Tak terbayangkan oleh saya tentang komentar yang saya lontarkan menjadi pandangan negatif bagi dia. Sebut saja AG, seseorang yang berprofesi sebagai jurnalis. Niat saya untuk mengomentari kata-katanya yang salah yang terdapat dalam status facebooknya berbuah kebencian.

Sebuah tulisan yang mengabarkan bahwa ada seorang anak yang disiksa oleh seseorang yang belum tahu siapa tersangkanya. Dalam tulisannya tersebut terdapat kata-kata yang janggal menurut saya yaitu ‘Saya berdoa pada pelaku semoga tidak mengulangi perbuatannya lagi’.

Dengan tulisan seperti itu, saya melontarkan komentar ‘Pak yang kalimat Saya berdoa pada pelaku mohon diedit, saya rasa itu kalimat janggal. Masak berdoa pada pelaku. Seharusnya berdoa tu pada Tuhan.’ Sebagai jurnalis yang baik harus mengakui kekeliruannya dalam menulis artikel. Tapi anehnya, dia malah marah-marah. Keluar kata-kata kasar dari komentarnya.

Selain itu dari tulisannya juga banyak yang salah, dimana di tulisan tersebut dia menjelaskan identitas korban tanpa meng-inisialkan nama korban tersebut. Jelas hal ini melanggar kode etik seorang jurnalis dimana ‘Wartawan Indonesia tidak menyebutkan dan menyiarkan identitas korban kejahatan susila dan tidak menyebutkan identitas anak yang menjadi pelaku kejahatan.’

Setelah beberapa menit adu komentar dengannya, status yang buat tadi hilang. Ternyata dia menghapusnya. Kelihatan kan kalo dia memang salah. Sebagai seorang jurnalis tak selayak ber-etika seperti itu. Sebagai bagian dari masyarakat, jurnalis harus memegang teguh etika yang telah ditetapkan.

Semoga jurnalis seperti ini hanya ada satu di Indonesia.