HalloTakaiters, Merdeka!

Kemerdekaan Republik Indonesia diperoleh melalui pengorbanan ribuan nyawa pahlawan. Proklamasi kemerdekaan RI dibacakan oleh Ir. Soekarno, presiden pertama Indonesia. Nah, tahu kah kamu siapa tokoh yang mengetik naskah proklamasi tersebut? Ya. Sayuti Melik. Yuk kita kenali lebih dekat!

Foto: jadiberita.com

Sayuti Melik adalah tokoh muda yang mempunyai peran penting dalam proklamasi kemerdekaan Indoesia. Dengan didampingi oleh BM Diah, Sayuti mengetik naskah proklamasi dan mengusulkan agar naskah tersebut ditandatangani oleh IR Soekarno dan M. Hatta atas nama bangsa Indonesia.

Foto: maado.tribunnews.com

Sayuti Melik lahir dengan nama asli Mohammad Ibnu Sayuti. Beliau lahir pada tanggal 22 November 1902 di Sleman Yogyakarta. Sayuti Melik adalah putra dari Abdoel Mu’in, seorang kepala desa dan ibu bernama Sumilah. Abdoel Mu’in merupakann seorang nasionalis yang menetang ketika Belanda memaksa untuk menanami sawahnya dengan tembakau. Abdoel Mu’in juga tidak segan membela warganya yang mengalami penindasan. Sifat nasioalisme dari sang ayah menurun kepada Sayuti. Sayuti mulai belajar nasionalisme dari usia belia, yaitu tahun 1920 ketika sekolah keguruan di Solo.

Sebagai seorang wartawan, tulisan Sayuti cukup mendapat perhatian penjajah karena dianggap dapat mempengaruhi rakyat agar menentang penjajah. Karena tulisan dan sepak terjangnya Sayuti sering ditangkap dan diasingkan.  Pertama merasakan dinginnya penjara pada usia 16 tahun, yaitu pada tahun 1924 dan oleh Belanda ditahan di Ambarawa atas tuduhan menghasut rakyat untuk melawan pemerintah.

Belum lama merasakan kebebasan, pada tahun 1926 Sayuti kembali ditahan atas tuduhan terlibat dalam pemberontakan PKI dan diasingkan di Boven  Digul Papua. Selama dalam pengasingan Sayuti mengisi waktunya dengan belajar Bahasa Prancis dan Inggris. Sayuti kembali dari pengasingan pada tahun 1933.

Tiga tahun kemudian, ketika berada di Singapura, Sayuti kembali ditangkap oleh tentara Inggris karena dituduh terlibat dalam gerakan melawan Inggris.

Foto: erwinedward.com

Sayuti Melik menikah dengan S.K Trimurti, seorang wartawati dan tokoh nasionalis pada tahun 1937. Seperti Sayuti, Trimurti juga berkali-kali dipenjara karena tulisan dan kegiatannya. Mereka dikaruniai dua orang anak laki-laki yang bernama Moesafir Karma Boediman dan Heru Baskoro

Satu tahun setelah menikah, Sayuti dan Trimurti mendirikan koran Pesat di Semarang. Koran tersebut terbit tiga kali seminggu dengan jumlah dua ribu eksemplar. Karena dianggap berbahaya, koran Pesat diberangus oleh Jepang.

Beberapa bulan setelah kemerdekaan, tepatnya tahun 1946, Sayuti ditangkap oleh pemerintah RI atas perintah Amir Sjarifuddin dengan tuduhan terlibat makar. Setelah diperiksa Mahkamah Tentara dan dinyatakan tidak bersalah, Sayuti dibebaskan.

Foto: alchetron.com

Pada tahun 1950, Sayuti diangkat sebagai aggota MPRS dan DPRS. Sayuti termasuk salah satu tokoh yang menentang pengangkatan Presiden Soekarno sebagai presiden seumur hidup. Semasa kepemimpinan Presiden Soeharto, Sayuti dua periode terpilih sebagai anggota DPR dari Golkar, yaitu tahun 1971 dan 1977.

Sayuti meninggal pada usia 80 tahun, yaitu tanggal 27 Februari 1989. Jenazah beliau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.