Hai, Takaiters!

Pernahkah kamu berkonflik dengan pasanganmu? Atau kamu berusaha keras menahan terjadinya konflik?

Sahabat Takaiters, bahwa ada banyak orang sangat berjuang keras untuk menghindari konflik dalam hubungannya dengan pasangan, gebetan, orang tua pasangan, atau siapa pun yang ada di dalam hidupnya. Hal ini muncul dari anggapan bahwa konflik adalah hal yang buruk, sehingga orang seringkali memendam apa yang dia rasakan dan apa yang dia inginkan. Padahal, konflik adalah kesempatan emas bagi kamu untuk mendapatkan apa yang kamu butuhkan tapi belum kamu dapatkan.

Bila selama ini kamu mempercayai bahwa hubungan yang baik adalah hubungan tanpa konflik, berarti kamu terjebak dalam sebuah siklus yang membuat kamu memendam emosi destruktifIni banyak sekali dialami oleh banyak orang yang merasa berada di posisi power lebih rendah.

Sebaliknya, bila kamu tidak takut pada konflik, tapi tidak tahu cara menanganinya dengan baik dan elegan, kamu akan kehilangan lebih banyak dibanding apa yang kamu dapatkan. Pernahkah kamu mengalami peristiwa di mana setelah kamu bertengkar, kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan, tapi hubungan kamu rusak berantakan dan tidak pernah bisa kembali normal?

Inilah dua hal yang paling bermasalah dalam manajemen konflik, memendam keinginan dan tidak tahu cara menyampaikan. Untuk menjadikan konflik sebagai kesempatan emas, kamu perlu tahu cara mengkomunikasikan konflik dengan baik, jika tidak ingin terjadi tema konflik yang berulang. Tentu caramu berkomunikasi tergantung paradigmamu. Oleh karena itu renungkanlah hal di bawah ini terlebih dahulu.

1. Buang  Mitos yang Mengendap dalam Kesadaranmu Tentang Perbedaan Adalah Penyebab Mutlak Terjadinya Konflik

Man And Woman Wearing Brown Leather Jackets
Foto: pexels.com

Bertoleransilah terhadap perbedaan yang disebabkan oleh latar belakang suku, ras dan antar golongan. Tapi tidak boleh ada toleransi beda agama, untuk menjadikan seseorang sebagai cinta sejatimu. Sadarilah pernikahan beda agama, beda iman, beda tujuan hidup, beda aturan hidup adalah neraka dunia.  Hal ini sangat prinsipil sekali, resiko konfliknya pun sangat tinggi.  Karena percintaan dalam bingkai pernikahan sejatinya untuk ibadah menyempurnakan agama dalam hidup kita. Hal tersebut hanya bisa terjadi jika satu agama, satu iman, satu tujuan dan satu manajemen.

Berdasarkan satu aqidah tersebut, kondisikanlah diri kalian untuk selalu bisa saling melengkapi walau berbeda jenis kelamin, pengalaman, hobi, keterampilan, domisili, usia,  karakter bahkan beda komunitas sekalipun, dll. Selama mau saling menghargai, menghormati perbedaan satu sama lainnya justru dapat berdampingan harmonis untuk dapat melahirkan potensi baru yang kalian tidak duga sebelumnya.

Pilihan Editor



2. Selalu Tetap Tulus dan Ikhlas

Man in Black Shirt and Gray Denim Pants Sitting on Gray Padded Bench
Foto: pexels.com

Melakukan hal baik kepada pasangan tidak perlu menuntut agar pasangan  melakukan langsung hal baik juga kepadamu, Guys! Kamu harus tetap tulus dan ikhlas meskipun perbuatan baikmu pada pasangan tidak langsung disambut baik. Ketulusanmu itulah yang akan menyelamatkan hatimu dari penyakit gundah gulana.

Banyak orang yang berlaku sinis pun  tidak jarang tersentuh dan membalas suatu ketulusan dengan kebaikan yang berakhir mengharukan. Ketulusan itu juga berarti tidak mengumbar kebaikan yang sudah kamu lakukan. Ketulusan walau kenyataannya tidak semudah  yang dikatalan, akan tetapi ketulusan selalu indah jika kita mau membuka mata bahwa sejatinya kita ini  tidak punya apa apa selain apa yg diamanahkan sang maha pencipta.

Kalau kita terlanjur ditakdirkan memiliki pasangan yg tak menyenangkan yang tidak mau merubah dirinya sendiri, maka kita tidak akan pernah berwenang merubah dirinya selain menyampaikan persuasi perubahan dengan sabar. Karena perubahan juga membutuhkan waktu yang cukup. Kalau sudah tidak sabar, tinggalkanlah dengan cara yang paling indah! Tanpa harus mengungkit – ungkit kebaikan yang pernah kamu lakukan. Apalagi mengungkit-ungkit aib pasanganmu.

3. Sabar, Teguh Bertahan Terhadap Kebenaran walaupun Harus Mengalami Kenyataan Pahit Justru Penolong Konflik Apapun

Person Leaning on Wall
Foto: pexels.com

Teguh bertahanlah pada prinsip yang benar walaupun situasinya belum kondusif. Kondisikanlah hatimu agar tidak terpancing dengan ocehan pasanganmu. Karena ucapan yang terlanjur disampaikan tidak dapat dikembalikan, maka berhati hatilah berkata.

Tetap katakanlah yang baik atau diamlah jika belum mampu atau belum waktunya berkata baik. Bahwa solusi paling populer di dunia konflik percintaan, yaitu “berkomunikasi lebih banyak”, tidaklah menyelesaikan masalah malahan bisa memperburuk konflik

4. Konflik yang Sudah Tidak Dapat Diselesaikan dengan Diam, Selayaknya Meminta Bantuan Mediator Terdekat

Man And Woman Sitting On Bench
Foto: pexels.com

Mendorong orang lain untuk berinvestasi kepadamu lebih baik tanpa menggunakan cara-cara bocah seperti kode, ngambek, ataupun marah-marah. Dengan mendengarkan, kamu justru lebih banyak mendapatkan apa yang kamu butuhkan, dibanding berbicara, meminta, atau menuntut orang lain. Pahamilah dari sudut pandang pasanganmu terlebih dahulu sebelum kamu berbicara. Agar apa yang ingin kamu sampaikan bisa tepat sasaran.

Yang terpenting dari semuanya adalah bernegosiasi dengan pasangan yang menyebabkan win-win solution, karena win-lose solution dalam konflik hubungan sebenarnya sama saja dengan lose-lose.

Tentu semua bisa lancar jika tahu memilih waktu yang tepat untuk membicarakan konflik step by step flowchart untuk menangani konflik. Bagaimana tips negosiasinya dan kapan waktu yang tepat?  Tentu perlu bahasan lanjutan sahabat takaiters. Akhirnya cara jitu menghadapi konflik harus mau terus menerus belajar secara case per case.