Hai, Takaiters!

Hari ini tanggal 30 Maret adalah hari diperingatinya perfilman Indonesia. Dipilihnya tanggal ini karena merupakan hari pertama di mana dilakukan pengambilan gambar film Darah dan Doa atau Long March of Siliwangi, yaitu film pertama yang bercirikan Indonesia. Film ini disutradai oleh Umar Ismail yang juga dinobatkan sebagai bapak perfilman nasional.

Dunia perfilman di Indonesia mengalami pasang surut. Pada era 80-an, perfilman Indonesia sangat berkembang pesat bahkan film-film Indonesia merajai seluruh bioskop-bioskop lokal. Pada era itu, ajang penghargaan kepada insan-insan perfilman juga berlangsung secara berkesinambungan. Pemberian penghargaan tersebut dimaksudkan untuk memberikan apresiasi kepada insan perfilman agar terus berkarya dan menghasilkan karya yang berkualitas.

Di era 90-an, karena satu dan lain hal dunia perfilman Indonesia mengalami kemunduran dan terus merosot hingga film Indonesia tidak lagi menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Film-film Indonesia pada saat itu hanya berkutat seputar tema-tema khusus orang dewasa sehingga hampir seluruh bioskop dikuasai oleh film-film mancanegara, yaitu dari Hollywood dan Hongkong.

Hal tersebut berlangsung cukup lama hingga muncul film musikal dengan judul Petualangan Sherina garapan sutradara Riri Reza dan Mira Lesmana. Filmyang diperankan oleh Sherina Munaf seorang penyanyi cilik berbakat menjadi tonggak bangkitnya kembali perfilman Indonesia yang kian melemah karena setelah suksesnya film ini banyak bermunculan film-film Indonesia dengan berbagai segmen yang sukses secara komersil.

Takaiters, jadi apa sih yang sebenarnya perlu dijaga agar perfilman Indonesia tetap terjaga baik dari segi kualitasnya maupun dari sisi komersilnya?

Ada Nilai Moral Dalam Ceritanya

Foto: gurudigital.id

Sebuah film akan memiliki nilai plus jika benar-benar di pikirkan tema ceritanya. Tema cerita yang bagus adalah tema cerita yang sarat dengan makna dan nilai-nilai moral yang tinggi yang dikemas dalam kemasan yang apik disesuaikan dengan era saat ini sehingga tidak jadul dan ketinggalan zaman.

Tema-Tema yang Kekinian

Foto: akurat.co

Mengangkat tema-tema yang kekinian juga sangat berpengaruh bagi perkembangan dunia perfilman Indonesia karena penonton film kebanyakan adalah usia remaja dan dewasa. Pada rentang usia tersebut, pastilah akan banyak konflik dan permasalahan yang timbul yang mana dibutuhkan solusi atau pemecahan masalahnya. Melalui film konflik-konflik rentang usia tersebut bisa diangkat, tetapi tetap harus berpedoman pada nilai moralitas bangsa Indonesia.

Kemasan Cerita yang Menarik

Foto: blogunik.com

Meskipun tema ceritanya bagus, tetapi jika tidak dikemas secara apik maka film itu tidak akan menarik. Bisa jadi sebuah film akan terkesan membosankan karena jalan ceritanya bertele-tele ataupun konfliknya tidak mengena. Begitu juga dengan ending film nya yang malah tidak nyambung atau bikin jengkel. Untuk itu, perlu kreativitas-kreativitas dari para sineas Indonesia untuk bisa menyuguhkan karya-karyanya yang bagus yang akan diminati oleh para pecinta film baik di negeri sendiri maupun mancanegara.

Latar atau Lokasi Film

Foto: news.detik.com

Lokasi pembuatan sebuah film juga memiliki peranan penting. Penonton akan tertarik jika melihat film yang pengambilan gambarnya dilakukan di suatu lokasi yang keren atau yang lagi hits. Dengan scenery-nya yang indah akan membuat film tersebut lebih menarik untuk dinikmati.

Bioskop

Foto: radio2.be

Kesuksesan sebuah film juga tidak terlepas dari bioskop karena di sinilah film-film tersebut akan diputar dan ditonton oleh ribuan penonton. Sayangnya, keberadaan bioskop-bioskop di Indonesia masih sangat minim. Bioskop hanya ada di kota-kota besar  dan sebagian kota kecil yang memang benar-benar menyediakan fasilitas untuk pembangunan sebuah bioskop.

Jika penyebaran bioskop sudah merata di semua kota di Indonesia, maka perfilman Indonesia pun akan terus naik ratingnya juga meraup kesuksesan secara komersil. Hal ini pastinya akan menjadi motivasi bagi para sineas-sineas Indonesia untuk terus berkarya dan berkarya.

Nah, Takaiters, sebagai anak bangsa yang peduli akan kemajuan bangsa sendiri termasuk kemajuan perfilman Indonesia, yuk, mulai mencintai film-film dari negeri sendiri. Majukan perfilman Indonesia dengan tidak melakukan pembajakan.