Heiyo, Takaiters!

Ada empat sungai di Indonesia yang menempati daftar peringkat 20 besar sungai paling tercemar di dunia akibat sampah plastik—diukur dalam satuan metrik ton. Setidaknya, itulah yang dimuat dalam sebuah dokumen penelitian yang diterbitkan Jurnal Nature Communication pada 7 Juni tahun lalu.

Menurut artikel yang berjudul “River Plastic Emissions to the World’s Oceans” tersebut Indonesia diperkirakan telah menyumbang sekitar 200.000 ton sampah plastik yang mengalir dari sungai ke lautan. Angka tersebut diambil dari perkiraan total rata-rata di seluruh dunia mencapai 2,14 juta ton plastik yang berasal dari sungai, menghiasi lautan.

Sayangnya lagi, nih, dengan angka sumbangan tersebut menjadikan Indonesia ikut terseret ke dalam daftar ‘donatur’ polusi air laut terbesar nomor dua setelah Cina. Adapun sungai yang bertengger dalam daftar peringkat itu adalah: Sungai Brantas yang menempati posisi ke-6, dan Sungai (Bengawan) Solo mengisi peringkat ke-10. Sementara, Sungai Serayu dan Sungai (Kali) Progo, masing-masing menyusul dari peringkat 14 dan 19.

Sumber lain yang berasal dari para peneliti dari National Center for Ecological Analysis and Synthesis, bahkan memperkirakan ada 8 juta ton sampah plastik yang membajak laut. Tim peneliti yang berpusat di Universitas Georgia, Amerika Serikat tersebut menyebutkan bahwa data tahun 2010 itu memiliki potensi peningkatan mencapai 9,1  ton setiap tahunnya.

1. Sulit Musnah Adalah Masalah

Sungai seret sampah plastik ke laut
Foto: ihearts.com

Kamu pasti tahu ‘kan, kalau bahan plastik memiliki kekuatan untuk tidak mudah terurai secara alami? Nah, kekuatan itu merupakan ciri khas atau keuntungan terbesar dari berbagai jenis plastik. Selain serba guna, plastik memang dirancang untuk bertahan lama. Amat sangat lama.

Jejak sejarah plastik yang paling populer, disebut berawal pertama kali dimulai sekitar 150 tahun sebelum masehi oleh bangsa Olmec di Meksiko. Kemudian perkembangannya berlanjut dari sejumlah terobosan yang menunjukan sebuah ‘peradaban’ plastik modern; seperti parkesine, seluloid, bakelite, polysterine, poliester, polyvinylchloride (PVC), polythene, nilon, polyethylene terephthalate (PET), hingga polypropylene.

Sepanjang masa eksisnya, plastik mendapat sambutan positif berupa optimisme sebagai bahan atau kandungan untuk berbagai hal dalam keseharian, mulai dari pakaian, peralatan masak dan makanan, kemasan produk, dan juga dimanfaatkan dalam hal teknologi terapan.

Bisa dibilang, bahan plastik telah menggurita di berbagai sendi benda atau barang-barang kebutuhan kita. Kendati demikian, ketahanan (awet) plastik juga menimbulkan sisi gelap. Terlebih jika dilihat dalam kehidupan modern, plastik berjaya sebagai bahan kegunaan, sekaligus juga: sampah yang amat sangat lama mengkhawatirkan.

2. Meledaknya ‘ledakan’ Volume Plastik

Kejayaan plastik punya sisi gelap
Foto: Porapak Apichodilok/Pexels

Kita lebih cenderung memanfaatkan plastik sebagai barang-barang keperluan yang sifatnya: sekali pakai. Jumlah sampah menjadi terdorong untuk terus menumpuk berkat kesuksesan plastik menjadi bagian utama dalam kehidupan ‘biasa’ sehari-hari.

Kebiasaan yang menjadikannya barang yang kemudian dibuang setelah satu kali pakai, macam botol minuman, popok, sendok-garpu hingga tali pancing.

