Halo, Takaiters!

Setelah kamu mengetahui bahwa ada sejumlah bukti bahwa sastra Minang telah menancapkan tajinya di kancah dunia, kini saatnya bagi kamu untuk mengenal sosok sastrawan legendaris yang termasyur hingga luar negeri. Sosok ini adalah Motinggo Busye, yang begitu terkenal pada zamannya.

Ingin mengenal beliau lebih lanjut? Mari membaca penjelasan di bawah ini!

Putra Asli Minang yang Fenomenal

Motinggo Busye lahir tanggal 21 November 1937, dengan nama asli Bustami Djalid, adalah putra dari pasangan Djalid Sutan Raja Alam dan Rabi’ah Ja’kub. Kedua orangtuanya berasal dari Pariaman dan Agam, yang sudah pasti berdarah asli Minangkabau.

Mantan redaktur kepala Penerbitan Nusantara periode 1961-1964 ini terbilang cukup produktif dalam berkarya. Sedikitnya ada 200-an karya yang telah dihasilkannya baik novel, drama, cerpen, maupun puisi. Karyanya yang sangat terkenal adalah novel “Tujuh Manusia Harimau” yang sukses dicetak berulang kali dan difilmkan di layar kaca.

Pilihan Editor


Menyabet Aneka Gelar Bergengsi

Penulis 27 buku laris ini tidak hanya memukau dunia sastra dalam negeri. Nama Motinggo tercatat menjuarai dan meraih penghargaan bergengsi di luar negeri. Karya sastranya juga pernah dipentaskan di Universitas Pasadena, Amerika Serikat. Yang lebih membanggakan lagi, sekumpulan karya sastranya masih tersimpan di Perpustakaan Kongres di Washington, DC, Amerika Serikat.

Karya-karyanya banyak diterjemahkan dalam berbagai bahasa, antara lain bahasa Inggris, Jepang, Belanda, Perancis, Korea, Cekoslovakia, dan Jepang. Sebagai penyair, karya-karyanya masuk dalam antologi penyair Asia (1986) dan antologi penyair dunia (1990). Bahkan, kamu dapat menjumpai nama Motinggo Busye terpahat indah di antara 1000 penyair dunia, di taman kota Seoul, Korea Selatan.

Menjadi Perbincangan Sastrawan Senior di Dalam Negeri

Banyak sastrawan dan kritikus yang berkomentar tentang Busye. Sebut saja Sutardji Calzoum Bachri yang mengatakan bahwa Motinggo Busye sebagai sastrawan Master of Style. Apresiasi atas karya Busye juga datang dari sastrawan WS. Rendra.

Bagaimana tidak diperbincangkan? Karya-karya Motinggo berulang kali ditahbiskan sebagai karya sastra terbaik oleh majalah dan harian yang terkenal di Indonesia.

Busye mendapatkan hadiah ke-4 Sayembara Penulisan Cerpen Majalah Horison 1997 melalui cerpennya berjudul ‘Bangku Batu’. Cerpennya berjudul ‘Lonceng’ juga masuk kategori 10 cerpen terbaik 1990-2000 versi majalah sastra Horison 2000. Karya lainnya, cerpen berjudul ‘Dua Tengkorak Kepala’ ditahbiskan sebagai cerpen terbaik Kompas tahun 1999.

Wow, tidak diragukan lagi, ya, Guys, bahwa sastrawan asli Minang memang jempolan dan layak mendunia.