Halo, Takaiters!

Sektor pariwisata memang selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Aktivitas berlibur memang sangat erat kaitannya dengan sektor yang satu ini. Bagaimana tidak, kita yang seringkali terjebak dalam kepenatan rutinitas sehari-hari rasa-rasanya memang perlu menyelamatkan diri. Dan, salah satu ‘juru selamat’ itu adalah pariwisata.

Dengan adanya faktor pendukung, geliat pariwisata baik dalam skala nasional maupun global, secara gamblang memperlihatkan tanda penigkatan secara umum. Di tengah kebutuhan itu, manusia sepertinya terdorong untuk merasa butuh untuk ‘mengasingkan’ diri dari kepenatan yang mereka derita.

Dari situlah aktivitas berwisata menunjukkan dirinya sebagai salah satu opsi. Geliatnya yang begitu besar sampai saat ini, membuat sektor ini ikut berekspansi memberikan invoasinya. Kita tentu tidak melulu menganggap pergi ke pantai atau menginap di hotel ternama sebagai satu-satunya cara, bukan?

Ancaman Kejahatan, Kesempatan yang Dibuat Sendiri

Penipuan Berkedok Tiket Pesawat
Melancong. Foto: Pixabay.com

Namun, di tengah gempuran gelombang besar itu, kepopuleran pariwisata nampaknya ikut diganggu juga oleh ancaman kriminal. Seperti apa? Ya, ketika segala sektor bersentuhan dengan digitalisasi, semua hal hampir dipastikan menjadi borderless, alias tidak berbatasan. Tidak terkecuali hal-hal yang jahat.

Apabila sebelum era digital ramai-ramai diadopsi, kejahatan kerapkali disebutkan sebagai suatu tindakan yang muncul akibat adanya kesempatan. Namun, dewasa ini, relevansi dari istilah itu tampaknya mulai bisa dipertanyakan. Pasalnya, kita mikir enggak, sih, kalau kejahatan sekarang justru muncul karena oknum pelakunya seolah-olah menciptakan kesempatannya sendiri?

1. Sektor Pariwisata Dibayangi Modus Penipuan

Modus situs palsu digunakan dalam sektor pariwisata
Modus Tipu Muslihat Pelaku Kejahatan Cyber. Foto: Pixabay.com

Lantas kejahatan apa yang kerapkali timbul? Menurut salah satu survei dari  The Travel Association, lebih dari 5000 laporan penipuan di bidang pariwisata muncul di sepanjang tahun 2018 lalu. Jumlah yang dirinci dari laporan tersebut disebut kemungkinan bisa lebih banyak karena banyak korban yang malah enggan melaporkannya ke pihak berwajib.

Dari hasil laporan yang mereka himpun, ditaksir menghasilkan 7 juta poundsterling kerugian yang disebabka oleh aksi penipuan tersebut. Modus penipuan yang paling banyak terjadi adalah penipuan tiket pesawat. Bagaimana sang pelaku menjalankan aksinya?

 Situs Bodong Jadi Andalan Pelaku Penipuan

Menurut sumber yang dihimpung, kebanyakan pelaku akan memanfaatkan situs palsu yang mereka buat untuk menipu calon korbannya. Dalam dunia cyber, aksi ini dikenal sebagai Cyber Typosquatting. Dalam aksinya, pelaku akan membuat baru atau bahkan mengkloning laman web tertentu.

Korban yang masuk dalam jebakan, biasanya akan membeli tiket di situ palsu tersebut. Alih-alih menerima tiket asli setelah membayar, korban justru menerima tiket palsu yang tidak bisa digunakan sama sekali. Bahkan, seringkali tidak memperoleh tiket sama sekali. Duh … duh….

Modus yang Hampir Sama di Ranah Offline

Situs bodong ini sebenarnya tidak berbeda jauh dengan apa yang kerap terjadi di dunia nyata. Di ranah offline misalnya, orang-orang kerap diakali oleh travel agent yang tidak berizin. Korban kerap kali terperdaya oleh banyaknya promo yang sebenarnya tidak masuk akal. Kelengahan inilah yang menjadi mangsa empuk pelaku.

