Hai, Takaiters!

Bagaimana minggu terakhir di bulan Januari  2020 ini? Semoga baik, ya! Sejauh ini, mungkin kita masih asik-asiknya dengan kesibukan yang rutin. Awal yang baru setelah rehat memang punya andil bikin kita semangat banget, ya, enggak?

Tapi nih, di sisi yang lain dari keasyikan sibuk itu bisa jadi bukti. Bukti apa dulu? Ya, misalnya: kita belum mencapai apa yang dinamakan work life balance. Bicara tentang istilah itu, sebenarnya sudah pernah di bahas sebelumnya. Atau, bisa aja, nih, yang terlihat justru sebaliknya. Kita seperti kurang produktif belakangan ini. Hal itu karena terlalu mementingkan kehidupan pribadi sehingga tanggung jawab profesimu jadi terbengkalai.

So, bagaimana sebenarnya cara mendekat ke dalam keseimbangan antara kehidupan pribadi dengan urusan profesional kita yang sibuk?

Pahami Bahwa Work Life Balance Itu …

cara mencapai work life balance
Foto: hrmagazine.com

Oke, kalau sudah sampai paragraph ini, anggap saja kalau Takaiters setuju kalau work life balance itu penting. Namun, yang perlu dipahami sebelumnya adalah cara mencapai work life balance ini sebenarnya sulit untuk sampai pada kesempurnaan.

Ada banyak faktor yang membuat istilah ini jadi nampak seperti halnya mitos. Apalagi jika itu dikaitkan dengan kehidupan modern seperti sekarang ya, kan? Keseimbangan yang ditawarkan istilah ini sejatinya tidak menuntut Takaiters supaya ngedapetin ‘timbangan’ yang sempurna.

Agaknya, kita harus siap dengan jadwal-jadwal yang spontan, random, dan berbeda dengan rencana awal. Bahkan, ada sebagian orang menyebut istilah ini sebagai setengah mitos. Kenapa? Karena ukurannya itu tidaklah mutlak bagi setiap orang.

Mitos tetapi Layak Jadi Realita

Apakah work life balance itu mitos?
Foto: Pixabay

Walaupun punya sisi mitos, apa yang coba ditawarin sama work life balance boleh dibilang ada benarnya juga. Itulah yang membuatnya punya tapak kaki yang terjebak dalam antara. Ya, antara mitos dan hal yang penting untuk coba diterapkan.

Mitos yang ada akan semakin utuh kalau kita tidak koleksi cara untuk mencapainya dalam realita yang ada. Lewat poin ini, kita juga perlu tahu bahwa pencapaian pasti ada selipan kegagalan dan kamu pasti tahu kalau kegagalan itu adalah sesuatu yang tertunda, bukannya sebuah pemberhentian.

1. Mulailah Utamakan Kesehatan

peduli kesehatan adalah cara mencapai work life balance
Foto: rimma.co

Padatnya kesibukan tentu bukan cuma menguras energi, tetapi juga mendorong potensi stress dengan signifikan. Hal ini termasuk sebagai salah satu cara menyayangi diri kita sendiri juga, lo!

Ketika kita bisa mengutamakan kesehatan, kita  jadi lebih sadar kapan harus rehat, makan teratur, atau olahraga, misalnya. Yup, setiap rutinitas yang terus menerus itu memang perlu jeda, bukan?

2. Jika Ada Waktu Luang, Hiduplah!

Pentingnya konsep Work Life Balance
Work Life Balance. Foto: Pixelbay

Hal apa yang membuat kita ngerasa seperti lebih hidup? Dengan mengutamakan kesehatan, kita akan terdorong untuk memanfaatkan waktu luang yang ada sebaik-baiknya.

Ketika memang butuh istirahat, melakukan hobi, mempelajari hal baru, atau berkumpul dengan orang-orang tersayang, maka sempatkanlah semuanya di waktu luang. Namun, kita juga mesti selektif buat milih waktu yang pas, ya.

3. Manfaatkan Waktu Libur Sebaik Mungkin

cara mendapatkan waktu luang di sela kesibukan
Foto: pexels.com

Kita juga bisa, kok, mendapatkan waktu luang dengan prinsip “Teng … Go!”. Pulang kalau memang sudah waktunya atau coba menyelesaikan semua tugas di kantor supaya tidak terbawa sampai rumah.

Kalau lebih diperhatikan, waktu-waktu luang yang kita punya bisa jadi waktu libur. Waktu yang terbilang singkat ini pun bisa dimanfaatin sebagai celah. Apalagi kalau liburnya panjang, jelas bakal jauh lebih asyik lagi, kan?

