Hai, Takaiters!

Persebaran pandemi corona yang semakin meluas membuat negara-negara di dunia berbondong-bondong melakukan imbauan dan penanganan dengan semaksimal mungkin. Salah satu anjuran yang diterapkan adalah memakai masker saat berada di luar rumah.

Masker dipercaya dapat mencegah virus corona masuk ke tubuh melalui saluran pernapasan, meskipun hal itu juga tidak seratus persen berhasil—terutama masker dari bahan kain. Paling tidak, tindakan preventif harus dilakukan, bukan?

Meskipun tampak sepele, akan tetapi pemakaian masker ternyata memiliki dampak besar terhadap kulit wajah. Mereka yang paling merasakan akibatnya, yaitu para tenaga medis, dalam hal ini adalah dokter dan perawat karena mereka adalah elemen masyarakat yang berada di garda terdepan dan harus siap sedia sepanjang waktu dalam menangani pasien COVID-19.

Terlebih, beberapa waktu yang lalu, beredar foto-foto wajah perawat yang mengalami lecet dan berbekas karena masker. Selain itu, pemakaian masker yang lama juga akan menimbulkan permasalahan kulit seperti jerawat dan ruam kemerahan. Seperti gambar di bawah ini :

Sumber : thegaltimes.com

 

Lantas, mengapa hal itu bisa terjadi?

Dilansir dari scitechdaily.com seorang ahli Perawatan Kulit di Universitas Huddersfield, Profesor Karen Ouesy melakukan sebuah penelitian bersama timnya mengenai kerusakan akibat tekanan yang disebabkan oleh perangkat medis, termasuk masker wajah.

Profesor Ouesy mengungkapkan, para pengguna pasti akan berkeringat di balik masker sehingga terjadi gesekkan antara kulit dengan lapisan masker tadi. Gesekan-gesekan tersebutlah yang akhirnya berujung pada kerusakan di hidung dan pipi akibat tekanan.  Infeksi tersebut juga bisa jadi berasal dari air yang ada pada kulit.

Bagaimana Solusinya?

Foto: detiknews.com

Ada beberapa jawaban yang diberikan Profesor Ouesy. Beliau menyarankan masker yang dipakai tenaga medis harus terpasang dengan baik di wajah.

“Jika para dokter dan perawat kesehatan menambahkan pelapis pada kulit di bawah masker mereka setelah dipasang, ada kemungkinan maskernya tidak akan pas lagi,” tambahnya.

Profesor Ouesy juga menyarankan orang yang memakai masker untuk senantiasa menjaga kebersihan kulit dan terhidrasi dengan baik. Apabila ingin menggunakan pelembab untuk menjaga agar kulit tidak mudah kering, setidaknya kamu harus mengoleskannya setengah jam sebelum memakai masker.

Kemudian, profesor juga menambahkan agar tekanan dari masker dikurangi tiap dua jam sekali. Terutama tenaga medis yang memakai masker N95 yang notabene-nya ketat di wajah sehingga bisa kesulitan bernapas. Jadi, ketika dokter atau perawat sudah menjauh dari pasien, mereka dapat melepas masker di tempat yang aman dan membersihkan kulitnya lagi.

Tidak hanya tenaga medis, profesor juga memberi arahan kepada anggota masyarakat umum seperti pegawai toko—untuk menjaga kulit mereka tetap bersih, lembab, dan bebas keringat.

“Jika Anda merasa masker menggesek kulit wajah, lepaskan segera,” tandasnya.

Adapun dokumen penelitian profesor Ousey dan anggota timnya telah diterbitkan di Journal of Wound Care, yaitu jurnal yang khusus membahas masalah tersebut secara terperinci. Selain itu profesor Ousey turut mendesak masyarakat untuk mengunjungi situs web National Wound Care Strategy yang memberikan saran tentang perawatan luka dan borok akibat tekanan benda.

Nah, Takaiters, itulah alternatif solusi yang ditawarkan untuk mencegah atau mengurangi tingkat kerusakan kulit wajah ketika menggunakan masker. Menjaga imunitas selama masa wabah memang penting, akan tetapi memerhatikan kesehatan kulit juga tak kalah utamanya.