Hai, Takaiters!

Kamu sudah tidak asing dengan istilah ngabuburit, kan? Ngabuburit berasal dari bahasa Sunda “burit” yang artinya sore menjelang malam. Secara umum ngabuburit bisa diartikan aktivitas menghabiskan waktu sore di bulan puasa hingga menjelang magrib. Biasanya orang-orang menghabiskan waktu ngabuburit untuk mengunjungi tempat wisata atau tempat keramaian lainnya.

Bagi yang tinggal di Jakarta, ada beberapa tempat wisata religi yang bisa kamu kunjungi sambil belajar tentang sejarah keislaman. Di mana saja tempat tempat itu? Simak ulasan berikut!

1. Masjid Istiqlal

Foto: mr.mixl.pw

Masjid Istiqlal adalah salah satu masjid kebanggaan bangsa Indonesia dan terbesar di Asia Tenggara. Dibangun sebagai rasa syukur kepada Allah SWT atas kemerdekaan yang diraih oleh bangsa Indonesia. Istiqlal dalam bahasa arab artinya merdeka.  Desain masjid Istiqlal dibuat oleh seorang arsitek beragama Nasrani kelahiran Banandolok, Sumatera Utara, yang bernama Frederick Silaban.

Bangunan Masjid Istiqlal memiliki filosofi tersendiri, yaitu kubah besar berdiameter 45 meter yang melambangkan tahun kemerdekaan Indonesia. Kubah kecil berdiameter 8 meter melambangkan bulan kemerdekaan. Menara yang ada di atas masjid setinggi 17 meter melambangkan tanggal kemerdekaan. Masjid ini dibangun berdekatan dengan dua gereja besar yaitu Gereja Katolik Katedral dan Gereja Protestan Immanuel. Hal ini melambangkan kebhinekaan yang ada di Indonesia dan sikap toleransi antar umat beragama.

2. Masjid Babah Alun

Foto: jakarta.tribunnews.com

Masjid Babah Alun adalah masjid bernuansa oriental atau tionghoa yang berada di bawah kolong tol Wiyoto Wiyono, tepatnya di Papanggo Gang 21, Kelurahan Papanggo, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Dibangun oleh seorang pengusaha keturunan Tionghoa bernama Mohammad Jusuf Hamka. Nama Alun diambil dari nama kecil sang pendiri.

Masjid ini memadukan tiga unsur yaitu Arab, Indonesia dan Tionghoa. Sekilas banguan masjid ini mirip kelenteng dan tidak memiliki kubah. Unsur budaya Tionghoa diwakili oleh genteng dan pintu masjid. Kaligrafi yang mewakili unsur Arab, dan ukiran yang mewakili unsur Indonesia.

3. Masjid Sunda Kelapa

Foto: sofyanhotel.com

Alamat masjid ini berada di jalan Taman Sunda Kelapa no 16 Menteng Jakarta pusat. Masjid ini tidak memiliki simbol-simbol seperti bedug, kubah, bulan dan bintang, seperti pada kebanyakan masjid lainnya. Bentuk bangunannya mirip perahu sebagai lambang kepasrahan umat muslim dalam berdoa supaya dikabulkan oleh Allah SWT. Selain itu, juga sebagai simbol bahwa Sunda Kelapa adalah tempat saudagar muslim berdagang dan menyebarkan agama Islam di sekitar Pelabuhan Sunda Kelapa.

Pada bulan Ramadan, masjid ini digunakan untuk kegiatan I’tikaf yaitu berdiam diri di masjid pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan. Selain itu juga ada buka puasa bersama dan pembagian takjil, salat tarawih berjamaah, bazar Ramadan, dan pesantren kilat.

4. Masjid Lautze

Foto: netz.id

Hampir mirip dengan Masjid Babah Alun, Masjid lautze ini juga memiliki gaya arsitektur Tionghoa. Didirikan oleh yayasan Haji Karim Oie Tjeng Hien. Masjid ini juga tidak memiliki kubah. Desainnya khas Tiongkok berwarna merah dan kuning, dengan dihiasi ornamen lampion dan kaligrafi mandarin, yang sekilas mirip kelenteng. Terletak di Jalan Lautze no 87-89 Karang Anyar,  Kecamatan Sawah Besar,  Kota Jakarta Pusat. Daerah ini merupakan kawasan pecinan di mana banyak etnis Toinghoa yang tinggal di sekitarnya.

Lautze dalam bahasa mandarin artinya guru atau orang yang dihormati. Bangunan masjid ini berada di deretan ruko-ruko yang terdiri dari empat lantai. Lantai satu dan dua digunakan untuk masjid, lantai tiga untuk sekretariat yayasan dan lantai empat sebagai aula pertemuan.

Jam operasional masjid ini juga unik, yaitu dari pukul 08.00 – 17.00 WIB sesuai jam operasional kantor. Pada waktu zuhur dan ashar masjid ini cukup ramai, karena jamaahnya didominasi oleh karyawan yang bekerja di sekitar tempat itu. Pada saat bulan Ramadan masjid lautze rutin mengadakan buka bersama pada hari Sabtu yang kemudian dilanjutkan dengan salat tarawih berjamaah.

Nah, Takaiters cukup unik dan menarik, bukan? Kamu bisa mengunjungi masjid-masjid tersebut untuk mengisi waktu ngabuburit sambil berwisata religi.