Aku ini binatang jalang/ Dari kumpulannya terbuang/ Biar peluru menembus kulitku/ Aku tetap meradang menerjang/ Luka dan bisa kubawa berlari/ Berlari.

“Aku”  itulah judul sajak yang paling berpengaruh pada khasanah kesusastraan Indonesia angkatan 45. Sajak “Aku” seperti sebuah dentuman mahadasyat yang mengguncang alam kesusastraan Indonesia yang masih muda usianya.

Sajak “Aku” adalah kata “ahli waris” bagi hegemoni kebudayaan yang akan datang untuk mendongkel tahta kata ‘kita’ yang terpelihara rapi di dada, pikiran, dan ucapan tata bahasa kebudayaan lokalitas. Sajak “Aku” adalah sekuntum kata yang penuh dengan tenaga, gairah, dan semangat dalam diri sang penyair yang berjalan menembus batas ketakutan dan kewajaran.

Sajak “Aku” adalah labirin kata yang menikuk cadas, curam, dan terjal. Sebuah sajak yang hendak melukiskan alam individualitis, eksistensialis, dan vitalitas seorang penyair muda nan merdeka. Dan “Aku” ingin hidup seribu tahun lagi, kata Chairil Anwar, nama penyair muda itu.

Sajak “Aku” pernah dimuat di sebuah koran yang diasuh oleh H.B Jassin (kelak menjadi kritikus sastra paling berpengaruh di Indonesia) dengan judul “Semangat” ditulis oleh Chairil Anwar pada saat masih berusia 21 tahun. Satu kata: ajaib! Sajak “Aku” konon pertama kali diperkenalkan Chairil Anwar saat berlangsungnya diskusi di Pusat Kebudayaan Jepang (Keimin Bunka Sidosho).

Foto: cikimm.com

Membicarakan lahirnya sajak “Aku” ada beberapa versi, “Bunga Rampai Kenangan pada Balai Pustaka” (Balai Pustaka: 1992) karya H.B Jassin atau buku yang cukup fenomenal ditulis oleh Sjuman Djaya berjudul “Aku” (1987). Namun,  jika ditarik satu napas dalam buku “Chairil” karya Hasan Aspahani memperlihatkan ketangguhan Chairil Anwar yang berhasil memukau para audiens.

Di dalam buku “Chairil” karya Hasan Aspahani dijelaskan saat diskusi kebudayaan waktu itu, tanpa diminta memberikan pendapatannya tentang sajak yang sedang didiskusikan, seorang anak muda kurus bermata merah tampil ke depan.

Layaknya lampu yang sudah dinyalakan, maka naiklah sang bintang ke atas panggung. Dengan penuh percaya diri ia berkata, “Sajak-sajak itu sudah usang.” Kemudian, dengan cepat ia mengambil kapur tulis dan mulai menulis sajak “Aku” dengan diiringi suara yang jelas dan tegas. Setelah itu terjadilah perdebatan bergizi dengan Rosihan Anwar.

Hampir seabad usia Chairil Anwar. Namun, namanya tak sirna diterjang masa, tak habis dihantam zaman; wangi dan abadi. Chairil Anwar adalah satu dari sedikit saja penyair kita yang acap kali diperbincangkan: di kampus, sekolah, tempat-tempat umum, bahkan hingga diskusi komunitas sastra.

Akan tetapi, riuh rendahnya, banyak orang yang lebih suka membicarakan sepak terjarang ‘sisi lain’ kehidupan Chairil Anwar yang ‘bohemian’. Sebab, bukan hanya sajak-sajaknya saja yang mampu menghipnotis khalayak, melainkan juga kepribadian Chairil Anwar yang dalam dewasa kini menjadi magnet, baik bagi maupun yang bukan masyarakat sastra, terlebih kaum muda-mudi.

Binatang Jalang yang Sesungguhnya

Foto: romadecade.com

Chairil Anwar adalah raja bagi dirinya sendiri, pembangkang kelas kakap, dan penyair yang ‘merdeka’ sekalipun derita tak pernah bosan mengepung hidupnya. Tentu sedikit banyaknya kita pernah mengintip romantisme dan ‘kegilaan’ Chairil Anwar dengan beberapa perempuan yang berakhir dengan sedu sedan, entah dari buku, wiracarita, maupun panggung drama.

“Chairil itu memang binatang jalang yang sesungguhnya. Namun, apa yang bisa diharapkan dari manusia yang tidak karuan itu?” kata Ida Nasution kepada H.B Jassin suatu ketika. Barangkali demi menjaga perasaan Chairil Anwar, H.B Jassin tidak pernah menyampaikan ucapan itu.

