Hai, Takaiters!

HIV (human immunodeficiency virus) adalah virus yang merusak sistem kekebalan tubuh, dengan menginfeksi dan menghancurkan sel CD4. Semakin banyak sel CD4 yang dihancurkan, kekebalan tubuh akan semakin lemah sehingga rentan diserang berbagai penyakit. Jika tidak segera ditangani akan berkembang menjadi AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) sebagai stadium akhir dari infeksi virus HIV.

Pada tahap ini, kemampuan tubuh untuk melawan infeksi sudah hilang sepenuhnya. Sampai saat ini belum ada obat untuk menangani HIV dan AIDS, tetapi ada obat untuk memperlambatnya sehingga meningkatkan harapan hidup penderita.

Mendengar kata HIV AIDS pasti kamu sudah merinding, ya, Guys? Inilah yang membuat Orang Dengan HIV AIDS (ODHA) menjadi orang yang seringkali terpinggirkan dalam kehidupan bermasyarakat. Orang memandang jijik kepada penderita HIV AIDS, padahal penyakit tersebut belum tentu diderita karena kesalahan yang diperbuatnya.

Sebagian ODHA adalah orang-orang yang berperilaku baik, tetapi karena suami/istri atau ibunya adalah penderita HIV, mereka ikut menderita. Jika kamu mengenal seseorang yang menderita HIV, kamu harus memahami bagaimana penularan HIV  ini terjadi sehingga masing-masing pihak dapat mencegah perkembangannya.

Hubungan Seks

Foto: pexels.com

Hubungan seksual  dengan pasangan yang berbeda-beda menjadi salah satu sebab terjadinya penularan HIV. Penularan bisa terjadi dari laki-laki ke perempuan atau sebaliknya. Penularan HIV dapat terjadi saat hubungan seks dengan pasangan yang terinfeksi HIV. Salah satu stigma yang membuat penderita HIV dikecam dan dikucilkan adalah karena hubungan seks bebas ini. Kemudian penderita yang tidak bersalah seperti istri atau suaminya ikut menderita sehingga jalan terbaik untuk tidak tertular adalah memiliki pasangan tetap yang tentu saja sah secara agama dan hukum, Guys.

Jika salah satu pihak sudah menderita HIV, maka untuk mencegah penularan HIV adalah menggunakan kondom saat berhubungan seks dan untuk memutus rantai penularan, diharuskan menikah dan memiliki satu pasangan saja.

Penggunaan Jarum Suntik

Foto: pexels.com

Pada beberapa dekade, jarum suntik digunakan untuk banyak orang, berganti-ganti hingga benar-benar tidak dapat digunakan lagi. Dengan berkembanganya ilmu pengetahuan serta semakin banyaknya penyakit yang ditularkan melalui jarum suntik, maka jarum suntik hanya dapat digunakan satu kali untuk satu orang.

Kamu harus hati-hati, Guys, karena HIV dapat ditularkan melalui jarum suntik yang terkontaminasi dengan darah yang terinfeksi. Di dunia medis, jarum suntik dipastikan steril, tetapi pergaulan dan gaya hidup menjadikan kaum muda rela berbagi jarum suntik, seperti dalam penggunaan NAFZA dan pembuatan tatoo. Berbagi pakai jarum suntik atau menggunakan jarum suntik bekas, membuat seseorang memiliki risiko sangat tinggi tertular penyakit HIV. Jadi, mulai saat ini, berhati-hatilah dalam bergaul ,Guys. Bukan tidak mungkin kelengahanmu dalam pergaulan membuatmu menderita HIV.

Selama Kehamilan, Persalinan atau menyusui

Foto: unsplash.com

Seorang perempuan mungkin tertular HIV dari suaminya atau hubungan seksual dengan pasangan lainnya. Jika seorang perempuan menderita HIV maka penyakit ini akan diwariskan kepada anaknya. Ibu yang terinfeksi HIV dan mengandung atau menyusui berisiko tinggi untuk menularkan HIV kepada bayinya.

Untuk itu, berkonsultasi dengan dokter mutlak diperlukan sehingga dapat dilakukan pemeriksaan dan pengobatan HIV selama kehamilan, guna menurunkan risiko penularan HIV pada bayi. Sangat disayangkan jika seorang bayi lahir dengan HIV, karena penyakit ini sedikit banyak akan mempengaruhi tumbuh kembangnya. Penderitaan baik fisik maupun mental tentu akan dialaminya sepanjang hayat.

Donor Darah, Organ, dan Jaringan

Foto: motherandbaby.co.id

Dulu, dalam beberapa kasus penularan HIV dapat disebabkan oleh transfusi darah, donor organ, dan jaringan. Namun, dengan semakin majunya perkembangan teknologi dan prosedur uji kelayakan  yang semakin ketat, kejadian ini semakin jarang terjadi. Uji kelayakan donor, termasuk donor darah, organ ataupun donor jaringan tubuh memungkinkan penerima donor memiliki risiko yang rendah untuk terinfeksi HIV.

Jadi, jangan takut menerima darah orang lain saat memerlukan, Guys, karena saat ini Palang Merah Indonesia (PMI) sebagai institusi yang mengelola transfusi darah menjamin keamanan dan kesehatan darah yang akan didonorkan kepada orang lain. Yang harus kamu waspadai adalah jika kamu berada di negara yang belum memiliki fasilitas lengkap dan prosedur ketat dalam hal donor darah, organ maupun jaringan.

Sulam Alis, Tato Alis, dan Sulam bibir

Foto: djawanews.com

Sulam alis, tato alis, dan sulam bibir adalah trend anak muda sekarang ini. Meskipun sebenarnya cukup aman untuk kesehatan, tren kecantikan ini dapat menjadi cara penularan HIV jika dilakukan oleh petugas yang tidak berpengalaman atau berlisensi. Dalam hal ini penggunaan peralatan steril bersifat wajib karena adanya luka terbuka.

Sebelum disulam alis atau bibir, harus dipastikan bahwa semua peralatan yang digunakannya steril, khususnya pisau bedah dan jarum suntik. Minta petugas untuk membuka segel jarum dan pisau bedah di depanmu sebelum memulai dan minta ia langsung membuangnya di tempat sampah begitu selesai. Waspada itu penting, Guys, jangan sampai menjadi lebih cantik tapi menderita HIV.

Nah Takaiters, setelah memahami proses terjadinya penularan HIV, selayaknya kamu menerima ODHA sesuai dengan harkat dan martabatnya. ODHA juga manusia yang perlu menempuh pendidikan,  bekerja, dan bersosialisasi sesuai dengan kebutuhannya. ODHA juga bukan orang yang menjijikkan karena menjalani kehidupan seks bebas bukan satu-satunya cara penularan HIV. Adalah tugas kita sebagai manusia sehat untuk membantu dan memfasilitasi mereka agar dapat bertahan hidup.