Loha, Takaiters!

Baru-baru saja publik dihebohkan sebuah fenomena baru, yaitu crosshijaber. Fenomena crosshijaber adalah sebuah sebutan bagi pria yang suka berdandan seperti perempuan dan memakai jilbab lengkap dengan cadarnya. Mereka juga berani masuk ke masjid dan bergabung dengan para jemaah muslimah, bahkan ada kabar yang beredar mereka masuk ke toilet perempuan.

1. Crosshijaber atau Cross-Dressing Ternyata Bukan Hal Baru

Foto: arah.com

Ayunda Ramadhani, Psikolog Klinis mengungkapkan, bahwa fenomena crosshijaber bukanlah hal baru dan hanya namanya yang berbeda. Menurut Beemyn BG dalam Cross-Dressing, penyimpangan itu memiliki nama asli cross-dressing (berlintas busana), yaitu seseorang yang berperilaku berbeda dari gendernya sendiri. Istilah ini berkaitan dengan transvetisisme, yaitu hasrat seks terpenuhi ketika menggunakan baju berbeda gender. Fenomena ini bukan sesuatu yang baru dalam dunia psikologi bahkan sejak zaman dahulu penyimpangan ini sudah terjadi.

Hagedorn SC dalam bukunya “Abandoned Women: Rewriting the Classics in Dante, Boccacio, and Chaucer” mencontohkan tokoh Achilles dalam Perang Troya yang dipakaikan baju perempuan oleh ibunya, Thetis, agar terhindar dari pegang. Sementara, Bulman CJ dalam The Merchant of Venice mencatat William Shakespeare dalam sandiwara berjudul The Merchant of Venice menceritakan tokoh Portia yang berlintas busana sebagai pria agar dapat berbicara di pengadilan.

Ini merupakan bukti bahwa cross-dressing ini sudah lama dikenal di dunia dan faktanya sebagian besar yang melakukannya adalah pria.

2. Trauma Masa lalu Bisa Menjadi Penyebab Crosshijaber

Foto: pantau.com

Ayunda juga mengatakan, bahwa tindakan crosshijaber yang mengelabui masyarakat dengan mengenakan hijab dan masuk ke mesjid merupakan perbuatan melawan hukum. Bagaimana tidak, ketika pelaku crosshijaber berdandan layaknya perempuan dengan memakai cadar, siapa yang akan curiga? Terlebih lagi saat di rumah ibadah, oknum yang melakukan itu berkumpul bersama perempuan, lalu bersentuhan, atau bahkan berpelukan. Hal ini sudah masuk ranah pelecehan dan melanggar hukum, jadi harus waspada.

Lazimnya penyebab dari cross-dressing adalah trauma masalalu. Misalnya pernah dikasari oleh pria, pernah mendapat pelecehan, dan yang paling ekstrem pernah disodomi. Namun, belum tentu pelaku lists busana memiliki penyimpangan seksual karena bisa jadi hanya suka berbusana perempuan dan mereka merasa puas saat mengenakannya, lanjut Ayunda.

3. Transvestisme Berbeda dengan Transgender

Foto: youtube.com

Menurut Ayunda, ada perbedaan antara transvestisme dan transgender. Transvestisme memiliki orientasi seksual sama dengan jenis kelaminnya. Sedangkan, transgender benar-benar mengganti kelaminnya hingga berubah menjadi gender yang diinginkan melalui operasi plastik dan suntik hormon.

Ayunda menyarankan, saat bertemu dengan oknum lintas busana sebaiknya jangan waswas. Meski memang harus waspada sebab motif mereka memakai berbeda gender itu beragam.

Nah, Guys, inilah beberapa fakta crosshijaber yang wajib kita ketahui. Jangan lupa untuk selalu waspada. Semoga bermanfaat.