Hai, Takaiters!

Lahir dengan keadaan berkebutuhan khusus pastinya tidaklah diharapkan oleh semua orang, tetapi apa daya jika itu sudah menjadi garis takdir. Tentunya kita harus menerima dengan lapang dada dan berbesar hati karena berkebutuhan khusus bukanlah suatu kekurangan tetapi pada diri  ada kelebihan yang tidak dimiliki oleh semua orang.

Penderita Tuna Rungu

Foto: nasional.republika.co

Seperti halnya mereka yang menderita tuna rungu yaitu adanya gangguan pendengaran pada organ tubuh mereka yang menyebabkan mereka tidak bisa mendengar saat orang lain berbicara atau mengalami kesulitan dalam menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Sementara menjalin komunikasi itu sangatlah penting karena kita tidak hidup sendiri melainkan hidup bersosial yang artinya kita selalu berinteraksi dengan banyak orang dalam kegiatan sehari-hari. Bagi penderita tuna rungu untuk tetap bisa berkomunikasi dengan orang lain maka dibutuhkan adanya bahasa isyarat. Bahasa yang akan memudahkan mereka untuk bisa berkomunikasi dan berkiprah layaknya orang normal dalam kehidupan.

Pekan Tuna Rungu Internasional

Foto: researchtoaction.org

Menjawab kegelisahan penderita tuna rungu dalam menyelesaikan permasalahan yang mereka hadapi serta untuk mengadvokasi hak-hak mereka, maka pada hari ini, tanggal 23 September 1951 diadakanlah Pekan Tuna Rungu Internasional atau International Week for the Deaf (IWDeaf) yang pertama kalinya di Italia.

Pekan tuna rungu ini adalah hasil diskusi dari federasi tuna rungu sedunia atau World Federation of the Deaf kepada PBB yang mana resolusi ini akhirnya mendapat persetujuan dan dukungan dari 97 negara pada sidang umum PBB ke-72.

Ditetapkannya Hari Bahasa Isyarat Internasional

Foto: twinkl.de

Penderita tuna rungu di dunia sekitar 72 juta orang yang tersebar di negara-negara berkembang kurang lebih 80%. Bahasa isyarat yang digunakan juga sangat beragam karena terdapat kurang lebih 300 bahasa isyarat di penjuru dunia. Keberagaman ini hendaknya tidak dijadikan pemisah dan pembeda tetapi justru dijadikan pemersatu tuna rungu-tuna rungu di dunia. Untuk itu pada tanggal 23 September, ditetapkanlah sebagai hari Bahasa Isyarat Internasional.

Harapan Ditetapkannya Hari Bahasa Isyarat Internasional

Foto: vaticannews.va

Ditetapkannya hari Bahasa Isyarat Internasional adalah bukti adanya persamaan hak kepada mereka yang berkebutuhan khusus karena di mata dunia semua orang memiliki hak dan kewajiban yang sama yang tidak boleh dibeda-bedakan apalagi sampai didiskriminasikan keberadaannya.

Bagi bangsa Indonesia sendiri pemerintah selalu memberikan ruang terbuka bagi mereka yang berkebutuhan khusus. Bentuk perhatian yang diberikan kepada para penderita tuna rungu seperti dikeluarkannya kebijakan dari Kominfo di mana bahasa isyarat televisi harus ada di semua stasiun televisi.

Selain itu, diadakan juga Jambore TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) bagi mereka yang berkebutuhan khusus. Tujuannya adalah agar di era serba digital ini, mereka yang berkebutuhan khusus juga mampu mengimbanginya. Tidak hanya itu pemerintah juga mendorong adanya upaya kemajuan di bidang pendidikan. Bagaimana agar bisa mengasilkan coder atau bisa memiliki ilmu coding (isyarat). Di sini mereka yang berkebutuhan khusus yang pandai menggunakan bahasa isyarat justru memiliki kelebihan tersendiri dalam mengikuti dan mempelajari ilmu coding yang akan berguna bagi kemajuan dunia pendidikan.

Yup, Takaiters? ternyata semua orang mempunyai kelebihan yang berbeda-beda sekalipun dia adalah penyandang disabilitas atau berkebutuhan khusus. So, kita harus selalu mensyukuri apa yang sudah Tuhan berikan untuk kita karena itu adalah yang terbaik.

Selamat Hari Bahasa Isyarat Internasional. Terus maju dan buktikan bahwa tidak ada kekurangan yang ada hanyalah kelebihan yang tidak semua orang miliki.