Hai, Takaiters!

Kecanduan belanja juga dapat disebut sebagai compulsive buying disorder (CBD) atau gangguan belanja kompulsif dan juga disebut dengan shopoholisme. CBD sendiri didefinisikan sebagai hasrat yang tidak tertahankan untuk membeli barang secara berlebihan dengan jumlah pengeluaran besar dan menyita waktu yang pada akhirnya hanya mendatangkan pengaruh negatif di dalam hal keuangan dan keluarga. Kalau kamu mengalaminya, kamu harus mencari solusinya, Guys.

Hadapi Kenyataan

Foto : pexels.com

Gejala kecanduan di antaranya adalah belanja untuk meredakan stres, saat merasa kesepian, marah, atau cemas kemudian merasa sangat gembira setelah membeli sesuatu. Kecanduan belanja juga terlihat dengan adanya obsesi membeli barang setiap minggu atau bahkan setiap hari padahal barang itu tidak berguna.

Oleh karena terus merus berbelanja, kamu merasa bingung jika tidak membawa kartu kredit dan akhirnya tidak sanggup membayar tagihan. Jika itu yang terjadi, maka terimalah kenyataan bahwa kamu sedang bermasalah dengan hasrat berbelanja. Kecanduan belanja seperti juga kecanduan pada hal lainnya Guys, yaitu keinginan pada sesuatu bukan karena kebutuhan tapi karena mentalmu sedang sakit.

Seperti pada penderita kecanduan rokok, NAFZA atau jenis kecanduan lainnya, para pecandu harus belajar tentang manajemen keuangan dan belajar mengadopsi gaya hidup yang sehat.

Kartu Jebakan

Foto: pexels.com

Kecanduan belanja ini seringkali muncul karena ada fasilitas yang memungkinkan untuk terus belanja, seperti orang tua yang permissif sehingga memberikan kartu debet atau kartu kredit yang isinya sangat berlebihan untuk ukuran anak muda.

Kecanduan belanja ini juga mungkin muncul karena penghasilan sangat berlimpah tetapi tidak paham harus dibelanjakan untuk hal positif seperti apa. Jika kamu termasuk orang yang tidak tahan terhadap godaan segala macam kartu yanng berisi uang, maka musnahkan semua kartu kredit yang dipakai untuk belanja dan jangan menerima tawaran membuat kartu debet, Guys. Jika kamu memiliki ATM, maka bawalah ATM dari rekening yang nominalnya kecil saat bepergian, sehingga hanya cukup dipakai seperlunya.

Belanja Bareng

Foto: steemit.com

Kecanduan belanja ini akan semakin menjadi-jadi saat kamu belanja sendirian, Guys. Jadi hindari berbelanja seorang diri dan minta orang yang dapat diandalkan untuk mengingatkan jika kamu mulai belanja lebih dari yang dibutuhkan. Bawalah catatan belanja dan biarlah temanmu yang memegang catatannya, sehingga ada kontrol dari orang terdekat. Kendala yang dihadapi saat ini adalah bahwa sangat mudah berbelanja secara online.

Jika kamu merasa tidak cukup kuat menahan godaan belanja, hindari stalking media sosial terlalu lama, stop jalan-jalan di marketplace dan bisukan status teman-teman yang berjualan apapun. Bahkan jika perlu, kerabat, pasangan, ataupun teman dekat perlu membantu mengambil kendali atas pengeluaranmu.

Perlu Psikolog

Foto: pexels.com

Perspektif psikologi sosial memperkirakan bahwa orang yang tidak memiliki identitas yang kuat kadang-kadang mencari jati diri dan pengakuan melalui kebiasaan berbelanja secara berlebihan. Jika kegiatan berbelanja sudah sangat tidak terkendali, maka berkonsultasilah kepada seorang psikolog untuk mendeteksi apa masalah yang melatarbelakangi perilaku gila belanjamu.

Jalani konseling dan terapi agar kamu dapat belajar mengontrol dorongan dan mengenali pemicu kecanduan belanja. Terapis dapat membantu menangani pecandu dengan terapi perilaku-kognitif. Jangan segan untuk menyampaikan apa pun yang ingin diketahui oleh psikolog meski hal-hal pribadi sekali pun. Psikolog memerlukan semua bahan yang mungkin dapat dipergunakan untuk mencari solusi masalahmu, Guys.

Obat Depresi

Foto: pexels.com

Pada beberapa kasus, pemicu kecanduan belanja bersumber dari depresi, gangguan kesehatan mental ataupun masalah emosional. Kadang-kadang para pecandu, termasuk pecandu belanja juga memerlukan obat-obatan seperti obat antidepresan, jika ternyata sumber masalah gila belanja ternyata adalah depresi.

Ikuti apa yang disampaikan oleh dokter dan jangan lupa minum obatnya, Guys, jika memang itu diperlukan. Kembali pada poin pertama, bahwa kamu harus menerima kenyataan saat memerlukan pertolongan orang lain termasuk dokter jiwa ‘kan?

Takaiters, apapun yang terjadi pada kesehatan mentalmu harus segera kamu atasi, termasuk kecanduan belanja ini. Jika kamu berusaha keras untuk sembuh, pasti ada jalan untuk itu. Selanjutnya upayakan agar kamu tidak kembali pada kecanduan belanja karena pada akhirnya kamu akan kehilangan segala-galanya.