Modus seperti akhirnya diadopsi juga ke ranah maya. Resiko terdeteksi sebagai aksi kejahatan tentu lebih rendah jika bermain di poros offline. Dalam dunia cyber, pelaku penipuan tidak hanya mengandalkan dalih penjualan tiket, tetapi juga penjualan-penjualan seperti paket tour, sampai jasa penyewaan atau rental mobil.

2. Sudah Banyak Memakan Korban di Belahan Dunia

Korban Penipuan Pariwisata di Belahan Dunia
Car Informasi Sebelum Berwisata. Foto: Pixabay.com

Modus penipuan seperti ini pun sudah banyak sekalai memakan korban. Menurut salah satu firma keamanan digital, McAffee merilis survei yang menyatakan bahwa 1 dari 5 orang Inggris pernah menjadi korban penipuan yang serupa. Survei tersebut dilakukan kepada 2000 orang, di mana 27 persen dari total respondennya mengaku tidak memeriksa keaslian situs tempatnya bertransaksi.

Parahnya lagi, 12 persennya bahkan mengaku bahwa mereka tidak mengetahui bagaimana cara mengidentifikasi situs mana yang asli atau palsu. Selain itu, ada bahaya lain yang mengintai ketika korban terperdaya untuk memasukkan beberapa identitas ke dalam formulir di situs palsu tersebut. Contoh yang sering dilakukan adalah identitas kartu kredit yang akan dipalsukan oleh si mpunya situs. Jadi, hati-hati, ya, Takaiters!

3. Bagaimana Cara Terhindar Menjadi Korban Penipuan?

Hati-Hati Penipuan di Internet
Hati-Hati. Foto: Pixabay

Dalam hal ini, kamu yang ingin liburan terus membeli tiket atau akomodasi lainnya melalui internet tentu harus tahu bagaimana cara supaya tidak menjadi korban. Pasalnya, kita tidak boleh menafikan bahwa sektor pariwisata itu ibarat kue manis yang diburu oleh para semut.

Kita yang berperan sebagai semut, jelas tidak ingin mendapatkan hal yang jauh lebih buruk dari apa yang kita incar, bukan? Oleh karena itu, kehati-hatian saja tidak cukup untuk membentengi diri. Lalu, apa aja, sih, caranya menghindar dari kejahatan cyber itu?

 Ketahui Kredibelitas Situs

Pertama dan yang terpenting ialah kita perlu mengetahui situs mana yang asli atau yang palsu. McAffee turut menghimbau juga, nih, supaya kita tidak malas untuk memastikan laman yang kita kunjungi itu kredibel alias terpercaya.

Salah satu caranya adalah memastikan situs tempat kita ingin membeli tiket misalnya; apakah situs itu terdaftar resmi atau tidak. Kita bisa, tuh, mengecek alamat situsnya, nama yang diusung, sampai formulir-formulis yang membuat kita curiga.

Jangan Cepat Tergoda Sama Penawaran Berlebihan

Promo yang kelewat murah juga perlu diwaspadai. Penawaran-penawaran seperti ini seringkali membuat calon korban terperdaya dan akhirnya membeli. Sebelum membeli atau membayar ada baiknya kamu pastikan dulu berapa harga ‘normal’ yang ada di pasaran.

Atau, nih, Takaiters juga bisa, tuh, membandingkan harga situs satu dengan situs lainnya. Namun, pengecekan harga tetap dilakukan dengan pedoman yang pertama tadi, ya! Jangan sampai harga yang kita lakukan justru dibandingkan juga situs yang abal-abal.

Hati-Hati saat Mengisi Data Diri ketika Bertransaksi

Selain dua poin tadi, hal selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah data-data yang diminta oleh situs. Kalau misalnya, kamu diminta untuk mengisi data-data yang bersifat privasi atau yang menyangkut keamanan, ada baiknya kamu langsung angkat kaki saja dari situs tersebut.

Contoh kasus yang sering terjadi adalah kita diminta password e-mail atau data-data yang bisa digunakan untuk mengakses keungan digital,seperti kartu kredit, atau akses mobile banking kamu. Nah, modus seperti itu bisa jadi langkah awal pelaku untuk menggunakan data-data yang terlanjur diinput untuk melancarkan aksi kejahatannya.