work life balance juga merupakan indikator baru kesuksesan seseorang.

Kebahagiaan juga mengacu serta bersumber pada kualitas pencapaian hidup kita di ranah pribadi, lo, Takaiters. Kepikiran enggak kira-kira, kalau work life balance itu jadi bahan resolusi-mu tahun depan? Nah ….