Lewat demonstrasi yang dilakukan secara besar-besaran dengan menyasar ke istana negara di klaim sebagai ‘Aksi Bela Islam II’. Unjuk rasa ini dilakukan oleh berbagai organisasi masyarakat islam yang menuntut kasus dugaan penistaan agama, menodai Al-qur’an, melecehkan ulama dan menghina umat islam yang dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta Basuka Thahaja Purnama alias Ahok.

Gubernur yang akan maju dalam pemilihan Gubernur Jakarta 2017 tersebut dituding telah melecehkan Surat Al-Maidah ayat 51 saat melaksanakan kunjungan kerjanya ke Kepulauan Seribu pada 27 September lalu.

Berbagai tokoh politik banyak melontarkan pendapatnya tentang aksi demo 4 November ini. Salah satunya adalah Badan Pusat Penerang Markas TNI Brigjen Wuryanto yang berpendapat bahwa aksi demo 4 November sama halnya dengan gerakan Arab Spring di Timur Tengah.

Ia mengatakan bahwa “Melihat sejarah perkembangan Arab Spring, mulai dari Mesir, Libya dan Suriah, semua yang terjadi saat itu hampir tidak beda dengan Indonesia hari ini”

Namun apakah bisa, kedua aksi ini disejajarkan ? Mari kita pahami kedua peristiwa ini lebih dalam.

Apa Itu Arab Spring

Yaptt..Arab Spring merupakan istilah lain dari ‘Revolusi Dunia Arab’. Merupakan serangkaian peristiwa gelombang revolusi, demonstrasi berskala besar yang terjadi di dunia Arab.

Berawal pada 17 Desember 2010 di Tunisia. Dimana pada waktu itu seorang pedagang buah bernama Mohammed Bouazizi membakar dirinya sendiri didepan salah satu kantor pemerintahan Tunisia. Hal ini terjadi karena Bouazizi merasa diremehkan saat mengajukan pengaduan dikantor pemerintahan terkait masalah gerobak jualannya disita dan dipukuli oleh aparat kepolisian dengan dalih ia berdagang tanpa izin.

Aksi pedagang buah ini mendapat dukungan dari publik tunisia. Sebuah aksi demonstrasi muncul di kota kelahiran Bouazizi yaitu Siti Bouzid. Namun lama-kelamaan menyebar ke seluruh wilayah Tunisia sehingga melengserkan Presiden Tunisia Zine el Abidine Ben Ali yang sudah bertengger di 23 tahun kekuasaanya.

Gejolak peristiwa ini merembet ke negara tetangga seperti Libya, Mesir, Palestina, Yaman hingga Suriah. Yang paling berdampak buruk adalah Mesir yang akhirnya juga melengserkan pemerintaha Hosni Mubarak. Benang merah dari Arab Spring tidak berawal dari penegakan syariah islam seperti apa yang kita lihat di Indonesia saat ini, melainkan kemiskinan dan ketidakadilan sosial yang terjadi disana.

Beda 4 November dengan Arab Spring

Jelas beda, peristiwa Arab Spring dimotori oleh standar hidup yang rendah, kekerasan aparat dan ketidakadilan sosial sebagai pemicu lahir aksi itu. Sedangkan demo 4 November hanya semata-mata untuk penegakkan syariah islam.

Pada konferensi pers yang berlangsung 2 November 2016, Susilo Bambang Yudhono menyinggung masalah Arab Spring. Ia mengatakan bahwa “Kita tahu bahwa Arab Spring mulai dari Arab, Tunisia, Libya dan Yaman itu tidak ada penggeraknya. yang mengomandoi hanyalah media sosial. Jadi jangan tiba-tiba menyimpulkan ini yang menggerakkan,ini yang mendanai”. Sebelumnya ia juga menyampaikan bahwa banyak masyarakat Indonesia yang siap bergerak atas dasar akidah semata tanpa perlu iming-iming uang.

Tentu menjadi sebuah penghinaan, jika menyamakan 4 November dengan Arab Spring. Dimana aksi 4 November semata-mata hanya untuk mendorong Ahok diproses secara hukum atas dugaan penistaan agama.