Loha, Takaiters!

Maraknya teror pelemparan sperma yang terjadi di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, sukses membuat sejumlah perempuan resah. Pasalnya dari pengakuan korban, teror sperma ini mengincar perempuan yang sedang berdiri sendirian di pinggir jalan. Berawal dari akun Facebook Izal Firmansyah Batalipu SKM yang tak lain suami korban, menceritakan pelecehan yang dialami istrinya. Selain memposting surat laporan ke Polresta Tasikmalaya, ia juga nyertakan foto pelaku.

Tak disangka unggahan Izal menjadi viral dan pemberitaan di ranah publik. Hingga akhirnya Polres Kota Tasikmalaya berhasil menahan tersangka terkait tindakan asusila, yaitu teror sperma. Pemeriksa terhadap pelaku masih dilakukan secara intensif dengan melibatkan psikolog demi mengungkap motif yang mendorong tindakan asusila tersebut.

Terkait kejadian yang sukses membuat gempar kaum hawa. Psikolog Alexandra Gabriella A., M. Psi, C. Ht memaparkan pandangannya sebagai seorang yang lebih profesional mengenai kesehatan mental pelaku. Yuk, simak pandangan kejadian teror pelempar sperma dari sisi psikologis.

1. Pelaku Perlu Diusut Lebih Lanjut

Foto: doktersehat.com

Alexandra menyatakan turut prihatin dengan keresahan yang terjadi pada sejumlah kaum hawa di Kota Tasikmalaya. Menurutnya, pelaku pelemparan sperma ini perlu diperiksa lebih lanjut karena ada dua kemungkinan, yaitu gangguan perilaku impulsif atau sudah masuk pada tahap penyimpangan seksual bernama ekshibionisme. Namun, setelah melihat pemberitaan yang beredar, ia melihat kalau pelaku mengalami gangguan ekshibisionisme.

2. Faktor Pemicu Gangguan Ekshibisionisme

Foto: doktersehat.com

Kelainan ekshibisionisme yang terjadi di masyarakat Indonesia bisa dibilang cukup sering. Namun, perlu dipahami bahwa seorang ekshibisionisme ada faktor pemicunya sehingga sampai meresahkan masyarakat. Alexandra mengatakan, ekshibisionisme sebagai masalah psikologis sudah pasti ada faktor pemicunya, seperti faktor bawaan atau lingkungan sehingga membentuk perilaku seksual yang menyimpang.

Tidak sampai di situ, ekshibisionisme sebagai sebuah kelainan juga dimiliki beberapa orang juga bisa dipicu dari hal sehari-hari, misalnya gambar di televisi, komik, video, dan lainnya. Rasa penasaran yang mereka lihat terekam di dalam otak, sehingga perilaku tersebut membuatnya penasaran untuk mencoba secara langsung.

3. Pelaku dan Korban Perlu Mendapat Batuan dari Ahlinya

Foto: hellosehat.com

Alexandra menyarankan bahwa psikoedukasi sangat penting dilakukan guna membantu setiap individu dalam insight termasuk menyadarkan akan perasaan sungkan, malu, bersalah, dan lainnya. Selain itu, ia sebagai psikolog menaruh perhatian kepada orang-orang yang menjadi korban atas perilaku penyimpangan seksual. Hal ini karena ada beberapa korban yang merasa trauma, bahkan sampai menjauh dari kehidupan sosial. Sehingga perlu mendapatkan pertolongan, yaitu berkonsultasi dengan psikolog.

Penting untuk diingat, saat bercerita dengan orang yang tepat dapat membantu mengeluarkan perasaan yang mungkin tersimpan atau belum tersampaikan saat menjadi korban. Nah, Guys, semoga setelah tertangkapnya tersangka teroris sperma, tindakan pelecehan seksual lainnya tidak akan terulang kembali. Semoga bermanfaat.