Halo, Takaiters!

Minggu merupakan hari yang spesial. Keistimewaannya sendiri datang dari jadwal libur yang sudah menjadi langganan, meskipun keesokan harinya adalah hari yang selama ini dianggap sebagai momok besar serupa monster yang menyeramkan. Namun, tak ada salahnya untuk menikmati santai yang amat sesaat, bukan?

Suatu hari, tentu itu hari minggu, saat saya melakukan rutinitas yang beberapa tahun terakhir ini sudah mulai sulit. Rasa kantuk dan lelah kian kuat menghalangi untuk melakukannya lagi. Udara pagi hari minggu jadi sedemikian langka karena jadwal rutinitas lainnya begitu menyita.

Hari itu, saat kesempatan itu datang, ketika sedang menikmati udara yang saya kira segar itu, tiba-tiba terbesit pertanyaan yang mungkin remeh. Benarkah udara pagi yang terhirup ini benar-benar, ehem … segar?

Jawabannya pun muncul. Jawaban yang terdengar tidak menyenangkan. Apakah kita pernah mengira kalau polusi itu kuat dan semakin kuat dengan seiringnya umur kehidupan kita dengan segala kerumitannya hingga sekarang ini?

Masih Menjadi Momok Besar

Polusi plastik masih terus menjadi momok besar
Foto: Magda Ehlers from Pexels

Selama ini, apa yang kita anggap menyenangkan berselonjoran duduk menghirup udara pagi ditemani secangkir minuman hangat favorit, nyatanya tidak seindah apa yang kita kira selama ini.

Polusi sudah lama menjadi momok besar bagi kehidupan kita. Tidak hanya manusia melainkan juga bagi kelangsungan makhluk hidup lainnya. Bahkan, sebelum negara api menyerang, teror polusi itu sebenarnya sudah ada. Dan, momok tersebut semakin horror seiring berjalannya waktu.

Dalam kehidupan kita bersama planet bumi sebagai tempat tinggal, alur hidup kita semakin kompleks. Alhasil, polusi jadi makin akrab dengan kita. Polusi itu kuat karena mereka bisa datang dari dan pergi kemana-mana. Itu saja dan begitulah realita yang ada.

Bukti-bukti saintifik membuat kita semakin khawatir. Mengingatnya saja sudah bikin hari minggu yang harapannya tenang dengan hirupan udara segar menjadi sebuah keresahan. Tentang bagaimana polusi tetap biasa menyeruak masuk ke dalam tubuh.

Horor Semakin Menjadi-jadi

Mikroplastik adalah sisi horor bumi
Foto: George Becker from Pexels

Kekhawatiran itu pun jadi bertambah ketika plastik merajalela ke setiap sendi kehidupan. Sebuah kekhawatiran yang mungkin sudah semestinya menjadi kekhawatiran semua penghuni bumi.

Terdengar berlebihan memang, tetapi kedigdayaan plastik dalam beberapa waktu belakangan justru memperlihatkan pertunjukan horror. Bagaimana plastik yang begitu akrab dengan kita kini berubah seolah ingin menginvasi bumi? Bergerak dengan tendensi destruktif menghancurkan bumi?

Plastik tidak hanya tentang sampah. Tajuknya tidak berhenti di situ saja. Para ilmuwan telah mulai mengungkap bagaimana plastik menjadi sebuah eksistensi horor. Tidak seperti hantu pocong atau drakula yang seramnya hanya berlaku di beberapa tempat tertentu, plastik justru bertingkah sama dalam skala global.

Sisi horror plastik adalah polusi mikroplastik. Partikel yang berupa potongan-potongan mungil. Saking mungilnya potongan itu bisa, bahkah sudah muncul di tempat-tempat yang dirasa tidak mungkin. Partikel mungilnya bisa bertiup lewat udara, berkelana jadi pengembara kemana-mana, termasuk Kutub Utara nun jauh di sana.

Kekuatan Pengembara

Mikroplastik, polusi dengan kekuatan hebat
Foto: Porapak Apichodilok from Pexels

Adalah fakta bahwa mikro partikel itu memiliki kekuatan berkelana dengan jangkauan dan kecepatan tempuhnya yang aduhai saktinya. Kapan pun kita bisa jadi menghirup, meminum, dan memakannya.

Tidak mustahil apabila hari minggu itu saya menikmati minuman hangat dengan polusi yang ditelan hidung dan diseruput rongga mulut. Kemudian, mungkin saja masih menetap dalam tubuh kita saat ini.

Di balik kekuatannya itu, polusi, khususnya mikroplastik sebenarnya datang dari perbuatan kita sang manusia selaku penghuni dominan. Ini bukan lagi rahasia.

Sampah-sampah plastik sisa menjadi merdeka, kemudian tertampung tanah, mengarungi air atau melayang di udara.

Siapa sangka mikroplastik datang kembali. Meracuni seisi planet, baik dari sisi estetis keindahan dan efek buruk bagi daur kehidupan di masa depan.

Pejalan yang Lupa

Pejalan yang lupa itu adalah Polusi
Foto: Meir Roth from Pexels

Partikel dengan kebebasannya itu pun membuatnya jadi pejalan yang lupa. Menjadi entitas yang siap kembali dengan bentuk dan cara yang lain. Kita pun sulit melihat seperti apa mikropartikel itu kembali menghampiri.

World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa pendistribusian mikroplastik bisa berada di arus samudera dan muncul bersama hidangan lauk seafood untuk makan malam.

