Hai, Takaiters!

Semenjak Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP), Edhy Prabowo mewacanakan untuk mengeluarkan kebijakan kembali membuka keran ekspor benih lobster, masyarakat kita langsung memberikan sorotan besar.

Kendati rencana itu masih dalam tahap kajian, Menteri KKP mengindisikan bahwa beliau serius untuk mencabut aturan yang dibuat oleh Menteri KKP sebelumnya, Susi Pudjiastuti. Menanggapi ide tersebut, banyak pihak yang menilai kebijakan tersebut justru kontraproduktif dan merugikan.

Alasan di Balik Rencana

Foto: today.line.me

Walaupun memunculkan respon yang tidak suportif, Menteri Edhy Prabowo beralasan bahwa rencananya ini bakal menumbuhkan potensi untuk para nelayan. Menurut beliau, nih, benih lobster (benur) adalah komoditas yang menjadi gantungan hidup banyak pihak.

Kalaupun izin ekspor benur ditutup, beliau menambahkan bahwa aksi ilegal seperti penyelundupan komoditas tersebut tetap banyak. Dua alasan itulah yang menjadi dasar atas rencana kebijakan ini dicanangkan.

Keseimbangan Tetap Menjadi Prioritas

Foto: kompas.id

Di bawah komando Menteri KKP sebelumnya, pelarangan ekspor benur yang berlaku sebenarnya berpatok untuk menjaga populasi lobster dalam skala nasional.

Aturan menutup keran ekspor benur ini tertuang dalam Peraturan Menteri (Permen) KP nomor 1 Tahun 2015. Namun, di luar dari dua kebijakan yang bertolak belakang tersebut, yang paling harus diperhatikan adalah keseimbangan: antara pelestarian lingkungan, dan value ekonomi yang ada.

Artinya, meskipun benur termasuk dalam komoditi yang brpotensi, kita juga perlu mempertimbangkan misi konservasi lingkungan, sepeti populasi dan habitat lobster itu sendiri.

Kenapa Tidak Jadi Momentum Saja?

Foto: kumparan.com

Melihat kehebohan yang muncul terkait hal ini, kita bisa berpikiran untuk merubah keributan ini sebagai inspirasi? Ya, kita bisa saja menjadikan polemik ini tuh sebagai momentum untuk mulai berbisnis? Langkah ini bisa saja dimasukakn dalam list resolusi tahun baru 2020 nanti.

Selain karena potensi eknominya masih terbuka lebar, memilih lobster sebagai arah bisnis juga bisa membuat kita terjun langsung untuk menjaga kelestarian. Asalkan, dengan cara yang benar juga dan sejalan sama prioritas utama tadi.

Menjadi Bagian Ekosistem

Foto: kelanakota.suarasurabaya.net

Lantas, bagaiamana caranya? Nah, salah satu cara yang bisa diambil adalah budidaya Lobster itu sendiri. Ada dua pilihan paling umum yang bisa dipilih, lobster air tawar atau lobster air laut.

Keduanya sama-sama dipandang sebagai komiditas seafood yang laris karena permintaan pasarnya yang terus mengalami peningkatan, baik di luar maupun dalam negeri. Salah satu sektor yang bisa jadi incaran pasar adalah bidang kuliner, seperti restoran, misalnya.

Dengan memilih sebagai pebisnis di bidang ini, boleh jadi orang-orang yang sudah lebih dulu terjun merupakan individu-individu yang menjadi bagian ekosistem lobster yang punya potensi besar itu.

Ya, daripada terus-terusan ribut tanpa aksi, kan? Hehehe …