Heiyo, Takaiters!

Apabila berbicara tentang sate, tentu yang terbesit di benak kita adalah kuliner yang bisa dipastikan mampu menggoyang lidah. Selain rasa, sensasi ketika menikmatinya lewat juga menjadi ciri khas utamanya.

Secara umum, kuliner yang satu ini identik dengan potongan daging yang disatukan lagi menggunakan tusukan. Ciri khas tersebut membuat sate disebut sebagai salah satu identitas utama kuliner nusantara.

Panganan ini pun memiliki banyak varian jenis yang sekaligus menjadi representasi identitas untuk masing-masing daerah di Indonesia. Pada tahun 2017 lalu, lewat hasil surveinya, CNN menempatkan sate Indonesia di urutan ke-14 makanan paling enak di dunia.

Berapa Banyak Jenis Sate di Indonesia?

identik dengan lebaran iduladha
Foto: toekangketik.blogspot.com

Dengan jumlah kuliner Indonesia yang begitu banyak ragamnya, tak heran jika hal tersebut muncul. Terdapat berbagai jenis sate yang dapat ditemui di Indonesia, sebut saja yang terkenal seperti sate Padang, sate Madura, sate lilit khas Bali, sate buntel, dan lain-lain. 

Seorang peneliti senior dari Pusat Studi Pangan dan Gizi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Murdjiati Gardjito, mengungkapkan bahwa setidaknya ada 252 jenis sate di seluruh Indonesia. Dilansir suara.com dari jumlah tersebut, Gardjito menambahkan, hanya ada 175 jenis saja yang baru bisa diperkirakan asal-usulnya.

Namun, dari sekian banyaknya jenis sate nusantara, pernahkah kamu mendengar nama sate Kere? Agaknya jenis sate ini tidak asing lagi bagi warga Solo, lantaran asal mulanya berawal di kota yang menjadi spirit of java tersebut.

Sate kere sendiri memiliki perbedaan yang cukup mencolok dari jenis-jenis sate pada umumnya. Apabila sate umumnya menggunakan daging sebagai bahan utamanya, Sate kere justru seolah mendobrak keutamaan umum tersebut.

Unik dengan Identitas yang Diusung

Foto: fimela.com

Alih-alih mengutamakan daging, jenis sate yang satu ini malah menyatukan potongan-potongan tempe gembus yang terbuat dari ampas tahu. Tidak cuma itu, Sate Kere juga menyisipkan jeroan sapi, seperti lemak, tetelan, babat, usus dan paru.

Pemilihan bahan-bahan tersebut konon dikarenakan sebagai cerminan perlawan masyarakat kelas bawah. Hal itu lantaran harga daging yang terlampau mahal untuk dijangkau semua lapisan masyarakat kala itu.

Kendati menggunakan bahan utama yang berbeda, cara pengolahannya sebenarnya tidak berbeda jauh dengan sate pada umumnya. Sate kere juga memanfaatkan tusukan yang kemudian dibakar di atas tungku arang yang panas.

Namun, bahan-bahan yang ada dalam sajiannya membuat Sate kere memiliki cita rasa yang berbeda. Sate ini cenderung memiliki tekstur yang halus dan lebih kenyal, walaupun bumbunya tidak berbeda jauh dengan sate-sate lainnya.

Kini Jadi Kuliner Favorit Wisatawan

Sate Kere sebagai bentuk perlawanan masyarakat kelas bawah zaman dulu
Sate Kere khas Solo. Foto

Dari segi penamaannya, kata “kere” sendiri berarti miskin. Meski awalnya adalah sajian yang menyasar warga kelas bawah, sajiannya kini telah menjelma sebagai salah satu kuliner favorit yang selalu diburu oleh para wisatawan, tak terkecuali wisatawan mancanegara.

Fenomena itu tidak terlepas dari bahan-bahan Sate kere yang umumnya merupakan bahan yang jarang dijadikan bahan utama masakan. Sate kere seolah menyulap semua itu, menjadikannya bahan utama yang kini menjadi identitasnya.

Sate kere memang menjadi salah satu ciri khas Solo. Kendati begitu, sate ini sudah sedemikian menyebar ke luar daerah. Penyebarannya pun terlihat di kota tetangganya, Yogyakarta dan daerah-daerah sekitarnya.

Jika ditelusuri, ada banyak pedagang sate kere di Yogyakarta. Salah satu yang cukup dikenal adalah sate kere buatan Angkringan yang bernama Waroeng Klangenan.

Sekadar tambahan, angkringan ini pernah menjadi lokasi pilihan Presiden Joko Widodo untuk menikmati sate kere bersama keluarganya.

Tempat Berburu Sate Kere di Yogyakarta

Nikmatnya Sate Kere khas Solo
Sate Kere. Foto: Info Budaya

Waroeng Klangenan sendiri berlokasi di sekitar Jalan Patangpuluhan, Wirobrajan, Kota Yogyakarta. Angkringan ini buka mulai jam 4 sore hingga 11 malam setiap harinya. Selain itu, rekomendasi lainnya ada di kawasan Pasar Beringharjo, Malioboro.

Menemukan penjual sate kere di Yogyakarta sudah terbilang cukup mudah. Selain dua tempat tadi, kamu bisa menemukannya di beberapa titik lokasi. Bagi kamu yang penasaran untuk mencoba satu-dua gigitan, tidak perlu khawatir soal harga.

Sejalan dengan namanya, sate ini tentu punya banderol harga yang jauh lebih murah ketimbang sate yang berbahan dasar daging. Dengan kocek sebesar Rp1.000 saja, kamu sudah bisa mendapatkan satu tusuk sate kere.

Bersama lontong atau nasi sate kere biasanya disajikan untuk memanjakan lidah yang menikmatinya dan yang perlu diingat adalah racikan setiap penjual sate kere kemungkinan berbeda-beda.

Harganya sendiri sebenarnya bervariasi, yaitu antara Rp1000,00—Rp5000,00 per tusuknya, tergantung dari bahan sate kere yang dipilih. Semisal, sate kere bagian koyor (lemak sapi) biasanya dibanderol Rp3000,00/tusuk, sedangkan Rp4000,00 untuk bagian tetelan.

Nah, dengan rentang harga demikian, tak heran jika banyak warga yang menjadi penikmat sate kere. Seakan tidak terpengaruh dengan penamaannya yang merujuk pada arti “miskin”, sate ini bahkan menjadi kuliner buruan yang diburu oleh para wisatawan saat ini.