4. Kita Semua Lelah, tetapi Jangan Tidur Terus!

Penyebab Kurang Tidur
Durasi Tidur Ideal. Foto: Pexels

Cara mencapai work life balance itu tidak sesederhana kedengarannya. Istilah tidak membenarkan kita untuk benar-benar menyeimbangkan antara porsi sibuk dan waktu leha-leha. Polanya jauh lebih kompleks dari itu.

Tujuannya lebih ke arah kapan kamu kerja dan tidak. Nah, tidak kerja di sini yang kompleks. Simple-nya, bukan berarti kita harus tidur setiap ada waktu luang atau libur sekalipun.

Waktu Luang Itu …

Manfaatkan waktu luang
Foto: pexels.com

Ya, kita tahu bahwa kita semua lelah. Namun, jika waktu luang selalu jadi waktu tidur ‘balas dendam’ atas kesibukkan yang ada sebelumnya, istilah mitos itu akan makin menjadi. Percaya, deh!

Karena gini, Takaiters … kata “life” dalam istilah itu enggak cuma menyerempet ke waktu istirahat yang salah satunya adala tidur. Kita tahu, kita semua lelah. Tetapi, tubuh kita itu juga enggak suka kalau harus tidur terus.

Menyeimbangkan porsi waktu kerja dengan waktu leha-leha itu adalah anggapan yang dirasa keliru jika berbicara soal work life balance. Elemen kehidupan pribadi itu bukan cuma soal jadi kaum rebahan paling sejati.

Dengan kata lain, waktu luang harus tetap produktif menghasilkan nilai antar lini, baik kesehatan, sosial, sampai pengembangan diri. Tidur memang salah satu hal yang paling menyenangkan, tapi kalau berlebihan juga; ada berapa banyak tentakel laba-laba yang terpotong?

5. Kurangi Kebiasaan Menunda Perkerjaan

Efek menunda-nunda pekerjaan
Foto: pexels.com

Kita mungkin sering bangetme ngeluh karena enggak punya waktu luang sama sekali. Akan tetapi, kita jarang banget notice kalau kita sebenarnya terlalu sering buat menunda-nunda tugas yang harusnya diselesaikan.

Penyakit menunda-nunda ini bisa jadi faktor yang bikin kita sulit dapat waktu luang. Di saat kita mestinya menyelesaikan tugas, perhatian kita malah beralih ke hal yang jauh dari urusan itu.

Biasanya, yang buat kita terdistraksi adalah gadget. Bunyi notifikasi ponsel itu candu, lo! Coba, deh, buat jauhi alat itu kalau kerjaan kita tidak memerlukannya. Selain itu, kalau memang perlu berkonsentrasi, hindari hal-hal yang bisa mengalihkan perhatian kita.

6. Biasakan Diri Buat Atur Skala Prioritas

skala prioritas bantu work life balance
Foto: pexels.com

Misalnya nih, menunda-nunda pekerjaan bukanlah kebiasaan kita. Lantas apa lagi yang mampu mengganggu kita untuk mendapatkan waktu luang? Jawabannya, bisa jadi karena kita justru kebanyakan kerja? Hmm …

Poin ini jadi penting dalam cara mencapai work life balance yang diharapkan. Di satu sisi, kita ingin punya kehidupan pribadi, tetapi porsi pekerjaan malah menumpuk dan enggak bisa diabaikan begitu saja.

Nah, untuk itu, coba, deh, buat skala prioritas sebelum memulai hari. Enggak apa juga kalau tugas ditunda kalau emang deadline-nya masih lama. Selain itu, mulai beranikan diri untuk bilang ogah kalau diminta mengerjakann pekerjaan yang sebenarnya bukan tugasmu.

Kita Bukanlah Naruto

ukuran work life balance
Naruto (Rambut Kuning). Foto: Boruto: Naruto Next Generations

Bukan cuma itu, kalau memang sudah jamnya pulang, ya, “sikat” kalau memang pas. Kalau bisa juga, tinggalkan semua tugas dengan status ‘kelar’ di tempat kerja. Di rumah memang lebih longgar, tetapi kalau di tempat kerja, tegaslah pada diri sendiri bahwa kita harus benar-benar produktif.

Kita bukan Kian Santang atau Naruto yang punya jurus Kage Bunshin. Jadi, mustahil buat kita berada di dua tempat yang berbeda secara bersamaan. Karena itu juga nih, menyesuaikan peranmu dengan tempatmu saat ini penting.

Namun, kalaupun kita adalah Naruto, kita bisa lihat bagaimana dia jauh dari cara mencapai work life balance di serial kartun Jepang, Boruto: Naruto Next Generations. Secara nih, sosoknya di serial itu memerankan sebagai pemimpin sebuah negara, sekaligus kepala keluarga.