Hola takaiters,

Kali ini aku mau share cerita tentang persoalan jodoh. Ketika kita di usia pertengahan 20-an, soal jodoh itu memang menjadi bahasan yang gak pernah bosan buat dibahas. Jodoh itu sama misterinya dengan kematian. Tak bisa ditebak kapan, dengan siapa, dan bagaimana awalnya bertemu. Namun dalam tradisi ketimuran yang kental yang pernah aku baca, soal jodoh tak lagi bisa dibawa santai. Ada usia kesepakatan yang dilabeli dengan ‘saatnya berumah tangga’. Melihat teman-teman sudah menikah dan banyak pertanyaan kapan nikah, membuat banyak orang kelabakan dan pusing tujuh keliling.

“Ketika Usia 22 lulus kuliah, bekerja, terus di usia 25 menikah.”

Hmm, saat masa remaja membuat rencana terasa begitu mudah sekali. Mungkin teman-teman yang sedang membaca artikel ini pernah berpikir dan membahas persoalan ini dengan teman akrabnya. Memang mudah sekali membuat rencana saat kita tidak tahu apa-apa. Kalau flashback ke masa-masa remaja dulu, jalan hidupmu pasti terlihat begitu tertata dengan baik.

Setelah sekolah, kuliah dan 4 tahun harus sudah lulus dan dapat gelar sarjana, kalau aku kurang dari 3 tahun karna aku ambil program D3. Kemudian mencari pekerjaan, lalu setelah 3 tahun bekerja kita sudah harus matang secara emosional dan pendapatan. Pada saat usia kita 25 tahun kita dituntut sudah harus berumah tangga dan waktu itu kita sangat optimis. Dan kita juga sudah mengerti alur hidup yang sudah sangat familiar sekali: Lahir – Sekolah – Kuliah – Kerja – Menikah – Punya Anak – Mati. Semua itu seperti sudah digariskan dan tak bisa kita gangu gugat lagi.

“Ketika usia sudah 25 tahun dan ternyata segalanya tak sesuai rencana”

Dan pada akhirnya, kita diminta untuk menerima kenyataan. Misalnya kini usiamu sudah melampaui angka 25. Namun yang kamu capai ternyata baru sekadar lulus kuliah dan bekerja saja. Pasangan belum punya, beberapa kali menjalin hubungan hanya berakhir kandas. Pernikahan pun masih terlalu jauh untuk diangankan. Apa yang salah? Padahal kamu sudah merencanakannya dengan begitu matang dan sederhana. Misal kamu juga bukan orang yang pilih-pilih pasangan. Tak perlu cantik atau tampan dan kaya, yang penting baik saja. Dan jawabannya sederhana: tidak semua yang direncanakan berjalan sesuai harapan. Hehehe

“Ketika sibuk mencari pendamping, sampai lupa memantaskan diri”

Pertanyaan kapan nikah yang makin sering terdengar, dan seolah-olah panik dikejar waktu, kamu terus sibuk mencari. Mulai dari minta dicomblangi teman sampai memakai jasa online cari jodoh. Saking sibuknya mencari seseorang yang pantas dan berkualitas, dan lupa bahwa kamu juga perlu memantaskan diri loh.

“Dia yang kamu cintai sepenuh hati, belum tentu itu jodoh mu, kamu bisa apa?”

Soal jodoh memang tidak bisa ditebak apalagi dipesan, cinta saja tidak cukup. sebab ada kalanya kita jatuh cinta begitu dalam, namun timbal baliknya tak sepadan. Kamu yang sudah yakin bahwa dialah yang digariskan, harus berlapang dada karena ternyata Tuhan memberi kejutan di akhir cerita. Dia yang kamu harap menjadi pelabuhan selamanya, ternyata hanya sekadar singgah saja. Hubungan yang lama dijaga mau tidak mau hanya bisa direlakan. Patah hati yang mendalam membuatmu bertanya-tanya tentang takdir Tuhan. Namun, bukankah masuk akal bila begitulah cara Tuhan memberitahukan rencananya?

“Sunrise itu hanya muncul di saat yang tepat”

Jodoh memang harus dicari, tapi tak perlu heboh dan memaksakan diri, karena nggak ada gunanya menunggu matahari terbit jam 2 dini hari. Jodoh perlu diusahakan, itu sudah pasti. Sebab jodoh tidak bisa datang sendiri. Tidak berarti pula, bila sudah jodohnya maka hubungan akan berjalan lancar jaya tanpa kendala tanpa tutup usia. Namun mengusahakan jodoh tidak sama dengan memaksakannya. Tak perlu terburu-buru dan tak perlu memaksakan apa yang memang belum waktunya.

“Fokuslah pada diri sendiri dulu”

Daripada sibuk mencari, lebih baik fokus memperbaiki diri. Karena mungkin saja jodoh mu belum datang karena kamu belum siap dengan dirimu sendiri. Kamu harus fokus untuk memantaskan dirimu sendiri dulu. Toh, pada akhirnya jodoh adalah cerminan diri.

Pertama-tama penuhi tanggung jawabmu pada diri sendiri, untuk menjadi lebih baik setiap hari. Jangan dulu berharap hubungan yang dewasa, bila kamu masih sering bersikap seperti remaja. Jangan dulu berharap ada yang datang menawarkan keseriusan, bila kamu juga tidak serius menjalani hidupmu. Jodoh datang di saat yang tepat. Karena Tuhan tahu kapan giliranmu tiba. Bila sekarang doa-doamu belum dijawab, tentu menurut Tuhan, kamu belum siap.

Jodoh tidak bisa diburu-buru. Karena jodoh tak bisa hanya disatukan oleh cinta, tapi juga rasa ‘klop” meski pendapat tak selalu berjalan. Santai saja, semua ada waktunya. Tak perlu tergesa-gesa, sebab memang butuh waktu untuk menemukan dia yang bisa diajak bekerja sama menyusun rencana dan menjalani masa depan yang indah. Sekian dan terimakasih, Takaiters jangan lupa tinggalkan jejak yah..