Seafood adalah salah satu contoh yang rentan tercemar mikroplastik selain air yang tiap hari kita gunakan atau udara yang kita hirup. Bahkan, sangat mungkin jika mikroplastik atau polutan lain kita nikmati setiap waktu tanpa kita sadari.

Namun, satu hal yang perlu diingat. Pejalan yang lupa itu pergi sebagai limbah buangan yang berasal dari kita, kemudian bisa kembali kapan pun. Lewat air yang kita minum, udara yang kita hirup, dan makanan yang kita kunyah. Lalu, bagaimana rasanya?

Punya Keterbatasan Besar

keterbatasan penelitian soal mikroplastik
Foto: Juan Pablo Arenas from Pexels

Sebuah studi penelitian menyebutkan bahwa jumlah plastik yang dihasilkan manusia mencapai 400 juta ton pada tahun 2015. Setidaknya ada 8 juta ton berenang-renang di lautan setiap tahun.

Ada prediksi bahwa sepuluh tahun ke depan, jumlah totalnya bakal berlipat ganda. Namun, para peneliti sendiri memiliki keterbatasan untuk menghitung angka yang ada.

Mereka hanya dapat menghimpun 1 persen dari jumlah riil keseluruhan. Takaiters bisa bayangkan, berapa jika hitungan tersebut beserta 99 persen sisanya itu. Sangat mungkin jika angka sebenarnya lebih dari hitungan awal tadi.

Hasil penelitian yang beragam dalam kasus mikroplastik juga dipengaruhi oleh metode penelitian dari para ilmuwan yang belum konsisten, seperti ditulis Wired pekan lalu. Ini menciptakan hasil perhitungan yang banyak versi.

Masih Jadi Misteri

Pengaruh mikroplastik masih jadi misteri
Foto: Pixabay

Dari semua versi, Takaiters bisa kok menyimpulkan kalau jumlah polusi mikroplastik itu luar biasa besar. Jangkauannya pun begitu luas. Pernah berpikir enggak, kalau sampah yang kita buang bisa nyandar sampai pulau seberang? Hmm ….

Meski beragamnya versi, tingkat kontaminan yang dilaporkan para peneliti rata-rata yang guede buanget! Selain itu, ragam metode studi yang digunakan membuat temuan-temuan yang ada hampir tidak mungkin buat dibandingkan.

Dari banyaknya bukti kalau polutan mikroplastik itu bisa berkelana dan hinggap ke dalam tubuh itu, ada sesuatu yang masih menjadi misteri besar. Apakah mikro partikel tersebut berimplikasi buruk buat kesehatan kita?

Dari semua laporan penelitian yang dihimpun WHO, mikroplastik berpotensi punya pengaruh. Potensinya diduga besar. Sayangnya, misterinya lebih kepada sisi: pengaruh apa yang timbul ketika partikel tersebut masuk ke dalam tubuh.

Harus Terus Berlanjut

Penelitian terkait partikel plastik dalam kandungan air minum terus dikaji
Foto: Martin Lopes from Pexels

Misteri ini menyimpulkan kalau sains atau ilmu pengetahuan masih memiliki keterbatasan. Belum ada bukti mutlak jika mikroplastik bisa mengancam kesehatan manusia.

Kalaupun ada, bentuknya masih dalam asumsi semata. Dari beberapa sumber yang ada, dalam hal ini, para peneliti seolah belum berani menyimpulkan apa yang sebenarnya pasti.

“Kami tahu (dari) data yang telah kami ulas, dan kami tahu (bahwa) itu menimbulkan kekhawatiran di masyarakat,” ujar Bruce Gordon, anggota tim koordinator penyusun laporan untuk WHO.

Ketidakpastian itu seakan kita bisa tenang. Tapi, jangan dulu, Takaiters. Pasalnya, sebagaimana sebuah misteri, pertanyaan ini bukankah seharusnya terjawab? Lagian, nih, aneh engak, sih, kalau tiap waktu benda asing bernama polusi itu bebas keluar masuk dalam badan kita?

Oleh karena situasi itulah, pemecahan akan misteri tersebut didesak untuk tetap berlanjut. Seperti kata Deonie Allen, seorang ilmuwan polusi lingkungan dari Universitas Strathclyde yang bilang kalau apa yang tidak kita ketahui itu sebenarnya sangat besar.

Kemungkinan Terburuk

kemungkinan terburuk dari polusi mikroplastik
Foto: Catherine Sheila from Pexels

Yang jelas, secara umum bumi bakal sulit untuk benar lepas dari balutan polusi. Perlu buat disadari bahwa pencemaran seyogyanya datang dari kita sendiri, termasuk pencemaran akibat plastik.

Selagi para peneliti mencari kesimpulan yang jelas, makhluk hidup di seluruh dunia akan terus minum, makan, dan menikmati udara bersama mikroplastik sebagai kudapannya. Tidak berlebihan untuk mengatakan: Kita sedang hidup di planet plastik sekarang.

Selain itu, sebagai contoh aja, nih, data yang ada menunjukan kalau 2 miliar orang menenggak air yang terkontaminasi feses, lo! Dan, kontaminan itu menyebabkan hampir 1 juta kematian. Kematian per tahun! Duh ….

Jadi, jangan berhenti buat ngikutin perkembangan dan bersiap-bersiap dengan kemungkinan buruk atas jawaban dari misteri besar tersebut, ya, Takaiters! Kalau baik, ya, syukur. Hehehe…