Berdasarkan seorang ahli lingkungan industrial, Dr. Roland Geyer bersama timnya dari Universitas California, AS mengatakan dalam penelitiannya yang rilis pada Juni 2017 lalu di jurnal Science Advances bahwa jumlah total plastik yang pernah diproduksi diperkirakan mencapai 8,3 miliar ton, lo! Sedangkan, 6,3 miliar ton dari jumlah itu telah berubah fungsi menjadi sampah.

Melimpahnya sampah plastik memang beririsan dengan kekuatannya yang memang sulit musnah. Sulit terurai secara alami. Bahan plastik rata-rata butuh waktu puluhan sampai ratusan tahun untuk terurai. Penumpukan sampah plastik didorong oleh jumlah produksi plastik yang tak sebanding dengan kemampuan alam dalam mengurai sampah plastik.

3. Perlu Serius supaya Tidak Salah Urus

Sampah plastik perlu diurus secara serius
Foto: Pexels

Karena sisi gelap sampah plastik itulah, perlu adanya pergeseran persepsi supaya ketergantungan kita terhadap plastik tidak berlebihan. Alam juga perlu dibantu, lo, Guys! Terutama dalam hal penguraian.

Kita bisa membantu seperti melakukan penggunaan plastik yang proporsional, artinya seperlunya saja. Jangan sampai ‘kecanduan’ sama plastik. Mulai aja buat mengurangi penggunaan kantong kresek, misalnya.

Selain itu, proses atau langkah daur ulang tentu diperlukan sebagai upaya dasar dalam pengelolaan limbah yang tentunya, sudah sering kita dengar. Limbah plastik perlu dilihat sebagai persoalan serius.

Limbah plastik yang salah urus, bisa menimbulkan posisi yang tidak menguntungkan. Contoh akrabnya adalah banjir. Sering dengar ‘kan, banjir akibat sungai meluap gara-gara alirannya yang diganggu serdadu sampah?

Pada Februari 2016, pemerintah Indonesia sempat mengambil langkah strategis yang bertujuan untuk menghambat ‘aliran’ penggunaan plastik. Saat itu, pemerintah membuat kebijakan untuk menarik pajak sebesar Rp200 kepada setiap kantong plastik kresek yang diambil oleh para pelanggan toko swalayan.

Sayangnya, kebijakan itu kandas akibat belum adanya kejelasan perihal transparansi kemana aliran pajak tersebut dialokasikan. Program tersebut akhirnya terbenam karena, selain masalah transparansi, adanya landasan hukum yang belum jelas untuk meregulasi kebijakan itu, sebagaiman dihimpun dari The Conversation.

4. Sampah Plastik Laut Bikin Salah Makan

Penyu mengira plastik adalah ubur-ubur makanan mereka
Foto: Greenpeace

Laut yang ekosistemnya diganggu sampah plastik ataupun limbah jenis lain, bisa berbahaya bagi satwa laut. Pasalnya, dalam hal ini, sampah plastik menjadi ranjau bagi satwa karena dapat menjerat maupun mengelabui karena mereka mengira sampah plastik sebagai makanan.

Penyu misalnya, hewan bercangkang tersebut tida mampu membedakan antara plastik dengan ubur-ubur yang merupakan salah satu makanannya. Dalam sebuah studi dari University of Exeter, Inggris, mendapati bahwa sampah plastik sukses membuat ribuan penyu laut setiap tahun.

Sebuah survei yang pernah dilakukan oleh tim dari Plymouth University, Inggris menemukan adanya kandungan plastik di dalam sistem pencernaan dari sepertiga ikan yang ditangkap di wilayah Inggris. Adapun satwa laut yang ditemukan itu antara lain: ikan kod, haddock, mackerel, maupun kerang.

Plastik yang termakan bisa menyebabkan kerusakan internal (dalam) tubuh hewan yang berpotensi menyebabkan kematian. Lebih buruknya lagi, nih, ikan-ikan yang terkontaminasi plastik tertangkap nelayan. Lalu, berakhir di atas piring santapan makan malam. Makan plastik rasa ikan, Guys! Hehehe …

Jadi, buanglah sampah pada tempatnya, ya, Takaiters!