Halo, Takaiters!

Saat ini banyak orang yang memutuskan menikah di usia muda. Tentu tak masalah jika kedua pasangan telah mempersiapkan segalanya dengan maksimal dan mampu menghadapi semua persoalan dalam kehidupan berumah tangga. Namun kenyataannya, banyak juga yang alami kegagalan hanya dalam waktu singkat.

Perceraian akan membawa perubahan yang sangat besar, baik secara individu maupun keluarga. Termasuk jika sudah memiliki keturunan. Anak akan menjadi orang pertama yang rasakan perubahan besar dalam kehidupannya.

Fenomena menjadi single parent di usia muda semakin tak terelakan. Banyak kaum muda yang akhirnya harus berjuang ekstra agar dapat membesarkan dan menjaga anak sebaik mungkin. Beberapa diantaranya akan merasa terbebani dan berujung pada masalah emosi.

Berikut akan disampaikan beberapa hal yang dapat dilakukan ketika harus menjadi single parent di usia muda.

Kendalikan Emosi

Foto: pexels.com

Permasalahan yang kompleks saat menghadapi situasi rumah seorang diri biasanya akan membuat emosi menjadi tidak stabil. Perasaan kesal, marah, kecewa, sedih, dan emosi negatif lainnya akan membuat seseorang tidak dapat mengendalikan diri. Cobalah untuk bersikap tenang. Kuasai emosi dengan mengingat Tuhan agar dapat menerima dan menjalani semua dengan ikhlas.

Berpikir Positif

Foto: pexel.com

Pola pikir seorang single parent kerap menjadi buntu karena hadirnya rasa bersalah, khawatir, dan ragu menghadapi masa depan seorang diri. Ubahlah pikiran tersebut, yakinkan dalam hati bahwa semua akan baik-baik saja. Masih banyak harapan yang dapat diraih. Pikiran positif akan membantu tumbuhkan semangat untuk berjuang kembali.

Memberi Penjelasan pada Anak

Foto: humavers.com

Perpisahan yang terjadi akan membuat kehidupan anak pun berubah. Berilah penjelasan pada anak dengan bahasa sederhana yang mudah dipahami. Namun, jangan pernah meyeret anak untuk masuk dalam masalah dengan menceritakan kesalahan atau akar permasalahan. Ini akan membuat anak menjadi bingung dan akhirnya tidak bahagia.

Terus Produktif

Foto: pexels.com

Untuk tetap melanjutkan hidup, seorang single parent tentu harus dapat produktif. Tetap semangat menjalani profesi dan fokus terhadap tugas-tugas. Kebutuhan financial akan dapat teratasi dengan kerja keras dan mengatur pola keuangan sebijak mungkin

Maksimalkan Waktu bersama Anak

Foto: allprodad.com

Walau miliki kesibukan dalam pekerjaan, tetaplah memberi perhatian yang penuh pada anak. Jalin kedekatan bersama anak dalam keadaan apa pun. Lewat komunikasi yang baik, anak tidak akan pernah merasakan kekosongan dalam hatinya.

Eratkan Hubungan bersama Keluarga

Foto: docplayer.gr

Dukungan keluarga ataupun orang terdekat seperti keluarga sangat diperlukan. Binalah hubungan yang baik agar mereka dapat memberi pertolongan dan juga semangat dalam menjalani hari sebagai single parent.

Lakukan “Me Time”

Foto: pexels.com

Kejenuhan mungkin akan terjadi. Aturlah waktu sebaik mungkin sehingga semua aktivitas dapat berjalan dengan lancar. Menyediakan waktu untuk diri sendiri juga sangat penting agar kamu merasa fresh.

Menjaga Penampilan

Foto: pixel.com

Pekerjaan dan tanggung jawab yang harus ditanggung seorang diri, tidak boleh membuat penampilan menjadi kacau. Justru sebaliknya, tunjukanlah bahwa apa pun yang terjadi, penampilan kamu tetap memesona dan energic. Siap menghadapi tantangan dan semangat untuk memperbaiki diri.

Nah, Takaiters, menjadi single parent bukanlah akhir dari segalanya. Berpisah karena perceraian atau memang takdir yang memisahkan karena kematian, harus tetap dijalani dengan besar hati. Memperbaiki diri dan fokus untuk masa depan merupakan keputusan yang terbaik.

Jadi, tetap semangat Takaiters!