Loha, Takaiters!

Hujan merupakan salah satu hal yang penting dalam kehidupan karena dengan hujan tanaman bisa tumbuh subur, sedangkan kemarau panjang bisa menimbulkan banyak persoalan, seperti sulit mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari, sawah, ladang akan gagal panen karena kekurangan air. Nah, saat kemarau panjang melanda, otomatis hujan tidak segera datang dan masyarakat Indonesia memiliki beberapa ritual unik untuk memanggil hujan. Mau tahu apa saja? Let’s keep reading!

1. Unjungan

Foto: aminbellet.blogspot.com

Dalam ritual minta hujan, tradisi ini adalah pukul rotan. Diadakan oleh warga Desa Gumelem, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Permainan ini hanya boleh diikuti kaum laki-laki dewasa saja dan diiringi tabuhan gending Banyumas-an.

Jadi, tradisi ini menggabungkan, antara seni musik, tari, dan bela diri. Nah, untuk melindungi tubuh dari pukulan rotan, masing-masing pemain wajib menggunakan pelindung berupa kain tebal yang telah diisi sabut kelapa. Konon katanya, tradisi pukul rotan ini sudah ada sejak tahun 1830. Wah, sudah lama sekali, ya, Guys.

2. Tari Tiban

Foto: jpnn.com

Tradisi satu ini merupakan tarian kuno yang dilakukan saat ritual minta hujan dengan membawa cemeti yang terbuat dari lidi aren, biasanya sudah dipilin. Para pemain memasuki arena sambil menari-nari dan diiringi tabuhan. Biasanya tradisi ini dilakukan setiap tahun saat musim kemarau oleh warga Desa Wajak Lor, Kecamatan Bojolonagu, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur.

3. Ojung

Foto: old.vidioviral.com

Tradisi Ojung mirip sekali dengan tradisi Unjungan. Warga Desa Blimbing, Kecamatan Klabang, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, juga menggelar aksi sabet rotan. Aksi ini digelar setelah acara selamatan berupa doa dan makan bersama di pinggir sungai. Tak hanya itu, dalam acara ini juga dimeriahkan dengan tarian khas daerah ini, yaitu tari topeng kuno dan tari ronteksingo.

4. Cowongan

Foto: zona1000.com

Cowongan merupakan tradisi minta hujan dengan membuat boneka dari irus (sendok sayur) atau siwur (gayung) yang terbuat dari batok kelapa. Warga Desa Plana, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah yang melakukan tradisi ini.

Biasanya, cowongan diadakan ketika desa mengalami kemarau panjang. Boneka dari siwur atau irus ini didandani dengan paras perempuan dan pemainnya menyanyikan syair yang berisi doa kepada sang penguasa alam agar segera diturunkan hujan.

5. Nyaluh Ondou

Foto: rri.co.id

Nyaluh Ondou merupakan ritual minta hujan bagi masyarakat Suku Dayak Ot Danum, Kalimantan Tengah. Upacara ini dimulai dengan mengambil air dan pasir di tepi sungai Kahayan dan berlanjut dengan mengantar persembahan di tengah hutan. Untuk persembahan yang dibawa, yaitu berupa garam balok, uang koin, telur masak, ketan, rokok, beras, dan ayam rebus.

Sesaji ini dipersembahkan kepada tiga raja atau malaikat yang menguasai hujan, yaitu Raja Gamala Raja Tenggara (penguasa kilat), Raja Junjulung Tatu Riwut (penguasa angin), dan Raja Sangkaria Anak Nyaru (penguasa petir). Nah, selesai membaca doa, para peserta ritual kembali ke arah sungai dengan berlari dan ketika sampai di tepi sungai, pemimpin upacara melepaskan ayam jantan untuk ditangkap.

6. Selamatan Gunungsari

Foto: Radarmalang.id

Warga Dusun Gunung Indrodelik, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, juga memiliki tradisi meminta hujan dengan mengadakan selamatan di Telaga Gunungsari yang sudah kering.

Dalam upacara ini, warga akan membawa makanan, seperti nasi kuning, ketan, buah-buahan, ikan, dan minuman dawet. Setelah masyarakat sekitar berkumpul, doa dipanjatkan, lalu dilanjutkan dengan makan bersama. Konon, tradisi minta hujan ini sudah lama ada sebagai wujud rasa syukur, sekaligus cara untuk menjaga telaga sebagai sumber air bagi masyarakat desa setempat.

7. Gebug Ende

Foto: kintamani.id

Ritual satu ini dilakukan oleh masyarakat Bali dan tidak jauh beda dengan Unjungan atau Cowongan. Ende merupakan sebutan untuk rotan dan gebug adalah alat yang menangkis pukulan rotan.

Pertarungan dalam ritual ini akan saling pukul hingga berdarah-darah, dengan cara ini dipercaya hujan akan segera turun. Mungkin bagi sebagian orang tradisi ini terlihat tidak masuk akal. Namun, ritual tersebut sudah mengakar dan melekat kuat pada keseharian masyarakat. Keunikan tradisi ini juga menunjukkan betapa kayanya tradisi dan budaya Indonesia.

8. Manten Kucing

Foto: muhammadsyafian.blogspot.com

Ritual ini biasa dilaksanakan di Tulungagung khususnya di Desa Pelem. Dalam ritual ini, dipercaya sepasang kucing yang dimandikan di Coban Kram dipercaya bisa membuat hujan segera turun karena ritual ini mirip seperti siraman pengantin manusia dan upacara ini disebut manten kucing. Warga sangat percaya dengan ritual ini, sampai kebanyakan orang akan berebut bekas air mandi kucing tersebut. Mereka juga percaya bahwa dengan membasuh muka dengan air tersebut bisa mendapatkan berkah atau awet muda.

Nah, Guys, itulah beberapa tradisi pemanggil hujan dari berbagai daerah yang ada di Indonesia. Apa di kotamu juga ada, Guys?