Hai, Takaiters!

Pernah mendengar kata fobia? Tentunya sering, ya. Fobia merupakan rasa takut berlebihan terhadap suatu hal atau keadaan. Kita sering mendengar orang yang  fobia ketinggian yang disebut acrophobia atau mungkin di antara Takaiters ada yang mengidap nyctophobia, yaitu fobia kegelapan? Atau mengidap scoleciphobia, yaitu takut pada cacing? Mungkin terdengar aneh, tetapi itu belum seberapa.

Berbicara soal fobia tidak akan ada habisnya. Setiap manusia memiliki ketakutan terhadap hal-hal tertentu, bahkan tidak jarang ada beberapa orang fobia akan benda atau keadaan yang menurut orang lain biasa saja. Nah, pada kesempatan ini Takaitu akan mengulas 4 fobia terhadap keadaan alam yang jarang orang ketahui. Yuk, disimak!

1. Heliophobia (Fobia Sinar Matahari)

Foto: pexels.com

Mendengar fobia terhadap sinar matahari, kamu tentu membayangkan para vampire di film terkenal, kan? Fobia ini ternyata ada di kehidupan nyata. Orang yang mengalami heliophobia akan merasakan perubahan pada tubuhnya, ketika terkena sinar matahari atau cahaya lampu yang sangat terang.

Gejala ringan yang ditunjukkan adalah adanya perasaan tidak nyaman seperti gemetar dan mual. Pada fase tertentu, penderita akan mengalami gangguan panik yang luar biasa serta merasakan sensasi kulit yang terbakar akibat paparan matahari tadi. Padahal, jika dilihat secara langsung kulit mereka tidak benar-benar terbakar. Wah, seperti vampir di dunia nyata, ya, Takaiters.

2. Chionophobia (Fobia Salju)

Foto: pexels.com

Takaiters pernah bermain salju? Kebayang serunya, kan? Sayangnya tidak semua orang menyukai salju. Benda putih mungil ini tidak disukai oleh beberapa orang yang menderita Chionophobia.

Seperti pada penderita fobia lainnya, mereka akan mengalami gangguan panik ketika menjumpai salju. Disaat kebanyakan orang menikmati suasana romantis, penderita chionophobia akan membayangkan hal-hal berbahaya ketika salju turun.

3. Ombrophobia (Fobia Hujan)

Foto: pexels.com

Pada musim hujan, penderita Ombrophobia kerap memandangi langit untuk memeriksa datangnya hujan. Ketika mendung menyapa, mereka akan mengalami perubahan suasana hati. Tubuh gemetaran, denyut jantung cepat, sesak napas, dan lain sebagainya secara serempak datang menyerang sehingga mendorong mereka untuk mencari tempat persembunyian.

Hal ini tentu sangat berpengaruh pada kehidupan sehari-hari mereka. Bayangkan jika tiba-tiba hujan turun ketika penderita ombrophobia sedang berada di tempat umum seperti halte, pasar, lapangan, dan terminal. Untuk itu, penderita ombrophobia cenderung menarik diri dari kehidupan sosial.

Selain itu, penderita ombrophobia dapat mengalami fobia lainnya secara bersamaan yang dimulai dari nephophobia (fobia awan), nebulaphobia (fobia kabut), anemophobia (fobia angin), ceraunophobia (fobia petir), hingga lilapsophobia (fobia badai).

4. Iridophobia (Fobia Pelangi)

Foto: pexels.com

Pelangi-pelangi alangkah indahmu
Merah, kuning, hijau, di langit yang biru 

Ini adalah lagu yang tidak akan dinyanyikan oleh iridophobia. Kecantikan pelangi dengan 7 warna anggunnya menjadi sesuatu yang dapat memicu kecemasan mendadak, tangisan yang tak mendasar, peningkatan detak jantung, serta napas pendek bagi mereka. Bukan hanya pelangi yang terbentuk setelah hujan. Pelangi yang muncul ketika menyiram kebun atau karena genangan bensin pun, akan membuat mereka mengalami serangan panik.

Takaiters, jangan pernah mengajak penderita iridophobia untuk menikmati indahnya pemandangan setelah hujan, ya. Bahaya.

Itulah fobia-fobia terhadap keadaan alam. Terdengar aneh, tetapi begitulah adanya. Pada umumnya, fobia diakibatkan oleh trauma masa lalu. Jika fobia ini menganggumu, segeralah berobat. Takaiters, fobia bisa disembuhkan dan itu tergantung keinginanmu untuk sembuh. Semoga kita semua bisa lepas dari rasa fobia, ya.