“Di radio aku dengar, lagu kesayanganmu …”

Hai, Takaiters!

Masih ingat dengan lagu itu? Ya, itu adalah lagunya almarhum Gombloh yang nge-hits pada era-nya. Pada saat itu, radio adalah media komunikasi atau media hiburan yang paling disukai masyarakat. Mau tahu kenapa? Simak, yuk, ulasannya?

Radio Alat Komunikasi Sederhana

Foto: iradiofm.com

Radio adalah salah satu media komunikasi yang sederhana. Bentuknya yang bisa dibawa ke mana-mana memudahkan pendengar setianya bisa menikmati acara radio di mana pun sambil melakukan aktivitas apa pun. Radio juga merupakan media komunikasi yang paling cepat memberikan informasi pada saat itu. Berita-berita terkini dapat langsung diakses melalui siaran radio dibandingkan dengan surat kabar yang harus melalui proses pencetakan dan penerbitan.

Menyajikan Banyak Hiburan

Foto: pixabay.com

Selain berita, banyak juga hiburan yang bisa didapat dari mendengarkan radio seperti musik, wayang, sandiwara radio, dan masih banyak lainnya. Adanya interaksi langsung antara penyiar dan pendengar melalui acara kirim-kiriman salam, request lagu ataupun telpon langsung pada saat siaran radio menjadikan keberadaan radio lebih hidup dan menarik. I

bu-ibu yang hobi memasak juga bisa mendapatkan resep menu terbaru dari program di radio begitu juga bagi remaja-remaja yang gemar mendengarkan lagu-lagu hits berbagai genre dapat juga mengikuti perkembangannya di tangga lagu hits.

Sejarah Perkembangan Radio

Foto: international.kompas.com

Namun, tahukah kamu sejarah radio itu sendiri? Radio yang pertama kali mengudara di Indonesia pada tanggal 16 Juni 1925 adalah radio milik Hindia Belanda yaitu Bataviase Radio Vereniging atau BRV. Kemudian bermunculan radio-radio lainnya termasuk Hoso Kyoku radio milik Jepang yang menyiarkan berita kekalahan Belanda atas sekutu dan menyiarkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

Namun, pada tanggal 19 Agustus 1945 siaran radio tersebut dihentikan, karena tidak ingin masyarakat buta akan informasi, maka pada tanggal 11 September 1945 delegasi radio Indonesia Abdulrahman Saleh, Adang Kadarusman, Soehardi, Soetarji Hardjolukita, Soemarmadi, Sudomomarto, Harto, dan Maladi mengadakan pertemuan dibekas gedung Raad Van Indje Pejambon untuk membahas rencana pendirian radio sebagai alat komunikasi yang tidak putus selama masa pertempuran.

Terbentuknya RRI (Radio Republik Indonesia)

Foto: dewatanews.com

Pertemuan yang berlangsung alot karena adanya perbedaan pendapat dari pihak perwakilan delegasi radio serta sekretaris negara dan para menteri akhirnya dapat terselesaikan. Kesimpulan yang diambil dari pertemuan tersebut yaitu dibentuknya RRI (Radio Republik Indonesia)  sebagai penyambung komunikasi antara pemerintah dan rakyat yang diketuai oleh Abdulrahman Saleh. RRI nantinya juga akan meneruskan siaran dari 8 stasiun di Jawa.

Sampai saat ini, keberadaan RRI juga masih aktif. Dengan slogannya “sekali mengudara tetap mengudara” RRI terus melakukan terobosan-terobosan baru ke arah kemajuan penyiaran di Indonesia. Sebagai wujud nyata untuk mengenang berdirinya RRI yang telah membantu dalam memberikan informasi kepada rakyat Indonesia, Pemerintah menetapkan tanggal 11 September untuk diperingati sebagai Hari Radio Nasional.