Halo, Takaiters!

Perkembangan teknologi informasi di era digital ini memungkinkan hampir seluruh masyarakat dapat mengakses berita dengan mudah. Portal-portal berita digital bermunculan dan media cetak pun hampir punah ditinggalkan penggemarnya. 

Bagaimana tidak? Penikmat berita yang biasanya harus menunggu koran datang atau menunggu waktu tayang berita di televisi, kini bisa menikmati berita kapan saja dan di mana saja. Ini adalah hal yang patut disyukuri dan diapresiasi. 

Tanggal 9 Februari kemarin, merupakan hari Pers Nasional, masih sangat pas momennya bila menggali lebih dalam siapa saja tokoh yang ikut berkontribusi dalam perkembangan pers di Indonesia.

Adam Malik

Foto bombastis.com

ANTARA adalah kantor berita resmi negara Indonesia yang didirikan pada tanggal 13 Desember 1937, merupakan tonggak sejarah Pers Indonesia. Jangan salah, kantor berita Indonesia ini ternyata didirikan oleh empat orang anak muda. Antara lain Soemanang (29 tahun), A.M Sipahoentar (23 tahun), Adam Malik (20 tahun), dan Pandu Kartawiguna. ANTARA didirikan sebagai sarana untuk mencapai kemerdekaan Indonesia.  

Adam Malik kemudian memimpin ANTARA di usia 21 tahun. Masih muda, ya, Takaiters. Melalui kepemimpinannya ini, Adam Malik mulai diakui kredibilitasnya sehingga wajar di kemudian hari, beliau diamanahi beberapa jabatan penting. Yaitu, menjabat sebagai duta besar, menteri, dan wakil presiden. 

2. Ani Idrus

Foto: wartakota.tribunnews.com

 

Perempuan, yang lahir  pada tahun 1918 di Sawah Lunto Sumatera Barat ini, memulai karirnya sebagai wartawan pada tahun 1930 di Majalah Panji Pustaka Jakarta. Pada tahun-tahun berikutnya beliau mendirikan beberapa media massa. Salah satunya harian Waspada di tahun 1947, yang didirikan bersama suaminya H. Mohammad Said. 

Beliau menjabat Pemimpin Redaksi beberapa media massa dari tahun 1969-1999. Cukup lama juga, ya, Takaiters. Oleh karena jasanya dalam perkembangan pers, beliau mendapat anugerah “Satya Penegak Pers Pancasila” dari Menteri Penerangan Harmoko, pada tahun 1988.

Beliau juga termasuk dalam salah satu tokoh pendiri PWI, Persatuan Wartawan Indonesia, tahun 1951.

3. Rosihan Anwar

Foto: republika.co.id

Siapa yang tidak tahu Rosihan Anwar. Wartawan yang juga dikenal sebagai budayawan, sastrawan dan sejarawan Indonesia. Banyak karya berupa buku yang telah ditulisnya. Di antaranya Trilogi Sejarah Kecil Indonesia. Di salah satu jilidnya, beliau banyak mengupas tentang sejarah Pers Indonesia.

Beliau pernah menjadi wartawan Asia Raya pada masa pendudukan Jepang. Ketajaman beritanya membuatnya pernah mengalami tekanan pada masa penjajahan Belanda, Orde Lama, begitu juga Orde Baru. 

Hal yang unik adalah ketika beliau mendapat anugerah Bintang Mahaputra III tahun 1973, kurang dari setahun berikutnya koran Pedoman yang dipimpinnya, ditutup. 

Tidak hanya media massa yang didirikan, beliau juga mendirikan Perusahaan Film Negara pada tahun 1950 dan pernah memproduksi beberapa judul film. Di film pertamanya Darah dan Doa beliau juga ikut menjadi pemain figuran. Sejak saat itu hingga akhir hayatnya beliau juga aktif sebagai kritikus film. 

4. ArswendoAtmowiloto

Foto: kanal247.com

Penonton drama keluarga tentu tidak asing dengan serial Keluarga Cemara yang pernah ditayangkan oleh RCTI. Karya ini ditulis oleh Arswendo Atmowiloto, yang pernah menjabat sebagai Pemred Monitor pada tahun 1986. 

Karir penulisannya di media massa diawali dengan terbitnya cerita pendek berjudul Sleko di majalah Bahari tahun 1971. Pun cerita Keluarga Cemara ditulisnya tahun 70-an. Di tahun berikutnya beliau menggawangi lembaga kesenian, penerbitan, dan menjadi Pemred di beberapa media cetak. 

Tabloid Monitor yang mengusung tema seputar hiburan, dunia film, dan televisi menjadi salah satu format media cetak gaya baru saat itu, dan sangat dinikmati. Oplahnya sampai ratusan ribu setiap tayang. Hal ini tidak lepas dari tangan dingin Arswendo Atmowiloto. Tidak heran bila muncul media cetak lain yang mengusung tema serupa. 

Saat menjadi Pemred tabloid Monitor, terjadi kontroversi yang mengakibatkan dirinya divonis 5 tahun penjara pada tahun 1991. Selama dalam tahanan, dirinya tetap aktif menulis. Kurang lebih 20 karya ditulisnya selama di penjara, dan ada yang dijadikan sinetron. Produktif sekali, ya, Takaiters. Oleh karena itu, wajar saja bila tahun 1990, dalam salah satu edisi majalah Tempo, menyebut Arswendo sebagi penulis Indonesia paling produktif. 

5. Karni Ilyas

Foto: adilmakmur.co.id

Wajah Karni Ilyas tidak asing lagi bagi penggemar talk show Indonesia Lawyers Club, sebagai moderator. Pria kelahiran Sumatera Barat 1952 ini mengawali karirnya sebagai wartawan di harian Suara Karya tahun 1972. Kemudian beliau pindah ke majalah Tempo. Hingga tahun 1978 karirnya menanjak menjadi Redaktur Pelaksana.

Kepiawaiannya dalam bidang hukum membuatnya ditunjuk menjadi memimpin Majalah Forum tahun 1991-1999, hingga menjabat sebagai komisaris.

Terjadinya Reformasi pemerintahan pada tahun 1998, memberikan dampak pada Pers Indonesia. Pada orde Reformasi ini, Pers Indonesia lebih bebas, terutama dalam mengkritisi pemerintah. Karni Ilyas yang dikenal tajam dan faktual dalam mengungkapkan berita, dipercaya sebagai Pemred Liputan 6 SCTV tahun 1999-2005. 

Mulai tahun itulah, Pers Indonesia berkembang dalam platform baru, yaitu media televisi. Karni Ilyas berperan dalam pengembangannya hingga saat ini. Beberapa program berita dikemas lebih variatif, menarik, dan tidak membosankan. Wajar saja bila beliau diganjar Penghargaan Panasonic Gobel Award berturut-turut. 

Demikianlah ulasan lima tokoh yang berkontribusi dalam perkembangan Pers Indonesia. Semoga Pers Indonesia selalu faktual, terpercaya, dan bebas dari kepentingan.