Bagaimana pun juga Chairil Anwar adalah Chairil Anwar yang selalu memuja-muja keindahan tanpa pertimbangan dan perhitungan. Karena baginya, cinta adalah bahaya lekas menjadi pudar. Seperti yang dituangkan dalam salah satu sajaknya “Tuti Artic”.

Ida Nasution, bukanlah perempuan satu-satunya yang pernah mampir di kehidupan Chairil Anwar, masih ada nama lain, semisal Tuti, Sri Ajati, Sumirat, dan Hapsah. Bahkan, Chairil Anwar menyakralkan bebrapa nama perempuan yang pernah di gila-gilainya dengan sebuah sajak.

“Senja di Pelabuhan Kecil” mungkin kita tahu, di bawah judul sajak itu tertulis nama Sri Ajati. Kepada perempuan itulah sajak itu diperuntukkan. Juga, ada sajak berjudul “Sajak Putih” untuk Mirat, dan “Tuti Artic” untuk Tuti. Meski pada akhirnya, dengan Hapsahlah cinta sang penyair “binatang jalang” itu diikat atas nama pernikahan.

Sebagaimana kita tahu, romantisme Chairil Anwar dan Hapsah harus padam dengan lekas dan ringkas. Bagi Hapsah sendiri, menikah dengan seorang penyair harus menerima satu paket dengan jalan idealismenya.

Eksistensialisme

Foto: pasberita.com

Kerja di kantoran barangkali menjadi idaman bagi setiap orang, tetapi tidak menurut kacamata Chairil Anwar. Bung Hatta dan Sutan Takdir Alisjahbana adalah dua orang yang pernah menjadi atasan Chairil Anwar di kantor. Di kantor statistik, Chairil Anwar pertama kali bekerja sebagai penerjemah dan panyalin informasi data-data dari bahasa Jerman dan Belanda.

Bayaran 60 gulden sebulan, dengan jam kerja hanya 6 jam sehari, tak membuat Chairil Anwar betah. Usia Chairil Anwar di kantor statistik itu bahkan relatif singkat, hanya tiga bulan. Suatu ketika Chairil Anwar menyebut penderitaan kerja di kantor dengan bahasa yang puitis: kukungan mengalami kantor.

Jiwa muda Chairil Anwar yang masih panas aliran darahnya tentu tidak suka hidup dalam aturan. Chairil Anwar lebih suka menggelandang pergi pagi dan pulang pagi sesuka hatinya. Sudah menjadi jalan hidup Chairil Anwar yang mengkultuskan puisi sebagai napasnya menghirup penghidupan. Meski kita tahu bahwa puisi sama sekali tak menghidupi penyair muda itu. Chairil Anwar adalah anomali sekaligus ‘bohemian’ tulen.

Baginya, kebebasan bertahta di atas segala, dan kemerdekaan diri mesti dicapai dan dirayakan. Chairil Anwar adalah pencuri buku ulung, tengkulak beras handal, dan jagonya mempermainkan drama pada sahabat-sahabatnya hanya untuk numpang tidur dan makan. Bagi para sahabat Chairil Anwar sendiri, keberadaan Chairil Anwar sangat mengganggu ketenangan, akan tetapi tanpa Chairil Anwar segalanya beku. Chairl Anwar bagai sang pengusik sepi yang menyembunyikan loncengnya.

Namun, terlepas dari jalan hidup Chairil Anwar yang eksistensial, bagaimanapun juga Chairil Anwar telah menunjukan cara kerja puisi. Karena lewat puisilah, Chairil Anwar ditasbihkan sebagai pelopor Angkatan 45. Ketika kemerdekaan bangsa Indonesia diproklamirkan, puisi pun harus merdeka dari kungkungan angkatan sebelumnya.

Dengan demikian, maka “Aku” (Chairil Anwar) adalah sekumpulan tulang raya yang merdeka yang memberontak pada kehidupan yang sebenarnya. Pada sosok Chairil Anwar inilah pada hakikatnya adalah sebuah cerminan bagi siapa saja yang ingin mempertahankan nilai-nilai kehidupan menurut keyakinan tanpa mengikuti otoritas di luar dirinya.

Bagaiamana Chairil Anwar mencerminkan kebebasan dan individualistik karena baginya hidup bukan perkara mencari nafkah sesuai ketentuan dan syarat satu garis lurus yang dipaksakan oleh masyarakat dan zamannya. Dan, Kalau sampai waktuku/ Kumau tak seorang kan merayu/ Tidak juga kau/ Tak perlu sedan itu/ Aku ini binatang jalang… begitulah sajak Chairil Anwar menyepak dan menerjang batas-batas ketakutan yang curam dan tajam melampaui hegemoni kebudayaannya. Melampaui zamannya.