Halo, Takaiters!

Pemeluk Islam diperkirakan akan mengalami peningkatan di tiap-tiap tahun mendatang bahkan pada tahun 2020. Tak terkecuali pada kelompok etnik yang berada di Amerika Serikat, yakni Amerika Latin. Banyak mualaf berasal dari kelompok tersebut yang sedang mendalami tentang perkara-perkara Islam hingga hidayah pun sampai pada mereka.

“Beberapa orang masuk Islam dan mengenakan penutup kepala (hijab), sementara saya perlu waktu untuk melakukan penelitian terlebih dahulu sebelum masuk Islam,” ujar Lucy Silva pada Amerika CTGN, seorang muslimah yang memeluk Islam 18 tahun silam.  Pada saat mengetahui beberapa temannya yang berasal dari berbagai suku bangsa berbeda masuk Islam, Silva kemudian berpikir, berapa banyak masyarakat yang tidak percaya terhadap kombinasi muslim Meksiko.

Foto: republika.co.id

“Secara otomatis, mereka berasumsi bahwa saya orang Arab atau orang yang berasal dari ‘tempat yang serupa’. Sehingga, ketika mereka mendengar  saya berbicara bahasa Spanyol, mereka cukup terkejut. Mereka bertanya, “Di manakah kamu belajar bahasa Spanyol?’ Saya pun menjawab, ‘Saya adalah orang Meksiko,” ungkap Silva.

Peristiwa seperti itu kerap terjadi karena masyarakat pada umumnya di sana mengenal bahwa Islam dianut oleh bangsa Arab, dan masih asing bagi kelompok etnik Amerika Latin. Namun, seiring berkembangnya dakwah dan penyebaran Islam melalui berbagai media, kini penganutnya pun ikut bertambah.

Foto: khazanah.republika.co.id

Dikutip dari about Islam jumlah masyarakat muslim yang berasal dari kelompok etnik Amerika Latin berkisar antara 150.000 hingga 200.000. Salah satu laporan yang diambil dari Florida International membeberkan bahwa 90% dari mereka adalah mualaf, sehingga disimpulkan kalau kelompok etnik Amerika Latin menjadi kelompok etnik atau suku dengan perkembangan Islam-nya yang paling cepat.

Kendati demikian, kehidupan beragama di sana cukup kondusif dan aman. Sebab, sebagai minoritas, para muslim di negeri tersebut cukup hafal akan kondisi-kondisi yang mereka hadapi.

Tidak hanya Silva Lucy, Wanda—seorang mualaf pun juga turut menuturkan bahwa mereka yang berasal dari Puerto Rico memeluk Islam karena agama ini sangat dekat dengan tradisi mereka yakni Hispanic. 

Tradisi Hispanic merupakan kebiasaan yang diisi dengan penyebaran kepercayaan, perayaan, beberapa cerita legenda, juga informasi dari satu orang ke orang lain. Tradisi ini akan membantu menghubungkan masyarakat di suatu negara, keluarga atau kerabat, bahkan teman sekali pun. “Jika kalian tumbuh dalam keluarga yang masih memelihara tradisi Hispanic, maka hal itu sangat mirip dengan Islam,” kata Wanda.

Dalam kehidupan sehari-harinya, Islam juga menjadi agama yang memelihara bagaimana wanita tersebut menjaga diri dari hal-hal negatif, seperti larangan meminum alkohol dan menggunakan obat-obatan terlarang. Bagi dirinya, Islam sudah seperti penyeimbang kehidupannya. Akan tetapi, dalam perjalanan ia menemukan Islam bukanlah perkara yang mudah, terutama ketika berhadapan dengan keyakinan keluarga.

Foto: minanews.net

“Saya meminta restu sekaligus meyakinkan ibu hingga memakan waktu sekitar lima tahun lamanya supaya mengizinkan saya memeluk Islam. Tentu saja itu hal yang berat baginya. Beliau mengusir saya dari rumah ketika saya masih berusia 16 tahun dan akhirnya saya pun pergi.

Namun, setelah peristiwa itu ibu saya menelepon dan meminta saya untuk pulang kembali ke rumah. Ia meminta saya agar tetap bersamanya dan berjanji akan mencoba memahami mengapa saya menjadi seorang muslim. Semenjak itu, kami memiliki hubungan yang sangat luar biasa dan sudah 15 tahun saya menjadi muslim,” pungkas Wanda.

Dari kisah para mualaf yang berasal dari kelompok etnik Amerika Latin menjadi penanda bahwa perkembangan islam tidak berhenti pada satu titik. Aktivitas dakwah dari berbagai cara seperti cerita pengalaman pribadi , da’wah on the street saat ini terang-terangan banyak dilakukan di negara Amerika Serikat. Tujuannya adalah supaya masyarakat dunia mengetahui Islam dengan sebenar-benarnya.