Hi, Takaiters!

Kabar duka kembali melanda dunia penerbangan Indonesia. Sabtu, 9 Januari 2020 sekitar pukul 14.40 WIB, pesawat Sriwijaya Air SJ 182 dengan nomor registrasi PK CLC rute Jakarta-Pontianak, mengalami kecelakaan dan jatuh di sekitar perairan Kepulauan Seribu.

Di dalam pesawat tersebut, terdapat 40 penumpang dewasa, 7 anak-anak, 3 bayi dan 12 kru pesawat. Yang kesemuanya kemungkinan besar tidak ada yang selamat.

Saat ini, upaya evakuasi korban maupun puing-puing pesawat masih terus dilakukan oleh Basarnas dengan dibantu dari unsur TNI dan pihak lain yang terkait, yaitu KNKT dan Kepolisian untuk keperluan identivikasi jenazah.

Pesawat Sriwijaya Air yang mengalami musibah tersebut adalah jenis pesawat Boeing 737-500 yang sudah berumur lebih dari 26 tahun. Sudah tua ternyata, Takaiters.

Lantas bagaimana spesifikasi dari Boeing 737-500 tersebut?

spesifikasi Boeing 737-500 sriwijaya air
Foto: tirto.id

Pesawat jenis 737 dibuat di  Pabrik  Boeing Field, di Seattle, Amerika Serikat, yang juga menjadi basis produksi B-17 Flying Fortress, B-52 Stratofortress dan Jet XB-47 Stratojet.

Boeing seri 737 adalah pesawat yang paling laris. Sampai dengan tahun 2014, Boeing mencatatkan penjualan hingga 8000 unit. Menjadi pesaing utama dari Airbus A320.

Boieng 737-500 sendiri mencatatkan produksi 398 unit sampai tahun 1990. Merupakan varian terpendek dari seri 737 Clasic, yaitu 737-300 dan 737-400. Terbang pertama kali pada Juni 1989. Dan mulai dioperasikan pertama kali pada tahun 1990.

Ditenagai mesin ganda (twin jet) turbo CFM56, pihak Boeing mengklaim pesawat tersebut lebih hemat bahan bakar. Memiliki panjang 31,01 meter dengan ketinggian 11,13 meter. Bentang sayap mencapai 28,88 meter.

Pasawat dengan tipe jarak jelajah menengah ini, mempunyai kapasitas tempat duduk sebanyak  132 dan tambahan dua tempat duduk untuk pramugari.

Informasi mengenai Mesin Turbo CFM56

Mesin turbo CFM56 mampu melesakkan pesawat hingga kecepatan 912 kilometer per jam. Namun pilot biasanya memacu mesin tersebut pada kecepatan ekonomi yaitu 795 kilometer perjam. Untuk daya jangkauan, pesawat ini memiliki daya jangkauan mencapai 4.444 kilometer.

Jenis mesin turbofan yang diaplikasikan di CFM56, adalah jenis mesin yang banyak digunakan pada pesawat komersil. Prinsip kerjanya hampir sama dengan mesin turboprop. Yaitu memindahkan daya gas dari turbin untuk menghasilkan daya dorong, sehingga menghasilkan gaya kinetis.

Kelebihan mesin turbofan antara lain tidak terlalu berisik jika dibandingkan dengan turbojet. Dari penggunaan bahan bakar juga lebih irit. Performa mesin yang lebih terkontrol, serta daya dorong lebih kuat sebesar 75 persen.

Sedangkan kekurangan dari jenis mesin turbofan adalah bobot yang berat dan ukuran besar sehingga memakan lebih banyak ruang, serta kurang efisien pada altitude tinggi.

Nah, itu Guys, sedikit uraian tentang spesifikasi pesawat Boeing 737-500 yang mengalami musibah di Perairan Kepulauan seribu.

Semoga musibah tersebut dapat menjadikan hikmah bagi siapa saja. Terutama semakin menyadarkan kita akan kekuasaan Tuhan Pencipta alam.

Semoga arwah para korban mendapatkan tempat yang layak disii-Nya. Dan kepada keluarga korban, selalu mendapatkan ketabahan dan jalan penghiburan.

Dan untuk kita semua, jangan lupa berdoa dalam setiap perjalanan.