*Artikel ini merupakan kontribusi ekslusif dari A.H. Adiansyah (Kontributor Takaitu.com di Maluku)

Berbicara tentang pariwisata merupakan hal yang langka di daerah ini. Bukan tidak mungkin, tetapi potensi keindahan pesona alamnya sangat menakjubkan. Sebut saja Pulau Kararai, Pulau Mariri, dan Pulau Eno sebagai surga penyu seperti Derawan jilid 2. Selain pulau-pulau tersebut, kita juga bisa menikmati pesona Sungai Manumbai dan habitat bakau di sepanjang perjalanan.

Namun sangat disayangkan pemerintah daerah tidak terlalu pusing soal pariwisata, apalagi pemerintah pusat. Kepulauan Aru sebagai pangkalan angkatan laut terbesar ke-2 di Indonesia setelah Jakarta, tetapi tidak terlalu berpengaruh terhadap ketertarikan semua stakeholder untuk mengembangkan pariwisata.

Tempat pariwisata yang terbilang sederhana hanya ada di ibu kota kabupaten seperti Batu Kora, belakang Wamar dan Batu Dua. Semua tempat pariwisata tersebut terletak di sepanjang pantai Wamar Dobo. Pengelolaannya juga cukup sederhana sehingga geliat turis mancanegara jarang terlihat di sini. Menyedihkan.

Potensi pariwisata merupakan lahan basah yang tidak terlalu diimpikan, padahal jika digarap secara maksimal akan berdampak baik bagi perekonomian daerah. Alam lautan dan daratan yang masih perawan memberikan hasil sumberdaya alam hayati dan non hayati melimpah. Tidak heran jika Aru Dobo bagian dari miniaturnya Indonesia sama seperti Timika. Disini kamu akan melihat banyak suku yang berbeda-beda yang mendiami ibu kota Kabupaten Kepulauan Aru, Dobo.

Pilihan Editor



Berbicara mengenai kuliner. Kamu hanya bisa menikmati kuliner khas Sulawesi Selatan disini, sebut saja Coto Makassar, Pallu Konro dan Basah. Hal ini disebabkan karena hampir seluruh usaha kuliner didominasi oleh masyarakat Sulsel.

Kuliner khas Aru hanya berupa papeda kuah kuning yang juga merupakan makanan pokok disini. Papeda hanya ditemukan di rumah-rumah masyarakat dan tidak terjual di pasaran kuliner kecuali sejenis kue terunik di dunia yaitu pom-pom.

Pom-pom adalah produk dari sagu yang dibuat dengan cara dicetak dalam proses pembakaran. Kue ini terkenal di Maluku dan Papua. Keunikan kue ini adalah bisa bertahan sampai 4-5 tahun atau lebih dan teksturnya keras.

Jadi cara memakannya harus dicelup ke dalam air putih, kopi, dan susu. Kelezatannya sudah diakui sampai di daratan Jawa melalui banyak testimoni. Bahkan kue ini juga merupakan bekal perjalanan jauh bagi masyarakat setempat.

Itulah secuil kisah tentang pariwisata di daerah kami. Kurang diperhatikan dan tidak terlalu diimpikan. Walaupun menyimpan potensi keindahan alam yang sangat menakjubkan, tapi kurangnya peran dan usaha pemerintah daerah membuat pengelolaannya begitu sangat menyedihkan.