Matrilineal Terbesar Di Dunia
Adat Pernikahan Minangkabau (Foto : efekgila.com)

Minangkabau, Masyarakat Matrilineal Terbesar Di Dunia

Minangkabau, dimana suami dianggap tamu dirumah istrinya. Hal ini dikarenakan adat Minangkabau yang mengharuskan bahwa wanita mempunyai pengaruh yang sangat penting dan sangat istimewa. Semua itu disusun berdasarkan “Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah”.

Sejarah Lahirnya Minangkabau

Matrilineal Terbesar Di Dunia
Sejarah Minangkabau (Foto : 3.bp.blogspot.com)

Sejarah lahirnya Minangkabau berawal ketika kerajaan Majapahit menyatakan perang melawan Kerajaan Minangkabau. Raja dari kerajaan Minangkabau kemudian mengusulkan peperangan digantikan dengan adu kerbau. Kemudian kerbau dari kerajaan Majapahit terbunuh oleh kerbau Kerajaan Minangkabau, dengan tanduk kerbau yang dipertajam, kerbau milik kerajaan Minangkabau berhasil menusuk kerbau lawannya. Karna kerajaan Minangkabau menang dalam adu kerbau, maka masyarakat yang menonton saat itu menyorakkan “menang kabau, menang kabau menang kabau”. Sehingga sorakkan itulah Minangkabau lahir.

Asal kata dari nama Minangkabau berasal dari kata Minang, yang berarti menang, dan kabau yang berarti kerbau. Inilah mengapa bentuk dari rumah adat Minangkabau dan tutup kepala dari pakaian adat wanita Minangkabau seperti bentuk tanduk kerbau.

PILIHAN EDITOR

Lahirnya Matrilineal di Minangkabau

Matrilineal Terbesar Di Dunia
Matrilineal Terbesar Di Dunia (Foto : agamalokal2016p4b.blogspot.co.id)

Sejarah mengatakan bahwa pada pertengan abad 12, raja Maharajo Dirajo yang mendirikan kerajaan Koto Batu meninggal dunia. Ia meninggalkan 3 anak bayi dari 3 istri. Istri pertama, Puti Indo Jalito mengambil alih anak-anak dari kerajaan, dan kemudian mengembangkan tentang sistem masyarakan Matrilineal.

Wanita Mempunyai Segalanya

Matrilineal Terbesar Di Dunia
Wanita Minangkabau (Foto : skyscrapercity.com)

Inilah keunikan dari struktur adat Minangkabau, dimana semua harta dari leluhur maupun orang-orang terdahulu seperti rumah, sawah, dan harta lainnya diwariskan kepada anak perempuan. Anak-anak menggunakan nama suku dari ibunya, dan suami dianggap tamu di rumah istrinya.

Percampuran Agama di Minangkabau

Matrilineal Terbesar Di Dunia
Agama di Minangkabau (Foto : 3.bp.blogspot.com)

Minang dahulunya adalah penganut animisme, dimana penyembah dari unsur-unsur alam, mulai dari Hindu hingga kemudian Budha datang dari India. Karakter dari masyarakat Minangkabau itu sendiri bersifat terbuka dan bisa menyesuaikan diri dengan suatu kebudayaan baru yang datang.

Tetapi kepercayaan itu tidak berlangsung lama karena sangat berbeda dengan nilai-nilai adat yang telah ada sebelumnya, dikarenakan masyarakat Minangkabau sangat kritis terhadap kebudayaan dan kepercayaan yang masuk dari luar. Sehingga pada abad ke-7 masehi islam masuk melalui jalur perdagangan yang dibawa oleh para pedagang Islam, dan kemudian berbaur diantara masyarakat Minangkabau.

Adat Pernikahan yang Khas

Matrilineal Terbesar Di Dunia
Adat Pernikahan Minangkabau (Foto : efekgila.com)

Tidak seperti tradisi Islam yang ada, dimana setelah menikah suami membawa istrinya untuk tinggal dirumah suami, tetapi di Minangkabau justru suamilah yang yang dibawa kerumah keluarga istri untuk tinggal bersama keluarganya. Sementara itu, mahar juga diatur oleh keluarga dari pengantin wanita, sebagian didasarkan pada pendidikan dan profesi dari pengantin pria.

Pernikahan juga dilangsungkan dengan unik. Pada hari pernikahan pengantin pria diambil atau dijemput dari rumahnya untuk dibawa kerumah pengantin wanita, dan pernikahan dilangsungkan berdasarkan ajaran agama Islam, setelah itu pengantin pria disambut oleh tari-tarian dan alat musik khat tradisional Minangkabau. Anggota pengantin wanita datang dengan membawa sesuatu diatas kepala mereka seperti hadiah, makanan, untuk diberikan kepada pengantin pria.

Warna Kebanggaan Minangkabau

Matrilineal Terbesar Di Dunia
Warna kebanggaan Minangkabau (Foto : 3.bp.blogspot.com)

Marawa, tentulah setiap orang Minangkabau mengenal bendera perlambang kebesaran Alam Minangkabau ini. Dipakai dimanapun Adat Datuak Katumangguangan dan Datuak Parpatiah dianut. Bahkan saudara kita di Negeri Sembilan pun menggenakannya. Marawa terdiri atas tiga warna sebagai lambang dari ketiga Luhak yang menjadi Tanah Asal orang Minangkabau. Ketiga warna itu ialah Kuning yang melambangkan Tanah Data yang merupakan Luhak Nan Tuo, Merah melambangkan Luhak Agam yang merupakan Luhak Nan Tengah, dan Hitam melambangkan Luhak Limo Puluah Koto yang merupakan Luhak Nan Bungsu.

Sesuai dengan urutan di atas maka warna kuning semestinya berada di atas, merah di tengah, dan hitam di bawah. Sedangkan apabila marawa dibuat vertikal maka warna kuning di sebelah kiri, merah di tengah, dan hitam di sebelah kanan. Hal ini ialah urutan yang tiada boleh ditukar-tukar sebab kalau ditukar maka maknanya akan berubah. Inilah indentitas dan jati diri kita orang Minangkabau.