Heiyo, Takaiters!

Mayoritas kita umumnya masih mengisahkan sosok lelaki tua berkeliaraan di langit saat malam Natal tiba. Jenggot putih dengan setelan baju merah-merah, Pak tua itu berkeliaran bersama sekumpulan rusa terbang kesayangannya.

Ya, Sinterklas merupakan dongeng-dongeng natal yang paling umum kita dengar, bukan? Bahkan, anak-anak sangat mempercayai keberadaan dan mengharapkan hadiah dari sang Sinterklas.

Tapi, tahu enggak, Takaiters? Dongeng Natal enggak cuma berkisar pada sosok Sinterklas, lo! Bahkan, sosoknya sangat jauh berbeda alias sosok mengerikan yang dikait-kaitkan dengan perayaan Natal.

Adalah monster berbentuk setengah perempuan yang disebut: Perchta. Konon, sosok tersebut gemar menculik anak-anak dan merobek perut korbannya. Duh, ngeri banget gak, tuh?

Perchta sendiri terkenal di kawasan pegunungan Alpen. Buat yang belum tahu, pegunungan Alpen itu merupakan pegunungan besar yang membentang mulai dari Austria, bagian timur Slovenia, Italia, Swiss, Liechtenstein, Jerman, hingga bagian barat Perancis.

Masyarakat pegunungan Alpen percaya bahwa monster Perchta bisa masuk ke rumah-rumah warga ketika penghuninya terlelap. Menurut legenda Austro-Jerman, Perchta sejatinya adalah dewi bengis yang teguh pada apa yang ia anggap benar.

Sosok itu dipercayai berkeliaran di pemandangan bersalju pegunungan Alpen setiap malam hari selama 12 hari peringatan Natal berlangsung. Ia juga kerap dikait-kaitkan dengan jamuan Epifani yang digelar setiap 6 Januari.

Siapapun itu, percaya atau tidak, akan beradapan dengan kemurkaan Perchta. Namun, selama masyarakat Alpen melaksanakan segala macam tradisi Natal dengan benar; kemurkaannya bisa diindari. Jika tidak, dia enggak segan-segan buat meminta nyawa, lho!

Jangan Memintal Selama Liburan Natal

kisah Perchta tidak suka melihat orang memintal di malam Natal
Foto: Peter Lewicki/Unsplash

Ketika Perchta mengunjungi ruma-ruma warga, kemudian mendapati penguni rumah tersebut melanggar larangan, ia akan merobek perut mereka. Tidak berhenti di situ saja, Perchta akan mengeluarkan isi perut korbannya untuk menggantinya dengan jerami, sampah, hingga batu. Lalu, menjahitnya kembali sebelum beralih ke rumah-ruma selanjutnya.

Jangan sesekali memintal selama liburan Natal. Karena itu merupakan salah satu hal yang sangat dibencinya. Selain itu, ia juga membenci anak-anak nakal yang susah diatur dan orang-orang yang malas-malasan menyantap jamuan Natal. Kaum-kaum pemalas adalah incaran empuknya.

Pasukan Pengiring yang Mirip Zombie

kisah Perchta, sosok seram di malam natal
Foto: Pinterest

Beberapa literatur Folklore (warisan kebudayaan atau cerita rakyat turun-temurun), Percta sendiri digambarkan memiliki kaki besar yang berbentuk aneh. Ia juga disebut mempunyai pasukan pengiring yang mirip zombie.

Untuk menghukum anak-anak nakal, Perchta akan memasukan korbannya dalam kantung dengan posisi kaki yang dibiarkan menggantung. Bentuk hukumannya bukan itu saja, yang pasti itu hukuman-hukuman itu supaya jadi peringatan bagi anak lainnya.

Penulis sekaligus peneliti independen, Stephen Morris yang sudah banyak mengkaji tentang makhluk seram itu menyebutkan bahwa sosok Perchta sangat mirip dengan peri jahat dalam dongeng Putri Tidur.

Dualitas Sisi: Gelap dan Terang

Monster seram malam Natal dari pegunungan Alpen itu bernama Perchta
Perchta dan Krampus. Foto: Abigail Larson/DevianArt

Meskipun diidentikan sebagai sosok yang menyeramkan, tidak lantas menjadikan Perchta sebagai sosok yang melulu jahat dan bengis. Kendati hukamannya yang kejam, niat Perchta sejatinya ingin memastikan tradisi Natal di kawasan pegunugan Alpen; dijalankan dengan baik dan sesuai tradisi.

Beberapa pakar folklore lain mengambarkan Percta sebagai dewi yang menyeramkan, sekaligus baik. Mempunyai wajah ganda, sosoknya adalah simbol dualitas yang mewakili keadilan dan keburukan, terang dan gelap.

Keganasannya dianggap sebagai cara tegas dalam tugasnya mengawasi sisi kebaikan itu sendiri. Dualitas sisi pada sosok seram itu seakan mengingatkan kita—seceroboh apapun kita berusaha menafikan—bahwa ada cahaya dalam kegelapan. Begitupun sebaliknya.

Pelindung Musim Dingin

Pegunungan Alpen punya legenda seram malam natal
Pegunungan Alpen. Foto: Sophkins/Pixabay

Berbeda dengan cerita-cerita Sinterklas, ada keunikan tersendiri pada sosok Perchta. Perchta mungkin disebut sebagai sisi lain dari siterklas yang diceritakan sebagai sosok yang baik hati dan berorientasi pada insentif berupa hadiah untuk anak-anak.

Sementara dualitas dalam sosok Perchta merupakan sisi yang berorientasi pada hukuman atau punishment untuk terjaganya semua hal baik. Terlebih nih, ia juga dikenal sebagai “Perempuan Pelindung Musim Dingin”.

Tahu enggak, Takaiters? Nama Perchta sendiri bisa kita artikan menjadi: “dia yang berwarna terang”. Separuh perempuan yang dikaitkan pada sosoknya pun sangat berbeda dengan sikap bengisnya. Alih-alih seperti nenek tua penyihir jahat, ia digambarkan sebagai perempuan muda berkulit putih layaknya salju.

Perchta Sebagai Legenda yang Terjaga

Legenda seram Perchta Saat Natal
Foto: Moesgaard Museum

Kendati begitu, seperti halnya Sinterklas dan dongeng-dongeng terkait Natal lainnya, Perchta adalah legenda. Sebagaimana legenda, cerita-cerita soal sosok itu sendiri sudah berkembang sejak ratusan tahun lalu.

Di sejumlah kawasan pegunungan Alpen, kisah-kisah yang berkaitan dengan Perchta masih terjaga sebagai budaya, lho! Sosoknya, sampai sekarang, masih tetap dilibatkan jadi bagian perayaan Natal. Bahkan dikaitkan dengan makhluk bernama Krampus yang dikenal juga gemar menghukum anak-anak.

Ada beberapa contoh tradisi yang dilangsungkan untuk menghormati eksistensinya. Salah satunya adalah Perchtenlauf. Dalam perayaan itu, kaum lelaki biasanya berdandan layaknya monster bertanduk besar untuk menakut-nakuti anak-anak, sekaligus pula roh-roh jahat musim dingin.

Wah, walaupun tergambar sebagai sosok berprilaku seram, sosok mengerikan itu tetap dihormati sebagai dewi yang tidak terlupakan. Khususnya di momen-momen Natal seperti sekarang ini.