Hallo, Takaiters!

Gunung Rinjani menyimpan begitu banyak misteri, dengan ketinggian 3.726 meter diatas permukaan laut (dpl), keberadaannya menjadi gunung berapi kedua tertinggi di Indonesia. Gunung berapi yang masih aktif itupun banyak ditumbuhi oleh berbagai jenis flora mengagumkan dan mampu memukau keindahan panorama di sekitarnya.

Tanpa kita sadari, di kawasan yang dilindungi kelestarian alamnya tersebut ada satu jenis flora yang bernilai tinggi. Tanaman tersebut adalah sejenis jamur yang bernama “morels” atau morchella spp.

Dikutip dari Wikipedia : “morchella” (nama lain: guchhi, jamur spons, atau morel) adalah jamur saprofit yang dapat dikonsumsi.

Jamur tersebut tidak sengaja ditemukan oleh Kepala Seksi Pengelolaan Wilayah I Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) Teguh Rianto, saat beliau sedang melakukan patrol di dalam kawasan taman nasional pada tahun 2009.

“Morel” adalah jenis jamur termahal kedua di dunia, setelah jamur ‘truffles’. Jamur langka yang tergolong hanya bisa tumbuh di daerah tropis tertentu ini, memiliki habitat di tanah kaya humus, daun mati dan batang pohon yang meranggas.

Kelezatan jamur morels mengakibatkan pasarannya tidak hanya laku di dalam negeri, tetapi juga permintaan dari berbagai negara, hal ini berpengaruh pada harganya yang relatif mahal dibandingkan dengan jenis jamur pada umumnya.

Jamur jenis “morels” yang tumbuh di lereng Gunung Rinjani berkesempatan sangat besar untuk diekspor ke berbagai negara. Pangsa pasar jamur morels sangat besar, karena peminatnya dari negara-negara kawasan Eropa dan Asia.

Apalagi flora tersebut sudah terbukti secara ilmiah mengandung senyawa yang mampu melindungi hati dari efek samping obat-obatan, mengandung zat untuk kekebalan tubuh manusia, antioksida, antibioik, vitamin D, D2, dan D3.

80 jenis jamur yang sudah ditemukan, ada sebanyak 14 jenis jamur “morels” yang dikonsumsi sebagai makanan, dan lima jenis yang lain sebagai obat. Jamur dengan kelezatan dan dengan harga termahal kedua di dunia ini diperdagangkan dalam bentuk kering. Para penjual mengemasnya menggunakan kaca plastik yang higienis serta ditempeli label.

Para pecinta kuliner jamur morels di berbagai negara, mengkonsumsinya dalam bentuk sup dicampur dengan jenis sayuran lain, ada juga yang ditumis, dan sebagai campuran dalam pembuatan pizza, yang merupakan salah satu makanan khas Italia.

Para pengepul di Amerika dan Eropa, juga mengumpulkan jamur morels yang tumbuh liar di alam bebas untuk diperdagangkan. Disebabkan harga jamur morels cukup mahal di pasaran dunia, memotivasi para peneliti di benua Eropa dan Amerika untuk membudidayakannya secara komersial.

Di Amerika Serikat, Michigan State University, mereka mengembangkan riset teknologi budi daya jamur morels di dalam ruangan menggunakan wadah plastik sebagai media tanam. Bagi warga Lombok, jika riset di ruangan tertutup tersebut berhasil, maka hal tersebut bisa menjadi peluang usaha bagi masyarakat sekitar Gunung Rinjani.

Balai Taman Nasional juga memanfaatkan keberadaan jamur morels yang tumbuh dalam kawasan untuk dijadikan paket wisata pendakian. Para wisatawan bisa mendaki sekaligus berburu jamur dengan persyaratan tertentu, nanti setelah mereka turun gunung, petugas di pintu masuk akan menimbang jamur yang telah dikumpulkan, kemudian menilai harganya.

Jamur morels Rinjani diperkirakan akan tumbuh liar sepanjang tahun di dalam kawasan taman nasional. Oleh karena itu perlu dijaga kelestariannya, jika alam tetap terjaga, akan memberi hasil yang memuaskan. Bakal dipastikan jika riset berhasil, Pulau Lombok akan menjadi satu-satunya pulau di Indonesia yang menghasilkan jamur termahal kedua di dunia.