Halo, Takaiters!

Saat Takaiters mengunjungi kabupaten Banjarnegara sebagai tempat tujuan wisata jangan lupa untuk mencicipi makanan khas kabupaten ini, ya? Yaitu Buntil. Kata buntil sendiri dalam bahasa Jawa berarti buntelan di mana buntil ini adalah lauk yang berisi parutan kelapa muda yang telah di bumbui dengan rempah-rempah dapur seperti bawang, cabai, lengkuas, garam, dan di bungkus dengan daun singkong, keladi, talas atau lumbu, pepaya, dan juga daun ceklacikli.

Daun Lumbu atau Talas Sebagai Bahan Utama

Foto: flora-kampung.blogspot.com

Di Banjarnegara sendiri daun yang digunakan untuk membuat buntil biasanya adalah daun lumbu atau talas. Namun, ada juga yang menggunakan daun ceklacikli. Mengolah daun lumbu atau talas susah-susah gampang, lo, Takaiters, karena daun lumbu/talas ini sedikit gatal jika tidak diolah dengan benar. Untuk itu proses pengolahan daunnya benar-benar diperhatikan mulai dari pencucian sampai dengan perebusan agar tidak gatal dan lembut. Sebelum digunakan daun lumbu atau talas tersebut dijemur dahulu sampai layu kemudaian dicuci bersih dengan air yang mengalir dengan tujuan agar daun talas tidak gatal setelah direbus nanti.

Untuk isiannya sendiri adalah parutan kelapa muda yang telah dibumbui dan di campur udang rebon atau ebi, tempe, petai cina, atau ikan teri yang ditumbuk kasar. Proses merebus buntil harus cukup lama agar daun lumbu atau talas menjadi lembut dan tidak gatal. Yang membedakan bunti daun lumbu/talas dengan buntil daun singkong atau pepaya adalah tekstur daun lumbu atau talas lebih lembut dan lebih khas saat disantap.

Nah, ini dia yang menjadikan buntil Banjarnegara lezat dan terkenal. Bahkan saking terkenalnya, Takaiters bisa menjumpai makanan ini di Yunani dan Turki bedanya di sana daun yang digunakan untuk membungkus adalah daun anggur muda dan isiannya adalah nasi.

Penyajian Buntil

Foto: makanannya.com

Buntil ini bisa disajikan dengan 2 cara. Buntil yang setelah direbus langsung dinikmati dengan urap (parutan kelapa yang dibumbui biasanya sedikit pedas) yang ditaburkan dibuntil itu sendiri atau juga buntil yang telah direbus tersebut di masak kembali dengan kuah santan yang gurih dan pedas. Saat memasaknya juga harus lama agar kuahnya meresap pada buntil itu sendiri.  Menyantap buntil dengan nasi hangat dan tambahan ikan teri berikut kerupuk sangatlah lezat. Apalagi jika kamu menyantapnya bersama teman atau keluarga di tempat suasana pedesaan yang adem seperti Banjarnegara ini.

Foto: cookpad.com

Aroma buntil yang menggoda selera dan rasanya yang gurih dan tekstur daun talas atau lumbunyayang lembut bisa membuat kamu ketagihan, lo!Jika kamu tidak selera untuk makan nasi, buntil berkuah ini juga bisa dinikmati dengan bubur. Rasanya pun tidak kalah dengan bubur ayam bahkan lebih lezat karena gurihnya santan dan perpaduan pas bumbunya.

Foto: masakandapurku.com

Di Banjarnegara Takaiters bisa menikmati makanan buntil di perempatan buntil sebelum alun-alun Banjarnegara. Bisa juga di warung-warung nasi yang menyajikan menu khas ini. Jika kamu berniat membawa buntil sebagai oleh-oleh, kamu juga bisa memesannya. Satu potong bunti harganya Rp7000,00, cukup murah bukan, Takaiters? Tapi buntil ini tidak tahan lama lo, Takaiters, paling bertahan dalam 1 atau 2 hari saja karena makanan ini tidak menggunakan bahan pengawet makanan. Jadi, jika Takaiters mau menjadikan buntil sebagai oleh-oleh, kamu bisa memesannya terlebih dahulu dan mengambil buntilnya pada saat mau pulang.

Jangan lupa dicoba buntil daun lumbu atau talas Banjarngera, ya, Takaiters?