Heiyo, Takaiters!

Ada enggak di beberapa di antara dari kamu yang ngeras kalau pola tidurnya belum cukup optimal akhir-akhir ini? Udah mulai sering atau bahkan selalu tidur siang, misalnya. Itu tuh termasuk dalam gejala insomnia atau susah tidur, lo. Dan, kalau dilihat dari sisi kesehatan, kebiasaan ini jelas tidak baik, apa lagi sampai jadi kebanggaan.

Insomnia sendiri bukan cuma bisa ganggu produktivitas. Banyak penelitian dari para praktisi kesehatan yang bilang kalau kebiasaan buruk itu cukup ampuh mengundang banyak sekali potensi penyakit. Ya, salah satunya itu adalah stroke.

26 Persen Lebih Berisiko Terkena Gangguan

Mengantuk di siang hari karena kurang tidur.
Mengantuk di siang hari. Foto: Pexels

Kurangnya durasi waktu tidur ideal secara rutin disebutkan bisa meningkatkan gangguan irama pada jantung. Gangguan itu sendiri dikenal dengan nama fibriasi atrium. Hal ini sempat diungkapkan oleh para peneliti dalam pertemuan American Heart Association’s Scientific Session di Amerika Serikat pada November 2016 lalu.

Nah, dari analisis yang dilakukan melalui acuan tiga sumber data yang digunakan nunjukin bahwa fibriasi atrium itu bertautan kuat dengan kualitus tidur kamu. Setidaknya nih, orang dengan kebiasaan insomnia itu bisa 26-29 persen lebih rentan terkena gangguan irama jantung tersebut.

Membanggakan Durasi Tidur yang Buruk

durasi waktu tidur ideal terganggu karena punya kebiasaan insomnia
Foto: Pexels

Kurangnya tidur memang lebih sering terjadi pada orang-orang yang melabelkan insomnia itu sebagai kewajaran. Alih-alih gangguan, kebiasaan kita tuh lebih sering negabangga-banggain waktu tidur kita yang jauh dari durasi ideal yang dianjurkan.

Padahal, kurang tidur jelas-jelas bikin produktivitas kita sehari-hari menurun. Kebutuhan tidur yang tidak tercukupi sering bertolak belakang dengan agenda aktivitas. Semisal bekerja di waktu pagi hari, tetapi karena susah tidur, durasi waktu tidur mesti kita potong.

Sebagai Tanda-Tanda Tidak Produktif

Kebiasaan insomnia bisa ganggu produktivitas
Produktivitas. Foto: Pexels

Berhasil bangun pagi bisa saja bikin kita berasumsi kalau kita bakal produktif sepanjang hari. Namun, semuanya enggak bakal ngebantu banyak, kalau tidur kita sebelumnya tidak berkualitas sama sekali. Apalagi sampai tidur sejam-dua jam karena start tidurnya di waktu Subuh.

Ya, walaupun bisa bangun pagi, sih. Masalahnya, kita kok justru lebih cenderung merasa bangga dengan kualitas tidur seperti itu? Padahal, itu tuh justru sama saja dengan mengumbar-umbar tanda-tanda bahwa kita bakal kurang produktif nantinya.

Kurang Tidur Punya Efek Domino

Kebiasaan Insomnia punya efek domino yang buruk bagi tubuh.
Efek Domino. Foto: Pixabay

Apa sih kaitannya ‘kualitas’ tidur dengan produktivitas? Kurang tidur sendiri sebenarnya bikin Takaiters lebih sulit berkonsentrasi, mudah cemas, rentan depresi, cepat lelah, dan stres. Rentetan itu tentu berkaitan dengan target produktif yang biasa kita impikan saban hari, bukan?

Kualitas tidur itu semacam bidak pertama dalam barisan domino yang mampu menentukan sebagaimana produktivitas kita nantinya. Salah satu contohnya nih, mengantuk di siang hari atau waktu-waktu krusial tertentu bisa jadi warning kalau kebutuhan tidur kita sejatinya belum tercukupi.

Bikin Tubuh Jadi Stres Berlebih

Foto: Pexels

Rutinitas kurang tidur punya efek jangka panjang yang implikasi jarang terlihat dan dirasakan langsung. Kebiasaan mengkombinasikan insomnia dengan kurang tidur sama saja dengan mengundag lebih banyak stres untuk diterima tubuh kita sendiri. Dan, ya, biasanya tanpa kita sadari.

Gangguan irama jantung alias fibriasi atrium itu bisa terjadi lantaran sel-sel inflamasi (peradangan) reaksi dari tubuh yang stres berkepanjangan. Nah, yang nggak enaknya itu adalah gangguan ini tuh bisa merubah irama jantung; dari yang awalnya berdenyut memompa darah, justru beralih menjadi bergetar.

Sebelum Naik ke Penyakit ‘Kelas Atas’

Insomnia Bikin Kita Cenderung Kurang Tidur
Foto: indoindians.com

Sebelum mengarah pada penyakit kelas tinggi seperti stroke, atau gagal jantung, meningkatnya sel inflamasi ini bisa mengarahkan imbasnya ke berbagai selat. Misalnya, mulai dari kulit kusam sampai ke tahap degenerasi sel imun, lo!

Kita mungkin sudah enggak asing lagi sama ungkapan kalau durasi waktu tidur orang dewasa itu ada di rentang 7-8 jam per hari. Jadi, itu sama seperti konsep “8 gelas seharinya” kita dianjurkan kalau soal minum air putih. Tidur itu sejatinya kebutuhan penting untk tubuh. Bukan cuma sekadar rebahan dengan mata tertutup seperti orang yang separuh mati lho, ya!

Kesempatan Tubuh Menjalani Tugasnya

Tubuh juga butuh ngerjain tugas alaminya
Tubuh butuh istirahat. Foto: Pixabay

Jadi, tidur adalah kegiatan yang sejatinya vital. Selain urusan melepas lelah akibat kegiatan padat, ada banyak hal yang sebenarnya kita ciptakan ketika tidur. Selain bunga tidur yang lebih akrab disapa sebagai mimpi, kegiatan ini juga merupakan kesempatan buat tubuh kita menjalankan tugas alaminya.

Ketika tidur, kita sebenarnya memberikan kesempatan bagi tubuh untuk menyelasaikan deadline-nya. Dan, tubuh membutuhkan waktu yang masuk akal juga untuk melakukannya. Bagaimana proses ini bisa selesai optimal kalau durasi waktu tidur kita pangkas sendiri?

Jangan Berlebihan Juga Dong, Ya ….

Tidur berlebihan bikin ita lebih mirip Koala
Koala dari Australia. Foto: Pixabay

Namun, ini bukan berarti ngajak Takaiters semua jadiin tidur sebagai hobi, lo! Karena, apapun yang berlebih itu ‘kan, enggak baik. Jangan sampai tubuh kita jadi kekenyangan dan kembung akibat tidur berlebihan.

Kalau tidur terus, bagaimana dong sama produktivitas sehari-hari yang diimpikan? Masa iya, bunga tidur lancar … Eh, malah produktivitas kita di dunia nyata yang kena stroke. Kan, enggak lucu jadinya? Hehehe ….